Petani Kabupaten Nganjuk Keluhkan Kinerja PPL

Nganjuk, Bhirawa
Mahalnya sarana produksi pertanian termasuk pupuk dan obat-obatan mengakibatkan petani tidak dapat menikmati hasil dari program swasembada pangan yang digagas pemerintah. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak optimalnya pendampingan dari petugas penyuluh lapangan (PPL) yang ada di masing masing UPTD Pertanian.
Pemerintah pusat telah mencanangkan program swasembada pangan melalui sejumlah subsidi selain juga melakukan luas tambah tanam ( LTT ). Namun kenyataan dilapangan, semuanya hanya sebatas program diatas kertas. Implementasinya, samasekali tidak dapat dirasakan oleh petani. Karena program tidak didukung dengan pendampingan dan pengawasan yang melekat dari dinas pertanian .
Sehingga kendaala dan kesulitan yang dikeluhkan oleh para petani, tidak sampai ke pemegang kebijakan di pemerintahan. Hal yang paling signifikan dan urgen adalah kebutuhan petani khususnya petani padi adalah kemudahan mendapatkan pupuk dan obat obatan baik obat daun maupun obat rumput.
Seperti apa yang menjadi keluhkan petani di Desa Mancon Kecamatan Wilangan, bahwa petani padi saat ini bingung karena tanamannya banyak ditumbuhi rumput padahal sudah beberapa kali disemprot dengan menggunakan beberapa jenis obat rumput. Namun kenyataannya rumput tidak bisa dibasmi dengan obat. “Terpaksa para petani harus mencabut rumput dengan cara manual atau matun, itupun memerlukan biaya yang tidak murah,” ungkap Suhadi, petani Desa Mancon.
Untuk mensiasati pengeluaran biaya matun yang tinggi, petani terpaksa minta bantuan kepada sesama petani untuk bergotong royong membersihlan rumput dengan alat tradisional atau biasa disebut osrok . “Ini cara satu satunya yang paling ampuh mencabut rumput walau perlu tenaga ekstra,” tandasnya.
Hal senada juga dikeluhkan Soim Rokhani, Ketua Gapoktan Tani Makmur Desa Mancon. Bahwa saat ini petani padi di Desa Mancon sangat resah dengan tumbuhnya rumput yang sangat pesat. Obat pembasmi rumput yang dijual di toko pertanian hanya bagus nama dan bungkusnya saja. “Sudah harganya mahal tapi manfaatnya sangat minim, sehingga merugikan rakyat. Makanya saya menghimbau kepada anggota kelompok tani agar menggunakan alat tradisional dan tidak membeli obat rumput,” pungkas Soim.(ris)

Tags: