Angin Gending Mulai Mengganas, Tangkapan Ikan Berkurang

Angin Gending mulai landa laut utara Probolinggo.

(Harga Ikan Laut Naik 50 Persen)

Kab.Probolinggo, Bhirawa
Harga beberapa jenis ikan laut di Kabupaten Probolinggo, merangkak naik. Penyebabnya, hasil tangkapan nelayan mulai berkurang. Sedangkan permintaan cenderung meningkat. Hal tersebut disebabkan angin gending mulai mengganas, harga ikan naik hingga 50 persen perkilogram.
Harga ikan medai misalnya, Rp 24 ribu per kilogram. Naik dari harga normal yang hanya Rp 15 ribu per kilogram. Sedangkan ikan lajang, Rp 17 ribu per kilogram. Sementara harga normalnya, Rp 8 ribu per kilogramnya. Bahkan, dalam tiga hari terakhir, tangkapan ikan makin berkurang. Biasanya sehari nelayan mendapat ikan 20 keranjang besar, saat ini hanya satu keranjang saja.
Sudarmo, nelayan Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Minggu 8/7 mengatakan, ikan berkurang karena pengaruh cuaca. Cuaca kemarau membuat ikan di perairan Probolinggo berkurang. Jika dihitung, ikan menurutnya akan berkurang mulai Mei sampai November. “Kalau musim hujan, di sini banyak ikan. Sekarang laut selatan yang sedang banyak ikan. Sebaliknya, kalau musim hujan, di laut selatan ikan berkurang karena kadar garam kurang,” terangnya.
Karena kondisi itu, tangkapan ikan turun hingga 80 persen. Saat kondisi normal, tangkapan nelayan bisa sampai 23 ton ikan sehari. Sementara saat ini, hanya bisa menangkap 2 kuintal sehari. “Padahal sekali berangkat, nelayan butuh uang Rp 25 ribu. Sekarang ini, hasil tangkapan ikannya hanya Rp 50 ribu sampai 70 ribu. Kalau musim hujan, bisa 10 kali lipat hasilnya. Bisa sampai Rp 1 juta sehari,” terangnya.
Memasuki pertengahan Juni, kecepatan angin di Kota Probolinggo mulai meningkat. Bahkan, kecepatan angin di Kota Probolinggo mencapai sekitar 50 kilometer per jam. Karenanya, warga diminta maspada. Ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo Gogol Sudjarwo mengatakan, kini Kota Probolinggo sedang musim angin gending. Namun, belakang ini terpaan angin gending tak sekencang dua tahun lalu.
Menurutnya, ini akibat perubahan cuaca dan suhu udara. Serta, tergantung tekanan udara di gunung dan laut. “Saat ini terbilang angin kencang. Namun, tidak sekencang dua tahun lalu yang sampai 60 kilometer per jam. Saat ini sekitar 50 kilometer per jam,” ujarnya.
Namun, Gogol tetap mengimbau warga untuk tetap waspada. Sebab, kencangnya angin dapat menimbulkan bencana lainya. Seperti, pohon tumbang. “Tetap waspada dan jangan berada di bawah tiang, pohon, atau bangunana yang rapuh,” ujarnya. Ia memprediksi, angin kencang ini akan terjadi hingga Oktober.
Probolinggo saat ini sedang dilanda angin Gending. Embusan angin gending bahkan mampu merobohkan banner dan ranting pohon. Kesyahbandaran Periakanan Probolinggo pun mengimbau nelayan mewaspadai angin gending saat ini.
Staf Kesyakbandaran Perikanan di UPT Pelabuhan dan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SKP) Sugeng Sutrisno mengatakan, angin gending sebenarnya tidak memengaruhi kondisi di lautan. Berdasarkan data BMKG Surabaya, tinggi gelombang laut Madura hanya 0,5 – 1 meter, terhitung tanggal 6 Juli. Artinya, angin di tengah laut tak begitu kencang.
“Angin di darat tak sekencang di tengah laut. Yang di darat ini adalah angin gending. Dan, itu tak mempengaruhi lautan,” terangnya.Namun, Sugeng tetap mengimbau nelayan mewaspadai angin gending. Sebab, bagaimanapun menurutnya, sifat cuaca tidak menentu. “Meski cuaca tenang, kami imbau agar nelayan waspada dan berhati-hati,” tambahnya. [wap]

Tags: