Puasa tapi Buka Sosmed Bersyahwat

Choirul Anam Jabar

Oleh:
Drs H Choirul Anam Djabar
Ketua Jam’iyah Tilawatil Quran Provinsi Jatim

Tidak terasa, bulan agung telah menyapa kita kembali. Satu yang harus mendapatkan porsi perhatian special dari kita adalah, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya.
Rasulullah SAW mengingatkan:_”Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya)”.(HR. Bukhari).
Orang yang menahan lisannya dari gibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi. Inilah realita mayoritas masyarakat, ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan.
Kalau dikaitkan dengan masalah yang lagi ngetren, relevan, dan actual saat ini bisa juga dihubungkan dengan keberadaan HP atau komputer yang di dalamnya terdapat media social (Medsos). Kita harus segera mengakhiri untuk melihat, memposting, mengeshare, mengaplud, atau menikmati hal-hal yang bisa mengundang syahwat. Jangan sampai saat puasa kita melakukan hal-hal tersebut. Kita harus bertekad, mulai saat ini dan seterusnya adalah momentum untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh agama.
Umar bin Abdul ‘Aziz pernah ditanya tentang arti takwa: “Takwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram,” jawab beliau. Para ulama menegaskan, inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampur adukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai takwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah.
Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang.
Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’ (hubungan suami istri), ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya.
Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa. ***

Rate this article!
Tags: