Jadi Terlengkap, Naskah Kuno Tambah Koleksi Perpus Jatim

Pustakawan bidang Akuisisi dan Ahli Media Perpustakaan Jawa Timur, Wahyu Dian Permana menunjukkan koleksi terbaru Perpus Jatim, yaitu Naskah Kuno Asli yang akan di luncurkan beberapa bulan ke depan.

Surabaya, Bhirawa
Sebagai sumber informasi dan fasilitas pendidikan non-formal, perpustakaan dinilai penting dalam menunjang kualitas pendidikan. Itu karena, perpustakaan menjadi media dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Selain itu, perpustakaan juga menjadi alat dalam melestarikan hasil budaya dan proses pembangunan suatu bangsa.
Salah satunya yang dilakukan Perpustakaan Jawa Timur. Di mana, dalam mewujudkan undang-undang nomor 4 tahun 1990 tentang serah-simpan karya cetak dan karya rekam dalam mewujudkan koleksi nasional dan melestarikan hasil budaya bangsa, Perpus Jatim akan resmikan Naskah Kuno untuk lengkapi koleksi yang dimiliki. Dijelaskan Pustakawan bidang Akuisisi dan Ahli Media, Wahyu Dian Permana jika penambahan naskah kuno merupakan bentuk dalam pengupayaan khazanah budaya bangsa.
“Naskah kuno ini bukti integrasi perpus Jatim dengan hasil budaya yang kita miliki. Naskah kuno ini akan berfokus pada situasi Jatim jaman dulu” jelasnya.
Rata-rata naskah kuno yang kami terima, lanjut dia, ada berisi tentang jaman Kerajaan, dan naskah kuno Pondok Pesantren (Ponpes) yang berlokasi di daerah Tapal Kuda. “Kita baru punya tujuh. Sebagian besar naskah kuno asli ditulis perorangan oleh pendiri dan beberapa dari tulisan pujangga” sahut dia.
Masih sedikitnya naskah kuno yang diterima, tambah dia, karena tidak sedikit orang-orang terkait yang masih menganggap naskah kuno sebagai alat pusaka.
“Sebenarnya ada banyak naskah kuno yang dititipka disini, namun karena beberapa memiliki ritual dalam penyimpanan dan kami tidak bisa mengikuti hal itu, mereka tidak berkenan” papar dia.
Dalam penerjemahan naskah kuno sendiri, Wahyu Dian Menjelaskan jika pihak perpus Jatim masih mengalami kesulitan dalam menemukan seorang filolog (ahli filologi, red) Jawa Timur – Belanda dalam menerjemahkan aksara Jawa Klasik.
“Kami sudah mencari filolog Jawa Timur Belanda hampir seluruh Jawa Timur. Tapi memang langkah keberadaan mereka. Bisa dibilang sudah tidak ada” papar Pustakawan yang sudah bekerja selama 27 tahun ini.
Sementara itu, agar tidak merusak bentuk fisik naskah kuno yang tersimpan di lantai dua perpus Jatim ini, pihaknya menyiapkan bentuk digital untuk bisa dinikmati oleh pengunjung. “Kami lakukan pen-scanan sekitar 1-3 menit terlebih dahulu untuk satu lembar. Setelah itu, tahap editing untuk bisa dinikmati melalui konten digital kami” terang nya.
Selain meresmikan naskah kuno, Perpus Jatim juga menggalakkan Dongeng Anak dan Remaja Keliling (Darling) yang di lakukan sejak 2012 yang lalu. Menurut Wahyu, Kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk memperkuat karakter anak Bangsa.
“Darling ini seperti membangun bangunan. Yang diperkuat adalah pondasinya dulu yaitu anak-anak. Menanamkam budaya baca sejak kecil akan membentuk karakter yang sesuai” ujar Wahyu Dian Permana
Sisi lain, lanjut dia, usia Golden Age di usia anak-anak akan mempermudah membentuk karakter sesuai cita-cita Bangsa. “Kita beri mereka kesadaran bahwa dongeng itu memberikan karakter. Selain itu melalui dongeng, emosional yang terjalin antara anak dan orang tua akan lebih tercipta” papar dia.
Ia berharap seiring dengan giat literasi yang di galakkan pemerintah dan kelengkapan buku yang dimiliki Perpus Jatim bahwa masyarakat harus lebih sadar jika membaca itu penting dalam membangkitkan emosi, kecerdasan, dan merubah ekonomi. “Dalam artian, semakin banyak orang membaca, hal itu juga akan mempengaruhi perubahan taraf hidupnya. Setidaknya, masyarakat kita dalam setaun bisa membaca sepuluh buku. Minimal 10 persen masyarakat Indonesia sadar membaca” Tandas Dia

Pelopori Lokal Konten, Siap Jadi Rujukan Perpus Seluruh Indonesia
Berada di posisi ketiga nasional dengan kategori inovasi pelayanan terbaik dari Kementerian dalam negeri, Perpustakaan Jawa Timur terus berbenah kualitas pelayanan dan kelengkapan buku. Terbukti, untuk menjadi perpustakaan terbaik dan terlengkap perpus Jatim melengkapi koleksi bukunya yang di beri nama Lokal Konten. Yaitu kumpulan buku yang berisi mengenai Informasi spesifik Jawa Timur, khususnya Informasi di setiap Kabupaten.
Pustakawan bidang Pengelolaan Buku dan Deposit perpus Jatim Sujarwo mengatakan koleksi lokal konten merupakan pertama di Indonesia. Koleksi lokal konten tersebut diisi oleh 38 Kabupaten di Jawa Timur, Madura, Walisongo dan Majapahit.
“Kami ingin memulai perpustakaan terlengkap dengan menyajikan Lokal Konten. Ini pertama kali ada di Indonesia dan kami ingin ini menjadi rujukan Informasi terlengkap yang dibutuhkan pembaca” Ungkap dia.
Lebih lanjut, Lokal konten sendiri berisi mengenai budaya, tokoh, sejarah, wisata, data statistika kabupaten kota, penelitian lama dan baru terkait daerah yang di tuju dan sebagainya. Sujarwo menjelaskan, tersedianya deposit lokal konten merupakan cita-cita perpus Jatim yang sudah di idam-idamkan sejak lama.
“Deposit ini menjadi bagian dari cita-cita perpus Jatim. Nantinya ini akan menjadi ikon khusus dan khas nya perpus Jatim” Jelas Sujarwo.
Jika kita bandingkan dengan perpus lain, lanjut dia, seperti perpus yang dimiliki Universitas mungkin secara koleksi buku umum mereka lebih lengkap. Berbeda dengan koleksi deposit konten lokal yang kami miliki yang tidak dimiliki perpus manapun di Indonesia. “Kita bilang icon karena mendapatkan lokal konten pun bisa dikatakan lebih sulit. Penerbitnya pun dari pemerintah sendiri” imbuh dia.
Koleksi deposit lokal konten sendiri, tambah dia, merupakan karya anak bangsa yang diterbitkan di Jatim. Koleksi lokal terlama di terbitkan pada tahun 1908 yang berasal dari pemerintahan kota Surabaya. Namun sayangnya, menjadi pelaksana pemula dalam menjalankan Undang-undang RI nomor 4 tahun 1990 dengan deposit kontan lokal bukan berarti tak menemui hambatan. Pasalnya, tidak semua daerah atau kabupaten menyumbangkan buku lokal yang menjadi andalan masing-masing kabupaten. “Keterbatasan penulis dan informasi menjadi kendala bagi kabupaten atau daerah dalam membukukan potensi lokal daerah nya” jelasnya.
Meskipun demikian, lanjut Sujarwo, pihaknya sudah melakukan giat sosialisasi sejak dua hingga tiga tahun yang lalu dengan menggandeng beberapa penulis lokal dan berbagai penerbit.
“Saya berharap, kedepan banyak penulis yang bekerjasama dengan kami. Sehingga masing-masing daerah atau kabupaten bisa melengkapi apa yang kami butuhkan untuk pelayanan masyarakat” pungkas Dia. [ina]

Tags: