Tujuan Akhir dari Ramadan

Novi Puji Lestari

Oleh :
Novi Puji Lestari
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Akhir pekan ini, arus mudik diperkirakan sudah dimulai. Itu artinya, tidak lama lagi, Lebaran atau Hari Raya Idulfitri 1439 H yang senantiasa dinanti oleh umat Muslim, akan tiba. Idulfitri dimaknai sebagai hari kembalinya kesucian diri dan kemenangan bagi umat Islam, khususnya bagi yang telah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh. Dalam kaitan ini, ibadat seperti puasa dan amal-amal Ramadan lainya hanyalah jalan untuk menuju tujuan yaitu pengamalan akhlak mulia.
Tujuan akhir ibadah-ibadah selama Ramadan adalah menuju fitrah kemanusiaan. Allah menciptakan manusia secara sempurna fisik, psikologis, dan spiritual. Manusia dilengkapi akal budi dan hati. Menurut Muhiuddin Hairi Shirazi (1997: 14) sebagaimana dikutip Abdul Mu’ti (2012), fitrah adalah sifat-sifat positif yang mendorong manusia berbuat kebajikan, sedangkan tabiat adalah sifat-sifat yang mendorong manusia berbuat jahat. Martabat manusia ditentukan kemampuannya dalam mempertahankan dan mengaktualkan sifat-sifat kemanusiaan yang mulia.
“Sungguh beruntung manusia yang membersihkan jiwanya. Sebaliknya, sungguh malang dia yang mengotori jiwanya” (Qs As- Syam: 9-10). Di dalam jiwa yang bersih terdapat pikiran dan hati jernih sebagai pangkal kemuliaan. Jiwa bersih akan mendorong kehidupan baik secara fisik, social, dan moral. Jadi dengan demikian, fitrah kemanusiaan pada dasarnya berdimensi ganda, yakni kesucian dan kekuatan. Jika keduanya dikembangkan secara simultan maka akan melahirkan insan fitri, yaitu manusia dengan kepribadian suci dan kuat.
Selama sebulan penuh kaum beriman menyucikan jiwa dari segala noda dan dosa, dengan meningkatkan hubungan vertikal dengan Tuhan, dan meningkatkan kapasitas diri, dengan menampilkan jati diri yang sejati sebagai manusia dengan potensi-potensi positif dan konstruktif, untuk kehidupan.
Kemenangan yang diraih kaum beriman yang telah berhasil menempuh pelatihan Ramadan adalah kemenangan dari jihad besar yang lebih tinggi nilainya daripada berperang di jalan Tuhan yang hanya merupakan jihad kecil. Mengendalikan hawa nafsu disebut sebagai jihad besar adalah karena pengendalian hawa nafsu adalah perbuatan yang sangat berat dan susah. Hawa nafsu memiliki kecenderungan destruktif sehingga manusia menyandang problema ambivalensi diri, yakni adanya kecenderungan ganda kepada kebaikan. Akibatnya, muncullah berbagai bentuk kerusakan dalam kehidupan masyarakat.
Bangsa Indonesia yang besar dan memiliki modal sosial dan budaya yang tinggi sekarang mengalami pergeseran dan perubahan. Jika dulu bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah-tamah, sekarang ada gejala sebagian anak bangsa cenderung pemarah, mudah tersinggung, dan kemudian menempuh jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Meraih akhlak mulia
Ramadan yang sebentar lagi kita lalui alias kita tinggalkan bukanlah tujuan terakhir. Ramadan hanyalah jalan dan tonggak pendakian menuju puncak atau tujuan. Puncak dan tujuan itu adalah meraih akhlak mulia. Menurut hemat penulis, berikut ini, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan rujukan barometer tujuan akhir dari Ramadan.
Pertama, keberagamaan sejati haruslah mampu membuahkan akhlak mulia. Namun, akhlak mulia dalam pandangan Islam tidak hanya mengenai nilai-nilai etika kesusilaan seperti berlaku baik, sopan, dan santun terhadap sesama, tetapi juga menyangkut nilai-nilai etos kesosialan seperti kerja keras, kerja keras, kerja sama, daya juang, dan daya saing serta orientasi kepada kemajuan dan keunggulan. Inilah kepribadian orang-orang yang bertakwa yang merupakan tujuan ibadah-ibadah Ramadan.
Kedua, tujuan akhir dari Ramadan adalah salah satu bentuk komitmen dan aktualisasi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran adalah mengembangkan hubungan cinta kasih terhadap sesama, baik melalui “mudik fisik”: pulang kampung untuk bersilaturahmi, bermaaf-maafan, dan berbagi maupun “mudik mental spiritual”: memulangkan kesucian hati dan pikiran menuju persaudaraan sejati, kerukunan, kekeluargaan, kebersamaan dan persatuan kebangsaan.
Ketiga, Ramadan yang telah sukses meraih kemenangan dalam melawan hawa nafsu dan sifat-sifat buruk sudah semestinya mampu berperan konstruktif dan beristikamah mempertahankan fitrah kemanusiaannya yang suci dan luhur, fitrah yang mencintai dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan: kejujuran, kebenaran, kedamaian, kebersamaan, kearifan, toleransi, kerukunan dan keadilan sosial bagi semua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Singkat kata, barometer tujuan akhir dari Ramadan dengan totalitas puasa yang dijalaninya (puasa perut, puasa pancaindra, puasa anggota badan, puasa hati, dan puasa pikiran dari hal-hal negatif) harus membuahkan integritas dan mentalitas manusia bertakwa yang sejati. Manusia bertakwa sejati adalah manusia yang selalu mendekatkan diri kepadaNya dan kepada sesamanya, jujur, setia kawan, berempati, rendah hati, sabar, memaafkan, toleran, selalu bersyukur, berbahagia, dan hidup penuh kerukunan. Saling memaafkan dan bersilaturahmi adalah kunci kedamaian hati dan kerukunan nasional. ***

Rate this article!
Tujuan Akhir dari Ramadan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: