Prihatin Aksi Terorisme di Kota Surabaya, Seniman Gelar Doa Bersama

Tiga seniman Jatim memberi dukungan pada kinerja polisi dan melakukan doa bersama pasca serangkaian bom bunuh diri di Surabaya, Selasa (15/5).[gegeh/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Serangkaian bom bunuh diri pada sejumlah lokasi di Surabaya, terus mengundang keprihatinan berbagai pihak. Tak terkecuali tiga seniman Jatim yang sekaligus dikenal sebagai praktisi paranormal Jatim yakni Ki Joko Bodo, Mbah Gimbal dan Ki Sableng. Ketiganya menggelar aksi keprihatinan dengan doa bersama di sejumlah lokasi ledakan bom bunuh diri yang telah merenggut belasan nyawa, Selasa (15/5) kemarin.
Di empat lokasi berbeda, yakni Gereja Maria Tak Bercela, Gereja Pusat Pentaskosta Surabaya, dan Gereja GKI Jl Diponegoro, serta halaman Mapolrestabes Surabaya ketiganya menggelar aksi ritual ala paranormal.
Hal ini agar para belasan nyawa yang telah tewas dalam serangan bom bunuh diri mendapat tempat laik dan tenang. Baik sesaji maupun dupa disediakan untuk mendoakan roh para korban maupun pelaku peledakan.
Lebih dari itu, aksi ini juga menepis adanya kekhawatiran dan suasana mencekam akibat ulah para teroris, yang melakukan serangkaian bom bunuh diri pada sejumlah titik beberapa hari lalu. Mereka menyampaikan pesan bahwa warga Surabaya harus mulai berani melawan terorisme, yang dimulai dari lingkup terkecil yakni RT maupun RW.
“Saya yakin warga Surabaya bisa mempertahankan integritas sosialnya di lingkup RT/RW dari serangkaian aksi teror yang terjadi beberapa waktu ini” tutur Ki Sableng saat berada di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (15/5).
Dia menilai aksi terorisme, tidak bisa dilawan dengan tindakan represif saja. Tapi harus mengikis akar – akarnya, dari pengalihan isu agama menjadi budaya yang lebih mengedepankan nilai keberagaman. Karena itu jiwa seni harus ditanamkan sejak dini agar anak – anak yang kini mulai menjadi alat paham radikal, bisa dipatahkan dengan segera.
“Anak – anak itu kan ibarat kertas kosong, jika kita gelontor dengan nilai seni baik secara magis maupun rasional mereka akan terdoktrin menghargai sebuah keberagaman, bahwa dunia ini bukan untuk salah satu paham tertentu,” tambahnya pria dengan nama asli Selamet Hadi Hariono. [geh]

Tags: