BNN Bongkar Kasus TPPU Narkotika Jaringan Lapas Senilai Rp24 Miliar

Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko (tengah) menunjukkan barang bukti uang hasil TPPU dari bisnis narkotika, Selasa (31/7). [abednego/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) membongkar kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari bisnis narkotika. Ungkap kasus ini melibatkan jaringan lembaga pemasyarakatan (lapas) dengan total nilai aset mencapai Rp 24 miliar.
Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko mengatakan dari hasil pengungkapan pihaknya mengamankan lima tersangka yakni Adiwijaya alias Kwang, Army Roza alias BOBI (narapidana kasus narkotika di Lapas Tangerang), Ali Akbar Sarlak (warga negara Iran kasus narkotika di Lapas Tangerang), Tamia Tirta Anastasia alias Sunny Edward dan Lisan Bahar.
Heru menjelaskan konferensi pers sengaja dilakukan di Surabaya karena salah satu tersangka melakukan TPPU dengan membeli rumah di Jl Mulyosari Utara No 45 Surabaya. “Awalnya kasus ini terungkap dari kasus tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh Juvictor Indraguna. Dengan barang bukti berupa 8,3 kilogram sabu-sabu pada 4 Maret 2017,” kata Komjen Pol Heru Winarko, Selasa (31/7).
Dari kasus tersebut, lanjut Heru, PPATK dan Direktorat TPPU BNN kemudian melakukan pendalaman. Setelah dilakukan penyelidikan, petugas juga berhasil mengungkap transaksi aliran dana yang diduga berasal dari hasil bisnis narkotika. Guna mengaburkan hasil dari bisnis haram ini, tersangka melakukan modus operasi dengan menggunakan perusahaan money changer serta perusahaan bidang emas dan tembaga.
“Setelah didalami, ternyata perusahaan itu fiktif. Tujuannya untuk memudahkan melakukan transaksi keuangan antara para tersangka,” jelasnya.
Bahkan, sambung Heru, salah satu tersangka yakni Tamia sempat membuat identitas palsu dengan nama Sunny Edward. Tujuannya untuk membuka rekening di salah satu bank yang kemudian digunakan kekasihnya yaitu Ali Akbar. Rekening tersebut digunakan untuk melakukan transaksi perputaran uang hasil bisnis narkotika.
“Karena transaksinya memakai internet, banking, bitcoin, makanya modusnya berubah-ubah. Kami juga menyita apartemen dari kasus TPPU ini,” ucapnya.
Heru menambahkan TPPU ini bertujuan untuk memiskinkan tersangka agar tidak bisa kembali bisnis narkotika. Dari hasil pengungkapan tersebut diamankan juga beberapa barang bukti yakni satu rumah mewah, lima motor, lima mobil dan satu apartemen.
Tak cukup sampai di sini, pihaknya berjanji akan mengembangkan kasus TPPU ini. Terutama dalam menyelidiki dugaan keterlibatan pihak lain termasuk orang dalam lapas setelah adanya pengungkapan kasus TPPU narkotika jaringan lapas ini.
“Kalau dugaan keterlibatan kan ada yang menggunakan handphone dan lain-lain. Pastinya kita dalami dugaan keterlibatan itu, serta kita kembangkan,” tegasnya.
Dalam kasus ini para tersangka terancam Pasal 3, 4, dan 5 ayat (1) Jo Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman maksimal pidana penjara selama 20 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar. [bed]

Tags: