Mei 2018, Nilai Tukar Petani Jawa Timur Naik 0,83 Persen

(Kenaikan Terbesar Terjadi di Sub Sektor Perikanan)
Pemprov Jatim, Bhirawa
Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada bulan Mei 2018 naik sebesar 0,83 persen dari 104,55 menjadi 105,42. Hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Teguh Pramono mengatakan, Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,88 persen dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,05 persen.
Jika dibandingkan dengan bulan Mei 2017, perkembangan NTP Bulan Mei 2018 (year-on-year) mengalami kenaikan sebesar 3,19 persen. Sedangkan NTP bulan Mei 2018 dibandingkan Desember 2017 (tahun kalender Mei) mengalami penurunan sebesar 0,96 persen. “NTP ini, merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah perdesaan,” kata dia, Kamis (21/6).
Dijelaskan juga, dilihat perkembangan masing-masing sub sektor pada bulan Mei 2018 terhadap bulan sebelumnya, semua sub sektor pertanian mengalami kenaiakan NTP. Sub sektor yang mengalami kenaikan NTP terbesar terjadi pada sub sektor Perikanan sebesar 1,39 persen dari 110,93 menjadi 112,47.
Selanjutnya, diikuti sub sektor Tanaman Pangan sebesar 1,34 persen dari 103,29 menjadi 104,68, sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,57 persen dari 103,54 menjadi 104,13, sub sektor Hortikultura sebesar 0,53 persen dari 100,55 menjadi 101,09 dan Peternakan sebesar 0,53 persen dari 109,00 menjadi 109,57.
Dipaparkannya, Indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,88 persen dibanding bulan April 2018 yaitu dari 140,71 menjadi 141,95, Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani pada semua sub sektor.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani tertinggi yaitu sub sektor Tanaman Pangan sebesar 1,24 persen, diikuti sub sektor Perikanan sebesar 1,08 persen, sub sektor Peternakan sebesar 0,85 persen, sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,55 persen, dan sub sektor Hortikultura sebesar 0,52 persen.
Sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani bulan Mei 2018 adalah jagung, tembakau, gabah, sapi potong, buah apel, ikan tongkol, kakao, ketela pohon/ubi kayu, pisang, dan ikan lemuru. Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani adalah kopi, bawang merah, cabai rawit, cabai merah, tomat, buah jeruk, buah salak, kol/kubis, lada/merica, dan cengkeh.
Kemudian, Indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golongan yaitu golongan konsumsi rumah tangga dan golongan biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM). Golongan konsumsi rumah tangga dibagi menjadi kelompok makanan dan kelompok non makanan.
Pada bulan Mei 2018, indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,05 persen dibanding bulan April 2018 yaitu dari 134,59 menjadi 134,65. Kenaikan indeks yang tipis ini disebabkan oleh turunnya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi perdesaan) sebesar 0,15 persen.
Sementara, indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) naik sebesar 0,35 persen, Indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) bulan Mei 2018 turun sebesar 0,15 persen dari 141,79 pada bulan April 2018 menjadi 141,58, sedangkan Indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) bulan Mei 2018 naik sebesar 0,35 persen dari 123,29 menjadi 123,73.
Sepuluh komoditas utama yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah telur ayam ras, petelur layer, daging ayam ras, bibit ayam ras pedaging, pelet, ketimun, benih gurame, kacang panjang, jagung pipilan, dan upah pemeliharaan.
Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan Mei 2018 adalah bawang putih, cabai rawit, tomat sayur, beras, cabai merah, bawang merah, bekatul, ikan pindang tongkol, mujair, dan bayam. [rac]

Tags: