Alasan Jadi Korban, Eks Bacabup Jember Ngeyel di Persidangan

Terdakwa Maria Indriyani saat menjalani sidang kasus narkoba yang menyeretnya di PN Surabaya, Senin (16/7).

PN Surabaya, Bhirawa
Setelah sempat tertunda hampir sepekan lebih, sidang lanjutan kasus narkotika dengan terdakwa Maria Indriyani (56) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (16/7). Terdakwa yang juga mantan Bakal Calon Bupati (Bacabup) Jember pada 2015 ini terlibat dugaan kasus kepemilikan 7,25 gram narkoba jenis sabu.
Sidang yang digelar di Ruang Kartika II PN Surabaya dengan Ketua Majelis Hakim Harijanto ini mengagendakan pemeriksaan terdakwa. Dalam keterangannya di hadapan Majelis Hakim, Maria tetap bersikukuh dan mengaku dirinya menjadi korban politik.
“Majelis Hakim, saya tidak membeli barang (sabu, red) tersebut. Hanya dipinjami oleh seseorang bernama Kakak Item yang sebetulnya untuk menangkap dan menelisik jaringan narkoba di Jember,” kata Maria di hadapan Majelis Hakim PN Surabaya, Senin (16/7).
Selain memberikan keterangan tersebut, ia juga menunjukkan buku catatan jual beli narkoba jenis sabu itu beserta pemiliknya dengan didampingi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Rachman. Maria juga mengaku menjadi mata-mata Polsek Jember dengan dibantu oleh Mujiono yang juga anggota kepolisian.
Atas keterangan tersebur, anggota Majelis Hakim Sigit Sutryono menanyakan terkait peran terdakwa kenapa membantu penyidikan dari kepolisian untuk diserahkan ke BNN (Badan Narkotika Nasional). Sedangkan terdakwa tidak mempunyai surat tugas.
“Saudara ini masyarakat, bukan anggota. Jadi kenapa mau ikut penyelidikan, sedangkan terdakwa sendiri memakai sabu itu dan pernah divonis,” tanya Hakim Sigit.
Menanggapi pertanyaan itu, Maria tetap bersikukuh ingin melaporkan tiga hal yakni penggelapan, penipuan kredit dan peredaran sabu. “Saya ini adalah korban, Majelis Hakim. Korban dari politisasi pada 2016,” kilahnya.
Mendengar ucapan terdakwa, Hakim Ketua Harijanto tak bergeming, karena terdakwa dinilai berbelit-belit dan enggan mengakui kesalahan. Untuk itu, Hakim meminta untuk mendatangkan saksi yang meringankan apabila terdakwa mengaku ditipu itu. “Silakan menghadirkan saksi yang meringankan, jika saudara merasa ditipu,” ucap Hakim Harijanto.
Melalui JPU Nur Rachman, terdakwa akan berupaya mendatangkan saksi yang meringankan tersebut pada sidang selanjutnya. Bahkan dia mengaku kesulitan menghubungi saksi yang meringankan ini.
Seperti diketahui, Maria hendak mencalonkan diri sebagai Bupati Jember pada waktu itu. Pada pertengahan 2016 Maria divonis satu tahun penjara oleh PN Jember atas penyalahgunaan 0,06 gram sabu. Setelah menjalani vonis tersebut, naas kembali menimpa Maria, ia ditangkap pada 18 Oktober 2017 pukul 14.00 oleh Ditreskoba Polda Jatim di sebuah supermarket di Jember.
Saat itu Maria mengaku merasa dijebak oleh seorang DPO bernama Agustinus. Namun, di dalam surat dakwaan disebutkan Maria membeli barang haram tersebut sebanyak lima bungkus plastik berisi sabu dengan berat 7,52 gram seharga Rp 1,3 juta per gramnya. Akibat perbuatannya ini, Maria dijerat Pasal 114 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. [bed]

Tags: