Komitmen SMA Muhammadiyah 3 dan SMK St Louis 1 Surabaya

Kepala BNPT Provinsi Jawa Timur Soubar Isman pimpin deklarasi Pelajar Wani yang diikuti SMA Muhammadiyah 3 Surabaya dan SMK St. Louis 1 Surabaya

Semaikan Anti Radikalisme, Dua Sekolah Deklarasikan ‘Pelajar Wani’
Surabaya, Bhirawa
Deklarasikan diri menolak anti terorisme dan radikalisme adalah salah satu upaya menjaga keutuhan Bangsa Indonesia dari serangan proxy war. Terlebih lagi, fenomena penyerangan teror belakangan ini melibatkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Proses pencarian jati diri masih menjadi alasan kuat pendoktrinan terjadi di kalangan generasi muda. Oleh karenanya, untuk mencegah terjadinya paham radikalisme di lingkungan sekolah khususnya para pelajar dan anak-anak, SMA Muhammadiyah 3 Surabaya lakukan deklarasi anti radikalisme dan terorisme.
Aksi deklarasi ini juga diikuti perwakilan SMK ST. Louis 1 Surabaya. Kepala SMAM 3 Surabaya, Erlina Wulandari menuturkan jika aksi deklarasi yang dilakukan oleh siswanya dan SMK St. Louis 1 merupakan bentuk perlawanan siswa terkait dengan aksi teror yang berbalut isu agama.
“Aksi deklarasi pelajar wani ini sebagai wujud pelajar kami menangkal pendoktrinan paham radikal. Karena kejadian belakangan ini, paham radikalisme dan terorisme menyasar pada generasi muda khususnya pelajar,” ungkapnya. Lebih lanjut, dengan bergabungnya SMK St. Louis 1 Surabaya, ia ingin menunjukkan bahwa sekolah islam tidak seperti yang disudutkan dan dikaitkan dengan paham radikalisme. “Kalau sudah deklarasi dan duduk bersama kita tunjukkan bahwa kita melawan aksi terorisme tersebut. Ini juga upaya membuka pemikiran mereka tentang Islam yang cinta damai” paparnya.
Ia berharap dengan diadakannya aksi deklarasi anti terorime baik antara pihaknya dengan SMK St. Louis 1 terutama menyangkut agama, tidak menimbulkan kesalahpahaman diantara kedua nya. “Saya berharap tidak ada lagi stigma negatif tentang Islam. Dan mari kita jaga silaturrahmi dan tali persaudaraan ini dengan mereka” tandasnya
Sementara itu, kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) provinsi Jawa Timur yang juga pemateri dalam sosialisasi yang bertajuk “Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme”, Dr. Soubar Isman menjelaskan jika para pelajar dan pemuda menjadi sasaran empuk bagi teroris untuk merekrut anggotanya. Mengingat, ia menilai jika sifat generasi muda rentan akan ajakan-ajakan negatif.
“Kalau kita lihat sifat generasi muda katakanlah rentan. Ketika kadangkala mereka belum yakin dengan pemahamannya mereka akan dengan mudah menangkap pemahaman yang salah,” urainya.
Selain itu, lanjut dia, sikap ingin tahu terhadap suatu hal yang dimiliki generasi muda, juga mendorong generasi muda jadi sasaran target utama paham radikalisme.
Soubar Isman berharap dengan adanya sosialisasi dan deklarasi yang dilakukan oleh berbagai instansi pendidikan mampu membuat ruang sempit terorisme dalam melancarkan targetnya.
“Ke depan, saya berharap kita semua bisa menjaga ideologi pancasila sebagai dasar pemersatu bangsa. Sehingga nasyarakat Indonesia bisa hidup berdampingan dengan menjaga kerukunan umat beragama” harapnya usai deklarasi pelajar wani di SMA Muhammadiyah 3 Surabaya beberapa waktu yang lalu.

Perbedaan Agama Tidak Menghalangi Melangkah Bersama
Komitmen bersama menjaga NKRI meskipun berbeda latar agama yang dianut, tak menyulutkan semangat pelajar SMA Muhammadiyah 3 Surabaya dan SMK St. Louis 1 Surabaya untuk bekerjasama dalam memerangi pemahaman radikalisme dan aksi terorisme. Seperti yang dututurkan anggota pengembangan organisasi dan politik SMK St. Louis 1 Nicolas Tandoko bahwa masuknya paham radikalisme baik melalui dorongan faktor eksternal maupun faktor internal harus ditentang oleh semua pihak. Itu tidak lain sebagai bentuk menjaga keutuhan NKRI
“Jika kita mendapat pemahaman yang mencurigakan, kita harus diskusikan dengan orang yang lebih berpengetahuan di banding kita, guru misalnya atau orangtua” Tutur siswa kelas sepuluh ini.
Ia menilai jika aksi terorisne yang erat dikaitkan pada suatu agama belakangan ini, bukanlah sebuah hal yang patut disetujui. Menurutnya, perilaku terorisme tidak bisa dikaitkan dengan unsur agama manapun.
“Kami sebagai garda di sekolah kami, kami menghargai semua agama. Menjunjung Toleransi yang ada dan menghargai perbedaan pendapat. Sehingga kami menolak aksi terorisme di kaitkan dengan agama” Ujarnya.
Sementara itu, ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMAM 3 Surabaya, M Romadlon menyatakan jika pihaknya ingin memberitahu kepada siswa yang berbeda agama jika Islam bukanlah agama teroris. “Kita tekankan bahwa Islam cinta damai. Islam yang sebenar-benar nya adalah islam yang cinta damai” terang dia.
Lebih lanjut, dengan adanya sosialisasi yang tersebut toleransi antar umat beragama semakin tinggi. Karena, menurut Romadlon jika tidak ada toleransi diantara umat beragama maka disintegrasi akan terjadi. [ina]

Tags: