Anggota MPR RI H Sungkono: Kesenjangan Ujung dari Perpecahan

Anggota MPR RI, H Sungkono di sosialisasi 4 pilar

Sidoarjo, Bhirawa
Pemuda harus mulai berpikir, bagaimana mengambil peluang untuk menjadi mentor di bidang politik dan ekonomi. Dalam mengelola negara ini butuh tenaga terampil, cerdas dan mumpuni untuk menjadikan Indonesia terdepan sejajar dengan bangsa maju lainnya.
Sayangnya, model pendidikan di Indonesia justru membuka peluang generasi muda menjadi buruh. Sekolah formal kejuruan negeri dan swasta diperbanyak di mana-mana, disadari atau tidak justru kejuruan itu menciptakan buruh pabrik. Sekolah kejuruan memang diperlukan tetapi harus diimbangi dengan persiapan infrastrutur ekonomi dan politik untuk generasi muda.
Menurut Anggota MPR RI, H Sungkono dalam Sosialisasi Empat Pilar di depan ratusan kader IPM (Ikatan Pemuda Muhamadiyah) Surabaya dan Sidoarjo, persoalan bangsa Indonesia saat ini adalah kesenjangan kaya dan miskin. Kesenjangan antara kawasan timur dan barat. Kawasan timur merasa kurang mendapat perhatian, padahal Papua misalnya adalah daerah yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap penerimaan Negara.
Mereka yang mempunyai uang besar menjadi kepala-kepala daerah, menjadi wakil rakyat dan sebagainya. ”justru generasi muda yang pemikirannya brilian kurang mendapat tempat di posisi strategis di bidang politik dan ekonomi,” tandasnya. Sehingga penguasan ekonomi dikuasai segelintir orang, oligarki politik muncul di daerah-daerah,” terangnya.
H Sungkono mengingatkan, ujung dari perpecahan itu adalah kesenjangan. Ia juga tidak berhenti mensosialisasikan perlunya mengamalkan pancasila. Isi dan pesan pancasila harus dijalankan di kehidupan sehari-hari.
Ia mengajak semua elemen politik dan ekonomi untuk bersama-sama mengurangi kesenjangan dengan meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat. Bila ketahanan ekonomi masyarakat kuat, sekalipun barang dijual mahal akan bisa terbeli. Tetapi apabila ekonomi terpuruk, biarpun harga barang murah namun tidak terbeli.
Budaya pemuda yang mulai mengembangkan literasi dengan budaya membaca, menurut anggota MPR dari Tanggulangin, Sidoarjo, sangat positif. Tetapi harus aplikatif. Membaca buku saja tanpa menerapkan pelajaran dalam buku itu ya untuk apa. Buku itu bukan sekadar hiburan, tetapi materi dan intisari dari buku itu harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. ”Bangsa Jepang sangat maju, karena sejak lama sudah mengembangkan literasi buku,” tegasnya.
Namun Jepang tidak hanya membaca, tetapi juga menjalankan dalam kehidupannnya. Sebagai wakil rakyat, H Sungkono mengharapkan pemuda harus berdiri paling depan untuk membawa bangsa ini menuju kemajuan dan kemakmuran. Pemerintah juga harus mencarikan solusi pemuda agar dapat mandiri di bidang ekonomi. Kalau hanya mengandalkan jadi tenaga kerja saja, sampai kapanpun bangsa ini sulit maju. [hds]

Tags: