Tol Fungsional Kertosono-Wilangan Dibuka 8 Juni

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo meresmikan pengoperasian Jembatan Widang di Kabupaten Tuban (foto atas). Gubernur Soekarwo juga meninjau tol fungsional Kertosono-Wilangan yang mempunyai panjang 38,7 kilometer. Dalam peninjauan itu, dapat dipastikan jika tol ini bakal berfungsi mulai 8 Juni 2018, dan dibuka satu arah dari Surabaya.

Jembatan Widang Resmi Operasi, Tonase Maksimal 40 Ton
Pemprov, Bhirawa
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo meninjau tol fungsional Kertosono-Wilangan yang mempunyai panjang 38,7 kilometer. Dalam peninjauan itu, dapat dipastikan jika tol ini bakal berfungsi mulai 8 Juni 2018, dan dibuka satu arah dari Surabaya.
“Kami sudah cek dan pastikan bahwa tinggal menyisakan jembatan Besuk ini saja. Selebihnya sudah cor penuh dan aman dilalui kendaraan mudik,” kata Gubernur Soekarwo, saat mengecek ruas tol fungsional itu, Rabu (6/6).
Dalam peninjauan ini, Pakde Karwo, sapaan karib Gubernur Soekarwo, didampingi Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim Ir Gatot Sulistyo Hadi MM, Kepala Satker Tol Solo Kertosono Agung Sutarjo, dan Pjs Bupati Jombang Setiadjit dan Pj Nganjuk Sujono meninjau kesiapan ruas tol fungsional itu.
Pakde Karwo menyampaikan apresiasi atas penyelesaian pembangunan infrastruktur jalan tol fungsional Kertosono-Wilangan sepanjang 38,7 km, termasuk penyelesaian Jembatan Besuk yang berada di atas Sungai Avur Besuk. Jembatan tersebut ada di antara Desa Bandar Kedungmulyo dengan Gondang Manis, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, yang dijadwalkan selesai Jumat 8 Juni dan beroperasi pada Sabtu 9 Juni mendatang.
Menurutnya, dengan beroperasinya tol fungsional ini sangat membantu para pemudik untuk menghindari kemacetan di jalur utama saat arus mudik dan balik tahun 2018. “Ini sebagai solusi mengatasi kepadatan mobilitas transportasi di jalan utama dari Surabaya ke luar kota,” ujar Pakde Karwo sambil menjelaskan jika tol fungsional Kertosono-Wilangan sudah difungsikan artinya jalur tengah hingga ke Ngawi semua dilalui tol saat mudik besok.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja (Satker) Tol Solo-Kertosono Agung Sutarjo menjelaskan, jalur tol fungsional Kertosono-Wilangan yang digunakan satu arah dari Surabaya hingga H+2. Apabila terjadi kemacetan, jembatan bailey yang berada di samping Jembatan Besuk juga akan dipergunakan. “Pada hari mudik dari timur ke barat keluarnya di Caruban, satu arah semua. Setelah H+2 dari barat ke timur bisa lewat jalan tol fungsional,” jelasnya.
Dijelaskan, untuk jalan tol fungsional, dioperasikan pada pukul 07.00-17.00 WIB. Apabila kondisi jalan pantura terjadi kemacetan, maka aparat akan mengalihkan ke jalan fungsional tadi. “Jam operasionalnya fleksibel. Intinya ruas jalan fungsional kita ini sudah cukup nyaman dan tidak membahayakan pengguna jalan,” katanya.
Setelah masa arus mudik dan balik selesai, Agung menargetkan, jalan tol ini bisa selesai dikerjakan atau tidak lagi menjadi fungsional sekitar Desember 2018. Untuk progres dari total Jalan tol Kertosono-Wilangan telah mencapai sekitar 73 persen. “Target pada kontrak selesai pada tahun 2019, tetapi kita sudah bisa menyelesaikan pada Desember 2018,” harapnya.
Saat kunjungan Pakde Karwo ini, jalan sudah dalam kondisi dibeton, dengan beberapa gundukan tanah masih dijumpai di sisi kanan dan kiri jalan dan lampu penerangan belum tersedia. Namun demikian, Agung menegaskan petunjuk jalan seperti spot light sudah tersedia saat pemanfaatan sebagai tol fungsional.

Resmikan Jembatan Widang
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo meresmikan pengoperasian Jembatan Widang di Kabupaten Tuban, Rabu (6/6), sehingga seluruh kendaraan bisa melewati jembatan sepanjang 260 dan yang ambruk pada Bulan April itu.
“Mulai hari ini (kemarin, red) sudah bisa dilalui kembali, sudah normal. Kendaraan bisa lewat seperti dulu lagi,” ujar Gubernur Soekarwo, usai meresmikan secara sederhana di tengah Jembatan Cincin ini, Rabu (6/6).
Pembukaan jembatan yang melintang di atas Sungai Bengawan Solo ini disaksikan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII Surabaya, I Ketut Dharma Wahana, Bupati Tuban, H Fathul Huda, Kadishub Tuban, Muji Slamet, Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Choliq Qunnasich, dan Polsek Widang.
Saat di lokasi, orang nomor satu di Pemprov Jatim itu juga sempat mengecek Jembatan Widang. Menurutnya, pengerjaan fisik pembuatan jembatan sekitar sebulan ini sukses dengan bagus. “Sudah, sudah bagus, sudah bisa dilintasi kendaraan,” katanya.
Jembatan Widang adalah jalur utama penghubung dua daerah, yakni Kabupaten Tuban dan Lamongan. Selain itu, jembatan tersebut merupakan akses penting jalur utama jalan nasional Surabaya-Semarang-Jakarta melalui jalur Pantura.
“Sekarang kendaraan sudah boleh melintas. Sudah bisa dilalui untuk mudik. Tapi kendaraan yang boleh melintas maksimal tonasenya yaitu 40 ton, di atas tonase tersebut akan ada tindakan dari Dinas Perhubungan,” kata Pakde Karwo, sapaan karib Gubernur Soekarwo.
Lebih lanjut Pakde Karwo menjelaska dari lima bentang jembatan Cincin semuanya sudah dites kemampuannya. Jembatan penghubung antara Kabupaten Tuban-Lamongan ini, hanya bisa dilalui oleh kendaraan dengan beban maksimal 40 ton.
Pada bentang ketiga sudah diberi yellow box, artinya kendaraan apapun tidak boleh berhenti. Sedangkan pada jembatan bentang 1,2,4, dan 5, diberi kotak putih tandanya truk tidak boleh menyalip. “Untuk yang kotak putih di sebelah kiri khusus jalur truk dan yang kanan untuk sedan/bus,” Gubernur yang juga ketua DPW Partai Demokrat Jatim ini.
Dengan tidak adanya jembatan timbang, Gubernur Jatim akan menyampaikan ke Kementerian PUPR supaya berkoordinasi dengan Kemenhub. Kalau jembatan timbang tidak segera dipelihara, bisa jebol semua jembatan dan jalan di Jawa Timur.
Ia menghimbau, karena beban maksimalnya 40 ton, maka truk tidak boleh beriringan kanan kiri. Prinsipnya adalah kehati-hatian, karena tidak mungkin ada petugas yang jaga sebelum jembatan timbang diaktifkan. “Kami sudah kirim surat 3 kali ke pak menteri, tapi belum ada jawaban,” tegasnya.
Jembatan Widang adalah jembatan penghubung Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, dengan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Jembatan ambruk sekitar pukul 10.45 WIB, Selasa, 17 April 2018.
Sementara itu, Kepala BBPJN VIII Surabaya I Ketut Dharmawahana menjelaskan, sebelum pembukaan jembatan, pihak BBPJN VIII telah melakukan tes pembebanan dengan melewatkan kendaraan bermuatan berat dengan total maksimal 40 ton. Setelahnya, dievaluasi kembali, apakah berdampak pada kondisi jembatan.
“Yang dikatakan jembatan berfungsi baik itu ketika dilalui kendaraan bermuatan berat jembatan turun sedikit, kemudian setelah dilewati kondisi jembatan kembali pada posisi awal. Artinya keelastisan jembatan berfungsi normal,” ujarnya sambil menambahkan pihaknya melakukan monitoring terhadap fungsi jembatan setiap dua minggu sekali hingga akhir tahun.
Seperti diketahui Saat kejadian ambruknya Jembatan Widang, ada 1 dum truk muat limbah smelter, 2 truk muat pasir, dan 1 unit kendaraan roda sedang melintas di jembatan kembar tersebut. Akibatnya, satu orang tewas setelah terjebak di dalam truk yang terjatuh ke Sungai Bengawan Solo. [iib,hud,rif]

Tags: