Brigif Raider 9 Siap Tindak Anggota Jika Terbukti Menganiaya

Kapendam V Brawijaya Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto menerangkan terkait kasus penganiayaan wartawan yang diduga melibatkan oknum TNI, Kamis (5/7). [abednego/bhirawa]

(Dugaan Kasus Penganiayaan Oknum TNI Terhadap Wartawan)
Surabaya, Bhirawa
Brigade Infanteri Raider 9/Dharaka Yudha (Brigif Raider 9/Kostrad) berjanji mengusut tuntas dugaan kasus penganiayaan wartawan salah satu media di Jember Oryza Ardiansyah Wirawan oleh oknum anggota TNI, ketika meliput pertandingan sepak bola antara Persid Jember vs Sindo Dharaka di Stadion Jember Sport Garden, Rabu (4/7) lalu.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) V Brawijaya Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto mengatakan pihaknya berkomunikasi aktif dengan Komandan Brigif 9 Jember terkait kasus ini. Meski bukan masuk wilayah tanggungjawab Kodam V Brawijaya, Singgih mengaku terus melakukan komunkasi terkait masalah yang berkaitan dengan hubungan TNI dan rekan media.
“Saya menyesalkan peristiwa tersebut. Saat ini masih diselidiki oleh Sub Denpom V/3-2 Jember, apakah benar ada dugaan keterlibatan anggota TNI atau tidak,” kata Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto di Media Center Pendam V Brawijaya, Kamis (5/7).
Singgih menjelaskan laporan dari Danbrigif 9 menyatakan sudah dilaksanakan mediasi di Polres Jember. Mediasi ini dihadiri oleh Danbrigif 9, Dandim, Kapolres dan Sub Denpom V/3-2 Jember dan rekan-rekan dari media.
“Hasilnya, adanya permintaan maaf dari Danbrigif 9. Meskipun kasus ini masih diselidiki sejauh mana keterlibatan dari oknum yang disinyalir anggota TNI,” jelasnya.
Singgih mengaku, klub sepak bola Sindo Dharaka adalah klub bola lokal Jember, di mana para pemainnya adalah anggota campuran, yakni TNI dan masyarakat sipil. Adanya kasus dugaan penganiayaan ini, lanjut Singgih, Danbrigif 9 bersama Dandim setempat sudah membesuk korban, yakni Oryza Ardiansyah Wirawan.
“Tapi tadi ada permintaan maaf dari Danbrigif. Dan juga bersama Dandim sudah membesuk korban. Ke depan akan dilakukan tindakan hukum terhadap oknum-oknum yang terlibat di dalam penganiayaan tersebut,” ucapnya.
Kapendam menegaskan untuk terduga yang berasal dari oknum warga sipil, proses hukum akan ditangani oleh Polres Jember. Sedangkan jika ditemukan dugaan keterlibatan anggota TNI, proses penegakan hukum akan dilaksanakan oleh Sub Denpom V/3-2 Jember. Pihaknya pun berharap kejadian tersebut tidak mengganggu hubungan baik dan sinergi terhadap TNI di Jatim dan rekan-rekan media.
“Baik di satuan yang bersangkutan, akan memberikan tindakan-tindakan hukum yang diperlukan. Ke depan, kejadian ini sama-sama kita antisipasi. Intinya kita memelihara dan menjalin hubungan yang selama ini berlangsung dengan baik. Kami yakin apabila TNI dan media bersinergi, maka di Jatim akan semakin aman dan kondusif,” harapnya.
Jika memang terbukti ada keterlibatan oknum TNI, lanjut Singgih, di TNI mempunyai mekanisme di dalam penanganan-penanganan pelanggaran yang disinyalir melanggar hukum. Pihaknya meyakinkan bahwa kasus ini akan disidik oleh Pom, dan sejauh mana pelanggaran yang dilaksanakan itu akan mempunyai konsekuensi, baik hukuman badan maupun administrasi yang berpengaruh terhadap karir dan jenjang pendikan maupun kepangkatan.
Disinggung terkait sanksi pemecatan, Singgih mengaku, pihaknya masih menunggu proses hukum maupun penyelidikan oleh Pom. “Saya kira tidak sejauh itu, karena kita belum lihat fakta hukumnya. Tetapi yang jelas dari Danbrigif menjamin akan dilaksanakan penindakan hukum secara tegas. Dan rekan-rekan bisa mengikuti prosesnya secara langsung di Sub Denpom Jember,” pungkasnya.
PWI Jatim Desak Pengusutan
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) se-Jatim mengecam keras sekaligus mendesak agar aparat hukum mengusut tuntas tindakan penganiayaan terhadap wartawan media online yang sedang menjalankan tugas peliputan saat pertandingan sepak bola di Jember.
“PWI Jatim mengecam segala tindakan kekerasan apapun alasannya, apalagi terhadap wartawan yang sedang tugas menjalankan peliputan,” kata Wakil Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim, Kamis (5/7).
Menurut Lutfi, PWI Jatim akan melaporkan secara resmi aksi penganiayaan tersebut ke polisi dan ke pihak terkait, agar dilakukan sanksi tegas kepada pelaku.
“Kami sedang berkoordinasi dengan PWI Jember untuk kelengkapan bukti-bukti kekerasan. Karena korban juga anggota PWI,” kata Lutfil. [bed]

Tags: