Bangun Literasi melalui Go Read

Santoso Mahargono

Santoso Mahargono
Memiliki prinsip hidup ‘Anfa’ahum Linnas’ yang berarti menjadi manusia bermanfaat bagi orang mengantarkan sosok Santoso Mahargono meraih predikat Pustakawan Teladan se Jatim dalam lomba Pustakawan Berprestasi tingkat Provinsi yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur. Itu karena ia menyodorkan gagasan Go Read dalam membangkitkan gairah literasi di kota ia mengabdi sebagai Pustakawan yaitu Malang. Santoso menjelaskan sebagai seorang Pustakawan sudah seharusnya ia bergerak ke masyarakat untuk memahami apa yang mereka butuhkan.
“Kalau kita turun ke masyarakat kita akan tahu apa yang mereka butuhkan. Dan apa yang akan kita perbuat untuk menjawab kebutuhan itu” Ungkap Ketua Forum Komunikasi Taman Baca Masyarakat (FKTBM) Malang Raya ini.
Lebih lanjut, dalam program Go Read yang ia gagas, Sarjana Ilmu Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini menjabarkan ada beberapa program mobilisasi layanan literasi. Diantaranya menjadi mediator atas kegiatan antara narasumber atau praktisi dengan pegiat literasi atau pengelola taman baca. Buka lapak atau melayani perpustakaan keliling di CFD, Alun-alun, taman kota serta bedah buku bulanan di cafe serta di angkutan kota (angkot). “Saya juga menggandeng teman-teman mahasiswa untuk menyediakan 12 Angkot Baca di Kota Malang untuk meningkatkan giat literasi di semua kalangan masyarakat” Papar Santoso.
Sehingga, tambah dia, Jadilah komunitas saya ini tidak hanya pengelola Taman Baca saja. Melainkan juga berisi para pegiat literasi yang juga diisi oleh para wartawan, dosen, mahasiswa, penulis, penerbit buku, pemangku pendidikan, pejabat dan seniman. Sebagai mediator tak jarang Santoso kerap di undang di berbagai acara pendidikan terutama literasi sebagai pembicara.
“Misal penyuluhan Narkoba, perdagangan manusia, bahaya merokok, masalah perundungan, dan masalah parenting. Sesekali saya hadir dalam acara tersebut untuk memotivasi pegiat literasi. Kegiatan ini semua gratis tidak berbayar dan boleh diikuti oleh siapa saja” Sambung Santoso.
Selain itu, diakui Santoso pihaknya juga menjadi motivator bagi pegiat literasi yang “hampir pingsan” dalam menggerakkan gerakan literasi. “Kini kegiatan konseptor, mediator dan motivator saya bagikan ilmunya kepada relawan saya yang tergabung dalam Go Read” Lanjut Pustakawan yang aktif sejak tahun 2010 ini.
Pria kelahiran Bojonegoro, 24 Juni 1976 menilai jika selama ini pustakawan hanya bergerak dalam dunianya sendiri, kurang berani melakukan inovasi di luar institusi. “Bisa dikatakan, mereka hanya mengikuti kegiatan melalui perpustakaan dimana dia bekerja” Tutur Santono
Misalnya saja, sambungnya, ketika pilang bekeena atau hari libur pustakawan tidak muncul di masyarakat yang sedang bergairah melaksanakan literasi. “Saya pernah membayangkan dokter saja bisa kerja di Rumah Sakit dan buka Praktek di Rumah. Mengapa pustakawan tidak bisa?” Sahut dia.
Oleh karenanya, sebagai seorang motivator dan konseptor motivasi itulah yang memacu Santoso untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dalam menggaungkan gerakan literasi. Meskipun diungkapkannya, akan ada konsekuensi jam non-dinas yang saya gunakan untuk masyarakat. “Saya keliling ke 145 Taman Baca yang tergabung dalam komunitas saya. Saya juga mendirikan perpustakaan kecil di rumah yang saya layankan dengan mengantar buku ke peminjam, selama peminjam berada di Kota Malang” lanjut Santoso
Menurut pria yang aktif sebagai anggota Sekretaris Ikatana Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Malang bahwa membaca tidak hanya melulu buku, majalah, koran dan materi cetak lain. Akan tetapi, juga melalui mendengar, melihat serta belajar langsung. Jika sudah terampil memahami bacaan, masyarakat bisa melanjutkan dengan menulis.
“Jika kedua dasar literasi (membaca dan menulis) sudah menjadi bagian cara berpikir, maka kita akan terlahir sebagai manusia literat yang mampu memneuhi dirinya sendiri dengan informasi,” tutur Santoso. Untuk itu Santoso menuturkan bahwa literasi dalah tanggung jawab bersama seluruh komponen anak bangsa dengan berbagai profesinya, apalagi yang berprofesi sebagai pustakawan. Masyarakat boleh berada di rangking paling bawah dalam hal literasi, tetapi tidak boleh diam atas keterlambatan perkembangan literasi.
“Mari bersama-sama membangun literasi dengan terjun langsung ke masyarakat, libatkan anak-anak sebagi generasi yang literat nantinya” Pungkas Santoso. [Ina]

Rate this article!
Tags: