Koperasi Kareb, Racikan Tembakaunya Ekspor hingga Eropa

Pekerja di Koperasi Kareb mewadahi tembakau ke dalam kardus setelah diproses redrying dan threshing. Jasa racikan tembakau koperasi ini mampu tembus ke Eropa.

Mengungkit Kontribusi Koperasi di Era Milenial (bagian – 1)

Oleh
Zaenal Ibad
Wartawan Harian Bhirawa

Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Jika bisnis itu dikelola secara profesional, niscaya bisnisnya akan berjaya. Itu pula yang dilakukan Koperasi Karyawan Redrying Bojonegoro (Kareb) yang racikan tembakaunya berhasil tembus pasar Asia, Afrika hingga Eropa dan sukses mengakuisisi perusahaan dimana Koperasi Kareb didirikan.
Kisah kesuksesan Koperasi Kareb bermula dari kerja keras 76 karyawan Perum Pengeringan Tembakau Bojonegoro (PPTB), yang berinisiatif mendirikan koperasi di perusahaan BUMN ini. Dengan modal simpanan pokok dan simpanan wajib serta mendapat donasi dari perusahaan sebesar Rp1 juta, Koperasi Kareb berdiri pada 1976 dengan unit usaha konsumsi dan kredit.
Pada 1979, Koperasi Kareb mendapat pengesahan dari pemerintah dengan Badan Hukum Nomor 4151/BH/II79 tanggal 10 Februari 1979. Dengan badan hukum ini, membuat Koperasi Kareb semakin berkembang dalam menjalankan bisnisnya. Dengan dana pinjaman perbankan, pada 1980 Koperasi Kareb nekat membeli satu unit mesin Green Leaf Threshing (GLT) processing atau pengeringan tembakau dari PT ITP (Indonesia Tobaco Processor) Pasuruan.
Unit jasa processing ini pun sukses dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 800 orang. Hal ini pula yang membuat terbentuknya kontrak manajemen antara Koperasi Kareb dengan PPTB berdasarkan persetujuan Menteri Perindustrian dengan Kepmen No 91/M/1981 tanggal 17 Januari 1981.
Tak puas hanya memiliki jasa processing, Koperasi Kareb lantas mendirikan unit usaha angkutan/transportasi pada 1981, dan industri kecil serta unit developer pada 1988. Sayang, dari tiga unit usaha ini yang mampu bertahan hingga kini hanya unit usaha angkutan/transportasi.
“Waktu itu yang kami kembangkan adalah industri marmer. Namun usaha ini tidak bisa berkembang karena banyak kendala. Seperti mahalnya biaya produksi tak seimbang dengan keuntungan yang didapat,” kata Ketua Koperasi Kareb H Hadi Prayitno, saat Bhirawa berkunjung ke koperasi yang beralamatkan di Jl Basuki Rachmat No 7, Bojonegoro.
Menurut Prayitno, rendahnya pengetahuan masyarakat Bojonegoro mengenai produk yang bernilai seni tinggi, turut menjadi penyebab susahnya memasarkan produk marmer yang diproduksi Koperasi Kareb. Dengan berat hati, akhirnya unit usaha industri kecil ini ditutup. Sementara untuk unit usaha developer juga tidak bertahan lama, karena manajemen memutuskan perumahan yang dibuat hanya diperuntukkan bagi anggota saja.
Akuisisi Perusahaan
Bermodal satu unit mesin GLT processing, Koperasi Kareb terus berkembang dan semakin berjaya. Sebaliknya, PPTB justru mengalami masa-masa sulit dan kembang kempis dalam mengembangkan usahanya. Akhirnya pada 1990 Koperasi Kareb mengakuisisi PPTB. Ini setelah keluar Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1990 yang mengeluarkan kebijakan melepas BUMN yang dianggap kurang potensial.
“Pola pembayaran pembelian PPTB dengan cara diangsur lima tahun dan tidak melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) terhadap 300 karyawan. Dengan pembelian ini, Koperasi Kareb menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang berani dan sukses membeli perusahaan dimana koperasi itu didirikan,” ungkapnya.
Di tahun 1990 pula Koperasi Karep membeli unit usaha GLT Tobacco, Solo milik PT Perkebunan XIX dengan cara pembelian kontan. Dalam akuisisi ini, Koperasi Kareb juga tidak melakukan PHK terhadap 350 orang yang sudah bekerja di GLT Tobacco, Solo.
“Namun dalam perkembangannya aset tersebut kita masukkan share atas pendirian Joint Ventura PT BAT Indonesia-Koperasi Kareb dengan komposisi modal 30 persen Koperasi Kareb, 70 persen PT BAT Indonesia. Dan pada 20 Januari 2006 aset tersebut kita lepas karena ketidakmampuan Koperasi Kareb untuk menambah ekspansi usaha,” tutur Prayitno.
Koperasi Kareb mendapat predikat Koperasi Mandiri pada 1994. Dengan predikat ini membuat perusahaan-perusahaan nasional yang terjun dibidang tembakau terpikat untuk menjalin kemitraan. Salah satunya PT HM Sampoerna yang bekerjasama pembuatan rokok sigaret kretek tangan (SKT). Jalinan kemitraan ini sejak 1994 dan berlangsung hingga sekarang.
“Alhamdulillah, dalam perkembangan usahanya Koperasi Kareb mampu bersaing dengan badan usaha lainnya di Indonesia. Ini tidak lepas dari kekuatan para anggota, pengurus dan karyawan Koperasi Kareb. Kami saling bersinergi dan mengisi dan tidak saling mencari-cari kesalahan. Kebetulan karyawan adalah anggota koperasi, jadi bisa saling mengontrol keberlangsungan koperasi. Kalau ada penyimpangan langsung kita korekasi,” ungkapnya.
Setelah dikelola secara profesional, Koperasi Kareb memiliki aset yang nilainya mencalai Rp200 miliar. Aset yang paling banyak berupa tanah yang luasnya mencapai 30 hektare. “SHU (sisa hasil usaha) setelah RAT (rapat anggota tahunan) 2015 sebesar Rp3,7 miliar. SHU itu dibagi anggota. Siapa yang paling sering hutang atau belanja ya yang paling banyak,” kata Ketua Koperasi Kareb masa bakti 2016-2018 ini.
Ke depan, lanjut Prayitno, Koperasi Kareb akan melakukan revitalisasi mesin processing. Sebab mesin yang sekarang dinilai kurang maksimal karena masih menggunakan mesin berbahan bakar minyak (BBM). Sedangkan pesaingnya, seperti perusahaan processing tembakau di Gedangan, Sidoarjo sudah menggunakan mesin berbahan gas, sehingga lebih menekan biaya produksi.
Kembangkan Retail Modern
Saat ini, Koperasi Kareb memiliki lima unit usaha yang semuanya masih aktif dan menguntungkan. Menurut Direktur Koperasi Kareb, Sriyadi Purnomo SE MM, lima unit usaha itu yakni unit jasa processing tembakau; unit jasa SKT; unit simpan pinjam; unit pertokoan, distributor center dan distributor serta unit angkutan/transportasi.
Untuk jasa processing tembakau, kata Purnomo, merupakan usaha lama sejak Perum PPTB yang berdiri pada 1 April 1971. Unit jasa processing sendiri jenis usahanya meliputi unit redrying yaitu, mengeringkan kembali tembakau dengan kandungan kadar air yang merata, mempromofir aroma dan keamanan penyimpanan dengan kapasitas 4.500 kg/jam. Kemudian unit threshing yakni, memisahkan dari daging daun dan gagang. Proses ini merupakan persiapan awal bagi produsen rokok dalam menyediakan bahan setengah jadi dengan kapasitas 5.000 kg/jam.
“Dalam jasa processing ini, Koperasi Kareb telah bermitra lebih dari 10 industri rokok di Indonesia. Baik yang kelas menengah dan kecil seperti Wismilak, Marcopolo, Djitoe dan Penamas,” kata Purnomo, yang juga menjabat sebagai Ketua Dekopinda (Dewan Koperasi Indonesia Daerah) Bojonegoro.
Tak hanya bagi industri rokok dalam negeri, jasa processing juga diminati industri rokok luar negeri. Setiap tahun ekspor tembakau redrying dan threshing hasil racikan Koperasi Kareb mencapai 200 kontainer per tahun. Yakni dikirim ke Polandia, Jerman, Inggris, Mesir, Amerika dan beberapa negara ASEAN.
Sedangkan unit jasa SKT, Koperasi Kareb telah bermitra dengan PT HM Sampoerna Tbk. Berkat kerjasama ini, Koperasi Kareb mampu menyerap tenaga kerja hingga 1.800 orang. Merk rokok hasil kerjasama ini bernama Sampoerna Hijau.
“Usaha jasa processing tembakau ini sangat menyerap tenaga kerja. Makanya saat ada isu harga rokok naik hingga Rp50 ribu, banyak karyawan yang resah. Sebab mereka khawatir akan kehilangan pekerjaan. Jika harga rokok Rp50 ribu per bungkus, pasti peminatnya akan berkurang drastis. Itu artinya produksi rokok juga akan menurun dan dampaknya pasti akan ada PHK,” ungkap Purnomo.
Selain unit usaha tembakau, Koperasi Kareb kini juga tengah menggenjot unit usaha pertokoan, distributor center dan distributor. Unit usaha ini diyakni memiliki prospek usaha yang cerah. Selain itu, juga untuk membendung menjamurnya pertokoan modern hingga ke desa-desa. Saat ini Koperasi Kareb baru memiliki lima retail modern di Bojonegoro dan satu di Pamekasan.
“Kita membuka pertokoan modern di kecamatan-kecamatan, yang bekerjasama dengan koperasi di Bojonegoro. Kita antisipasi persaingan pasar bebas. Permintaan retail modern saat ini sangat tinggi. Sehingga koperasi harus mampu bersaing,” ungkapnya.
Sementara untuk unit usaha lainnya, yakni unit simpan pinjam sudah dirasa manfaatnya bagi anggota dan karyawan dalam mengatasi kebutuhan yang sifatnya produktif, atau hal-hal yang sangat mendesak. Begitu pula dengan usaha angkutan/transportasi, saat ini Koperasi Kareb telah memiliki 11 dump truck dan 12 truk trailer. “Untuk usaha angkutan/transportasi kita telah bekerjasama dengan Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG),” katanya.

Tags: