Validasi Data Panen

Akhir Maret sampai April, menjadi puncak panen raya padi, tetapi tidak terdapat prediksi (yang memadai) tentang hasil panen. Bahkan hasil panen yang telah dimulai sejak akhir Januari (2018) hingga April, terasa masih sangat kurang untuk mencukupi konsumsi beras dalam negeri. Maka wajar, pengadaan beras masih memberi peluang impor. Walau Kementerian Pertanian telah menjamin swasembada, sampai surplus beras, bisa ekspor.
Berdasar data (hasil revisi tahun 2017), konsumsi beras nasional per-kapita sebanyak 114,6 kg (kilogram) per-tahun. Maka untuk 262 juta jiwa penduduk Indonesia dibutuhkan 30.025.200 ton (digampangkan menjadi 30 juta ton). Sedangkan panen sejak bulan Januari hingga Maret (2018), hanya menghasilkan sebanyak 15,5 juta ton beras. Hasil ini masih sekitar 51,62% total kebutuhan beras nasional.
Terdapat komunikasi (informas data) yang tidak tuntas, sehingga masih memicu spekulasi impor. Karena tidak mudah memenuhi kebutuhan beras, dengan mengharap panen parsial sampai akhir tahun 2018. Ketersediaan air pada musim tanam selalu diawali bersamaan dengan musim hujan cukup kuat (sekitar November). Sedangkan musim tanam pada bulan April, dan Mei, sangat jarang dilakukan, karena saluran irigasi tidak cukup mensuplai air.
Pada musim kemarau, biasanya petani berganti menanam palawija. Lahan padi akan berubah menjadi hamparan jagung, kedelai, atau singkong. Ganti tanaman sebagai jeda, sekaligus periode pergantian hara (alamiah) dalam tanah. Berkait dengan penggunaan ragam pupuk yang digunakan petani. Maka ganti tanaman, merupakan siklus wajib kecocokan unsur tanah dengan iklim. Bahkan lahan akan rusak manakala hanya ditanami padi sepanjang tahun.
Manfaat lain pergantian tanaman, adalah keragaman ketersediaan pangan. Misalnya, jagung, kedelai dan singkong, harus tersedia sebagai bahan aneka pangan. Begitu pula pakan ternak, sebagian diperoleh dari dedaunan palawija yang lebih kaya protein. Bahkan di pulau Jawa, dikenal tiga kali ragam cocok tanam. Yakni, padi, palawija, dan tebu. Ketiganya dapat diandalkan sebagai penghasilan petani, ditambah hasil ternak.
Maka panen raya padi, telah terjadwal rutin setiap bulan Januari hingga April. Beriringan dengan melemahnya intensitas musim hujan. Sebagai pembandingan, panen raya bulan Januari hingga April 2015, ditaksir menghasilkan sebanyak 68 juta ton gabah kering giling (GKG). Sedikit turun dibanding tahun 2014. Biasanya, sekitar 57% GKG akan menjadi beras. Maka panen raya tahun 2015 menghasilkan sekitar 39 juta ton beras.
Konsumsi beras (kalkulasi standar tahun 2015 – 2016), sebanyak 139 kg per-kapita se-tahun. Dengan perkiraan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 256 juta jiwa, maka dibutuhkan sebanyak 35,584 juta ton. Dus, tahun 2015 surplus beras sekitar 3,5 juta ton, sebagai “stok” cadangan beras. Ditambah hasil panen raya tahun 2016, dan tahun 2017, maka selama dua tahun itu Indonesia tidak perlu impor beras. Pada tahun (2018) ini, areal tanaman padi seluas 15,4 juta hektar.
Kalukulasi produk panen raya, biasanya menggunakan “kurs tengah” hasil per-hektar. Berkisar 7,5 ton hingga 10,5 ton. “Kurs tengah” ditaksir setiap hektar menghasilkan 8,8 ton GKP (Gabah Kering Panen). Maka dari 15,4 juta hektar sawah akan dihasilkan sebanyak 135,52 juta ton GKP. Begitu pula asumsi (kebiasaan) sekitar 57% GKP akan menjadi beras, maka akan dihasilkan sebanyak 77,24 juta ton beras. Inilah harapan panen raya sepanjang Januari hingga April 2018.
Indonesia sebagai peng-ekspor beras, bukan mimpi. Sebagian daerah sentra beras “diam-diam” telah ekspor beras ke negeri tetangga. Diantaranya, beras kualitas premium (mahal) asal Banyuwangi telah diekspor ke Malaysia sejak tahun lalu.
——— 000 ———

Rate this article!
Validasi Data Panen,5 / 5 ( 1votes )
Tags: