Radikalisme Sekitar Kampus

Sivitas Akademis terpengaruh radikalisme, telah terbukti di Riau. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menduga kampus (negeri) lain juga terpapar. Walau rekrutmen radikalisme bukan di dalam kampus. Namun kawasan sekitar kampus ditengarai telah dikunjungi mentor jaringan radikalisme. Kos-kosan mahasiswa menjadi incaran menyebarkan dakwah radikal, setidaknya berupa olok-olok ke-agama-an.
Mahasiswa menjadi sasaran dakwah radikal, “menumpangi” emosional pemuda. Juga disebabkan pemahaman ke-agama-an yang dangkal. Beragam kegiatan unit ke-rohani-an dijadikan ladang penyusupan radikalisme. Walau, mayoritas mahasiswa tersadar sebelum menjadi bagian sindikat radikalisme. Potensi ancaman (radikalisme) ini patut diwaspadai pimpinan perguruan tinggi. Maka diperlukan aksi sistemik Kemendikti Ristek, menghalau radikalisme dari kampus.
Aksi de-radikalisasi jajaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) perlu di-ikuti “bedah” radikalisme. Tidak perlu berdebat perihal definisi tentang radikalisme. Begitu pula, masalah sumber radikalisme, telah banyak dipapar berbagai ahli. Sumber radikalisme, adalah ketimpangan terhadap keadilan. Terutama pelaksanaan penegakan hukum, akses ekonomi, dan upaya kemakmuran kawasan (indeks ginie).
Penanggungjawab kampus (terutama Rektor), tidak perlu risau (dan gusar) dengan rilis BNPT tentang kampus yang terpapar radikalisme. Sebab, analisis BNPT bukan dibuat asal-asal-an. Melainkan melalui pengintaian cukup lama, selama bertahun-tahun. Bahkan masyarakat juga mengetahui keberadaan kelompok radikal di sekitar kampus. Maka rilis BNPT wajib didukung, dengan meningkatkan kewaspadaan. Karena radikalisme berpotensi menimbulkan kegaduhan sosial.
Sesungguhnya deklarasi anti radikalisme, telah dinyatakan kalangan kampus pada bulan Juli tahun (2017) lalu. Tak terkecuali PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan PTS (swasta), di Surabaya. Kalangan kampus patut lebih waspada, karena menjadi target rekrutmen calon anggota sindikat radikalisme (kiri maupun kanan). Deklarasi (perlawanan) kalangan kampus, sangat bermanfaat mempersempit pergerakan dan memutus rantai peng-kader-an terorisme.
Pimpinan perguruan tinggi, seyogianya bekerjasama dengan tokoh agama (ulama) berdedikatif untuk membentengi diri. Antaralain berupa fasilitasi kegiatan ekstra kurikuler ke-rohani-an. Terutama pemilihan ustadz (tutor) yang direkomendasikan oleh ormas ke-agama-an, dan MUI setempat. Tutor pembimbing kegaiatan ke-rohani-an kampus menjadi permasalahan paling strategis.
Kegiatan ke-rohani-an kampus, bisa menjadi target kelompok radikal. Karena umumnya, mahasiswa ber-perhatian terhadap masalah keadilan sosial dan HAM (Hak Asasi Manusia). Walau sebenarnya, sindikat radikalisme belum berhasil benar membujuk mahasiswa. Belum terdapat mahasiswa (aktif) yang terlanjur menjadi teroris. Tetapi harus diakui, sudah banyak mahasiswa “ber-empati” terhadap kelompok radikal aliran kiri (komunisme) maupun kanan (berlatar agama).
Aksi nyata anti radikalisme, seyogianya diikuti seluruh lapisan masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan dan ke-profesi-an. Terutama organisasi yang “dimuliakan” masyarakat. Antarlaian IDI (dokter), PGRI (guru), dan KNPI (pemuda). Aparat keamanan dan ketertiban (Polisi) bersama tokoh-tokoh agama, dapat mem-fasilitasi kebangkitan perlawanan terhadap radikalisme.
Di seantero pulau Jawa, diperkirakan terdapat 40 lembaga pendidikan agama (berkedok pesantren) di-indikasi radikal. Sepuluh diantaranya, berada di Jawa Timur. Disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di tiga kota pusat pendidikan utama di Jawa Timur (Surabaya, Malang dan Jember) telah terdapat lembaga pendidikan (non-formal) keagamaan di-indikasi radikal. Namun di pelosok daerah (pedesaan Gresik dan Banyuwangi) juga telah terdapat pesantren “nyeleneh.”
Sesungguhnya tidak sulit mendeteksi ajaran ke-agama-an radikal. Tanda-tandanya, hasl pengajaran di pesantren radikal sering bermusuhan dengan masyarakat sekitar. Bahkan seluruh ajaran yang tidak sesuai dengan dakwah radikal, dianggap bid’ah, sampai dituding kafir, dan thoghut (zalim). Dakwah radikali sudah sering menimbulkan kegaduhan sosial, berpotensi tawur sosial.
Kunci pemberantasan radikalisme, adalah kejujuran pejabat pemerintah (dan daerah) mengentaskan kemiskinan. Serta penegakan hukum yang adil tanpa suap.

——— 000 ———

Rate this article!
Tags: