Puasa Melatih Kecerdasan Sosial

Asri Kusuma Dewanti

Oleh:
Asri Kusuma Dewanti
Pengajar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Melalui bulan puasa Ramadan, setiap kita muslim dilatih agar menjadi insan yang mampu merasakan derita sesamanya, dengan begitu diharapkan kita mampu melahirkan sikap ta’awun, yakni semangat saling menolong dan bekerja sama dengan orang lain secara tulus dan baik.
Artinya, jika posisi kita orang kaya, kita harus mampu berbagi dengan saudara kita yang kurang mampu atau miskin. Sedangkan, jika kita berilmu, kita harus mampu berbagi atas ilmu yang kita miliki pada saudara kita yang sedang membutuhkan. Masih banyak yang bisa kita lakukan di bulan ramadan, yang jelas semua adalah menggiring kita pada upaya atau perbuatan yang bisa bergunan pada saudara kita.
Semangat ta’awun atau tolong-menolong dan saling bekerja sama sendiri merupakan perintah dalam Islam. Allah berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS al-Maidah: 2). Ajaran ini sangat mulia karena setiap Muslim diajarkan untuk mau ber-ta’awun dengan siapa pun dalam hal-hal yang baik, sebaliknya jangan bekerja sama dalam segala keburukan.
Melalui kehidupan sehari-hari, tidak jarang ada yang bekerja sama untuk sesuatu yang buruk dan merugikan orang lain. Karena kepentingan-kepentingan duniawi yang sifatnya sesaat, sebagian orang saling berdusta dan mengembangkan hal-hal yang negatif yang menjatuhkan orang lain.
Sementara, orang juga sering tidak bersikap adil dan baik, tidak toleran, dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama karena yang bersangkutan mengejar nafsu dunia. Selain itu, tampak terjadi erosi dalam kehidupan bersama, seperti egoisme, membantu karena pamrih, hedonis atau memuja kenikmatan dunia, sikap acuh tak acuh, kepura-puraan, dan lain-lain.
Oleh sebab itulah, setiap muslim yang berpuasa akan mampu menjaga dirinya untuk menyemaikan benih-benih ta’awun membangun solidaritas sosial yang bersih dan baik dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia kemanusiaan universal. Sikap ta’awun yang serbautama tersebut harus ditanamkan dan disebarluaskan di seluruh lapisan masyarakat, termasuk di kalangan anak-anak sebagai generasi umat dan bangsa.
Jadi sangatlah jelas bahwa bulan Ramadan adalah bulan pengembangan kecerdasan sosial, dan membiasakan shaimin untuk gemar berjamaah. Dapat dibayangkan, semarak berjamaah di masjid tentu tidak seperti di bulan suci ini. Ramadan membelajarkan kepekaan sosial yang tinggi. Karena sedekah (harta, ilmu, tenaga dan pikiran) yang terbaik adalah sedekah Ramadan. Pelajaran bersedekah ini perlu dipupuk dan dikembangkan pasca Ramadan agar solidaritas dan soliditas sosial tetap terjaga. ***

Rate this article!
Tags: