Tujuh Alumninya Prodi Syariah UMM Jadi Calon Hakim

Gapai mimpi bersama, lima dari tujuh Cakim alumni UMM. (kiri ke kanan) Risky Fajar Sani penempatan Pengadilan Agama (PA) Sukamara, Ari Ferdinansyah (PA Martapura OKUT SUMSEL), Mi’rajun Nashihin (PA Talu Sumatra Barat), Rendra Widyakso (PA Gorontalo), Zulkarnaini (MS Blangkejeren Aceh Tenggara)

Kota Malang, Bhirawa
Tujuh alumni Program Studi (Prodi) Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) berhasil menjadi calon hakim pada Penerimaan Calon Hakim (Cakim) yang digelar Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan BR) bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Mahkamah Agung, beberapa waktu yang lau.
Kabar baik itu disampaikan Ketua Prodi Syariah, Idaul Hasanah, S.Ag, M.HI, kepada sejumlah wartawan Kamis 24/5 kemarin.
Alumni Prodi Syariah UMM yang lolos tersebut adalah Mi’rajun Nashihin, Zulkarnaini, Risky Fajar Sani, M. Khusnul Khuluq, Ari Ferdinansyah, Khoirunnisa’ Putri dan Rendra Widyakso.
Sejak pertengahan Februari lalu, ketujuh orang ini mulai mengikuti diklat prajabatan bersama 1.577 Cakim di Pusat Diklat MA, Megamendung, Bogor.
Salah satu alumni Rendra Widyakso menyampaikan, sebelum mengikuti pelatihan, para Cakim telah melewati proses seleksi yang terdiri dari dua tahap. Pertama ujian kemampuan dasar menggunakan Computer Assisted Test (CAT), di mana ada materi kewarganegaraan yang diujikan. Jika dinyatakan lolos, pada tahap kedua peserta menghadapi Ujian Kemampuan Bidang meliputi bidang yang dipilih.
“Materinya Hukum Perdata, Hukum Acara Perdata, Hukum Pidana, Hukum Acara Pidana, psikotest, wawancara, dan membaca kitab kuning,” terang Rendra yang lolos melalui jalur mahasiswa lulusan terbaik ini.
Rendra yang sebelumnya menempuh Prodi Twining Program Syariah dan Hukum di UMM ini berhasil lulus dengan predikat summa cumlaude dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Sarjana Syariah 3,96 dan 3,91 untuk Sarjana Hukum.
“Dulu ibu saya pernah bilang, kalau tidak menjadi lulusan terbaik, bapak dan ibu tidak akan hadir ke wisuda saya,“ kenang Rendra saat diminta menceritakan resep keberhasilannya di bidang akademik.
Meski Rendra tahu perkataan ibunya itu hanyalah candaan, nyatanya ‘ancaman’ itu punya dorongan tersendiri bagi laki-laki kelahiran Jember dua puluh lima tahun silam ini.
Berkat lulus dengan predikat sangat memuaskan itu, Rendra saat ini magang di Pengadilan Agama Kelas 2 Gorontalo. Rendra yang juga seorang aktivis ini juga ingin menunjukkan bahwa aktif di kegiatan ektrakulikuler tidak lantas menjadi alasan terbengkalainya sisi akademik.
“Saya ingin membuktikan kalau seorang aktivis tidak seperti anggapan pada umumnya, entah terlambat lulus atau tidak pernah jadi yang terbaik. Ini agar jadi contoh untuk adik-adik aktivis yang lain,” pungkasnya. [mut]

Tags: