Cara Unik Brigpol Mujiono Jaga Kamtibmas

Sambil memijat Brigpol Mujiono sampaikan pesan Kamtibmas kepada masyarakat di wilayah Polsek Kraksaan, Probolinggo.

Sampaikan Pesan Lewat Pijat, Lebih Mudah Dekati Masyarakat
Kab Probolinggo, Bhirawa
Ada banyak cara dilakukan personel kepolisian untuk menjaga Kamtibmas di wilayah hukumnya. Seperti yang dilakukan Brigpol Mujiono, anggota Polsek Kraksaan, yang menggunakan sarana pijat untuk pendekatan terhadap masyarakat. Tidak sedikit warganya bahkan dirinya menjadi pelanggan salah satu pengasuh Ponpes di Kraksaan.
Mempunyai keahlian bisa memijat sejak kecil, dimanfaatkan Mujiono untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Maklum Babinkamtibmas Desa Rondokuning, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo ini, baru sekitar empat bulan berdinas di wilayah hukum Polres Probolinggo. Sebelumnya ia berdinas di Polsek Gayungan, Polrestabes Surabaya. Dalam mempraktekkan pijatnya pun, ia tetap memakai seragam dinasnya.
“Alhamdulillah, saya diberikan amanah menjadi Babinkamtibmas. Sehingga saya kembali membagikan keahlian pada masyarakat. Sebelumnya, keahlian memijat saya sempat tidak dipraktekkan karena kesibukan dinas di Surabaya. Disini sambil memijat, saya menyampaikan pesan-pesan kamtibmas,” tuturnya.
Pria kelahiran 27 Mei 1978 itu menceritakan, dirinya awal praktekkan pijat itu di Masjid Ar-Raudhah Kota Kraksaan. Saat itu, selepas sholat Subuh, ada jamaah di masjid yang sholatnya terpaksa duduk di kursi. “Kemudian, saya coba pijat urat-urat di bagian kaki, punggung dan tubuhnya. Alhamdulillah, kaki jamaah itu bisa lurus dan ditekuk,” ungkapnya.
Setelah itu, Mujiono kemudian sering memijat orang saat berpatroli dan sambang warga. Saat memijat warga, ia lebih suka berada di tengah banyak orang. Selain menyampaikan pesan kamtibmas, cara memijatnya itu bisa dipelajari orang banyak dan langsung dipraktekkan. Karena, dirinya ingin keahlian yang dimiliki bisa dibagikan pada orang lain.
“Belajarnya otodidak, saat dipijat oleh mbah dan ibu diingat-ingat. Kebetulan beliau berdua merupakan tukang pijat. Akhirnya waktu SMP saya bisa pijat dan saya praktekkan ke teman-teman di mushola. Kebetulan, dulu masih kecil, biasa tidur di mushola,” terang pria asal Madiun ini.
Mujiono sendiri menjadi anggota Polri pada tahun 1998 silam. Saat itu, dirinya daftar di bintara, tapi tidak lolos saat pantukir pusat. Kemudian, dirinya langsung diterima sebagai anggota Polri satu tingkat di bawahnya, yaitu tamtama. “Awal saya dinas langsung di Polda Jatim,” ujarnya.
Kini beberapa kiai dan tokoh masyarakat menikmatinya pijatnya. Seperti KH Hafid Aminuddin, pengasuk Pondok Pesantren Saqo Rangkang. Bahkan sejumlah perwira di jajaran Polres pun biasa minta dipijatkan pada dirinya. “Keahlian saya memijat, saya gunakan untuk pendekatan dan mengenal di tengah masyarakat. Karena, tugas saya menjadi anggota Polri, harus bisa hadir dan diterima di tengah-tengah masyarakat,” tandasnya.
Kapolres Probolinggo AKBP Fadly Samad mengaku tidak melarang anggotanya mempraktekkan keahliannya. Apalagi keahlian itu digunakan untuk menunjang kinerja saat berdinas. Sehingga program kegiatan yang ditargetkan, yakni Kamtibmas yang kondusif di wilayahnya tercapai.
“Bagus, karena menjadi polisi itu harus bisa mengayomi dan melayani masyarakat dengan segala bentuknya. Tidak boleh kaku hanya pada ilmu kedinasan saja, harus fleksibel. Keahlian yang dimiliki juga bisa dimanfaatkan,” papar Kapolres.
Anggota polisi dengan keahlian memijat, tentu tidak banyak. Salah satunya Birgpol Mujiono. Langganannya mulai kiai hingga perwira. Punya keahlian memijat, juga membuatnya lebih mudah mendekati masyarakat. Maklum, sebagai Babinkamtibmas, ia juga butuh trik agar bisa diterima masyarakat. Saat Mujiono memulai memijat. Mujiono mengenali titik-titik urat dan titik mana yang harus dipijat.
Disaat diminta memijat, ia lebih memilih di kerumunan banyak orang. Sehingga, cara memijat itu bisa dipelajari orang banyak dan langsung dipraktekkan. Ia ingin keahlian yang dimiliki bisa dibagikan pada orang lain.
Awalnya diakui Mujiono, masyarakat ditawarkan pijat itu tidak mau. Hingga akhirnya, dirinya memilih menawarkan diri pada kiai dan tokoh masyarakat lebih dulu. Salah satunya KH. Hafid Aminuddin, pengasuh Pondok Pesantren Syeh Abdul Qodir Al Jailani (SAQA). Termasuk sejumlah perwira di jajaran Polres pun biasa minta dipijatkan pada dirinya, tambahnya. [Wiwit Agus Pribadi]

Tags: