Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas di Jatim Menurun

(Anev 13 Hari Operasi Ketupat Semeru 2018 Polda Jatim)
Polda Jatim, Bhirawa
Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim dalam analisa dan evaluasi (anev) selama 13 hari pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2018 mencatat penurunan kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Jawa Timur. Dibandingkan pada 2017 lalu, jumlah kasus laka lantas pada 2018 turun sebanyak 44 %.
Dari data anev Ditlantas Polda Jatim tercatat kasus laka lantas pada 2017 sebanyak 699 kasus. Sedangkan pada 2018 turun menjadi 390 kasus. Disusul korban meninggal dunia akibat laka lantas menurun, dari 113 korban jiwa pada 2017, kini turun menjadi 45 korban jiwa.
“Jumlah kecelakaan lalu lintas turun sebanyak 44 persen dari 2017 lalu total kejadian 699 laka lantas. Tahun ini menurun menjadi 390 laka lantas,” kata Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Heri Wahono, Rabu (20/6).
Heri menjelaskan, jumlah korban meninggal dunia pada 2018 ini menurun 60 %, yakni sebanyak 45 korban jiwa. Sedangkan korban meninggal dunia akibat laka lantas pada 2017 sebanyak 113 korban jiwa. Sementara korban luka berat turun 32 % atau 47 korban pada 2018, dan pada 2017 sebanyak 70 korban luka berat.
“Korban laka lantas yang meninggal dunia pada tahun ini mengalami penurunan sebanyak 60 persen dibandingkan pada 2017 lalu. Disusul dengan korban luka berat turun 32 persen dan korban luka ringan turun 43 persen,” jelasnya.
Sedangkan untuk kerugian materi yang disebabkan dari kecelakaan, sambung Heri, angkanya menurun dari tahun lalu. Penurunan ini cukup besar yakni sebanyak 36 % dari Rp 955.875.000 pada 2017 menjadi Rp 616.025.000 pada 2018 ini.
Heri menambahkan, jumlah pelanggaran lalu lintas (Gar Lantas) juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dari data Operasi Ketupat Semeru 2018 sejak H-8 hingga H+3 Lebaran, jumlah Gar Lantas berupa tilang menurun menjadi 56 %. Pada 2017 jumlah tilang sebanyak 17.723. Sedangkan pada 2018 mengalami penurunan menjadi 7.750 tilang.
Sementara untuk Gar Lantas berupa teguran, masih kata Heri, trennya mengalami kenaikan menjadi 25 %. Pada 2017 Gar Lantas berupa teguran sebanyak 10.881, dan pada 2018 ini mengalami kenaikan menjadi 13.587.
“Tahun ini jumlah Gar Lantas turun menjadi 25 persen. Untuk tilang, turun sebanyak 56 persen. Hal itu berbanding terbalik dengan jumlah terguran pada tahun ini yang mengalami kenaikan sebanyak 25 persen,” tegasnya.
Sementara itu, dari data pelaksanaan 11 hari Operasi Ketupat Semeru 2018 mencatat jenis kendaraan bermotor (ranmor) yang terlibat dalam laka lantas masih didominasi kendaraan roda dua (motor) sebanyak 467 unit. Namun terjadi penurunan sekitar 42 % dibandingkan pada 2017 lalu yang jumlahnya 816 unit.
Di urutan kedua, kendaraan bermotor yang terlibat laka lantas ditempati oleh mobil penumpang sebanyak 69 unit pada 2018. Sedangkan di urutan ke tiga ditempati oleh mobil barang sebanyak 54 unit pada 2018.
Penyebab laka lantas tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Faktor manusia atau human error yang menjadi penyebab laka lantas. Penyebab utama yakni mendahului, berbelok dan berpindah jalur. Faktor tersebut jumlahnya 138 kasus. Di urutan kedua, yakni faktor tidak menjaga jarak, kemudian faktor mengantuk dan kelelahan. [bed]

Tags: