Waspada Jelang Lebaran

Separuh akhir bulan puasa akan menjadi periode sibuk lalulintas di jalan raya. Angkutan umum penumpang, dan logistik meng-uber penghasilan jelang Idul Fitri, sering menjalankan kendaraan dengan kecepatan maksimal. Terutama pada jalan sepi, dan malam hari. Maka diperlukan kewaspadaan (dan kesabaran) berlalulintas di jalan. Tradisi Jawa juga wanti-wanti, tidak bepergiaan jauh selama bulan Ramadhan, kecuali sangat penting.
Waspada di jalan raya saat bepergian menjelang lebaran, telah menjadi wejangan orangtua kuno sejak lama. Menjelang lebaran banyak pengemudi terkesan tergesa-gesa, terutama angkutan umum penumpang maupun barang. Namun tergesa-gesa, bisa menyebabkan kecelakaan. Sudah terjadi kecelakaan (Ramadhan) di Brebes, seketika menyebabkan 12 jiwa melayang.
Kepadatan lalulintas telah meningkat sejak awal Ramadhan, terutama logistik arus angkutan bahan pangan, dan kebutuhan sandang. Peningkatan kebutuhan bahan pangan sesuai adat budaya. Yakni, meningkatnya ke-dermawan-an sosial, dengan memberi buka puasa. Serta penyelenggaraan buka bersama. Termasuk sajian (bagai hajatan) menjelang hari raya Idul Fitri yang diantar ke tetangga, dan handai tolan.
Di ujungnya, berpuncak pada perayaan Idul Fitri, dengan pembuatan aneka kue, dan berbagai menu sajian. Termasuk sajian (bagai hajatan) jelang hari raya Idul Fitri yang diantar ke tetangga. Seluruhnya memerlukan bahan pangan. Maka peningkatan kebutuhan bahan pangan pada bulan Ramadhan bukan disebabkan kemaruk (nafsu) makan setelah puasa. Melainkan ke-dermawan-an (dan kepedulian) yang meningkat.
Budaya merayakan Idul Fitri, juga menyasar peningkatan kebutuhan sandang. Ramadhan telah menjadi periode eskalasi belanja sandang. Seluruh toko sandang, supermarket sampai hypermarket dan mal, menggelar gerai pasar sandang. Idul Fitri menjadi puncak belanja sandang. Secara ke-ekonomi-an, tiada periode belanja bisa menandingi Idul Fitri. Sehingga pelonjakan belanja berkonsekuensi dengan arus distribusi. Lalulintas angkutan barang meningkat.
Tetapi pemerintah memberi batas pergerakan lalulintas angkutan barang. Kendaraan berat (truk gandar dua dan lebih) akan dilarang beroperasi bersamaan arus mudik dan balik lebaran. Telah diterbitkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 34 Tahun 2018 tentang Pengaturan Lalu Lintas pada Masa Angkutan Lebaran Tahun 2018. Kendaraan angkutan berat dilarang beroperasi mulai tanggal 12-14 Juni 2018. Serta pada arus balik lebaran pada 22-24 Juni.
Pemerintah daerah (Pemda) juga berpartisipasi menyelenggarakan angkutan mudik lebaran (dan arus balik) gratis. Bahkan angkutan khusus sepedamotor. Terutama Pemda propinsi di seluruh Jawa. Hal yang sama dilakukan oleh (ormas) Nahdlatul Ulama (NU) Banten, PW-NU Jawa Barat, Jawa Tengah, dan PW-NU Jawa Timur. Mudik lebaran, terasa lebih nyaman dan aman.
Budaya mudik (dan arus balik), kini menjadi tanggungjawab bersama pemerintah dan kelompok swadaya masyarakat, serta dunia usaha. Selain fasilitasi angkutan, beberapa akses keselamatan berlalulintas juga ditingkatkan. Misalnya, penyediaan rest-area pada tiap 10 kilometer. Kerapnya peristirahatan untuk meng-antisipasi kelelahan, akibat antrean panjang (karena macet). Mudik dua tahun lalu, kemacetan di jalan tol menyebabkan trautama mendalam.
Pemda seyogianya kukuh memeriksa kelayakan kendaraan, terutama angkutan umum. Pemeriksaan uji kir yang biasa dilakukan Dinas Perhubungan Kabupaten dan Kota, perlu diawasi (dan ditambah) secara uji petik di terminal maupun di jalan raya. Seluruh kendaraan wajib dalam kondisi layak jalan secara teknis (mesin), kelengkapan elektrolik serta karoseri.
Begitu pula pemeriksaan fisik pengemudi. Tes urine, patut dilakukan di dermaga pelabuhan kapal laut dan penyeberangan. Serta dilakukan di setiap bandara. Sebab, sudah terbukti banyak personel di balik kemudi moda transportasi, telah meng-konsumsi narkoba. Sebagian juga menenggak miras (minuman keras), dan minuman suplemen kebugaran.

——— 000 ———

Rate this article!
Waspada Jelang Lebaran,5 / 5 ( 1votes )
Tags: