Peran Sekolah Melawan Radikalisme – Terorisme

Aji Jatmiko

Oleh :
Aji Jatmiko
Guru SMP Negeri 1 Suboh – Situbondo

Bangsa dan negara Indonesia kembali berduka. Baru-baru ini, aksi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme terjadi di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Sidoarjo. Kejadian kemarin itu sungguh menjadi peristiwa yang memilukan semua orang di negeri ini. Apalagi aksi tersebut dilakuan menjelang bulan puasa (Ramadhan).
Aksi radikal dan teror tersebut dilakukan oleh sekelompok teroris dalam bentuk aksi seperti penyandraan dan pembunuhan keji sejumlah aparat penegak hukum, peledakan bom di beberapa tempat vital seperti Rutan Mako Brimob, beberapa gereja, rumah susun, kantor polisi dan lain sebagainya. Aksi teror tersebut bukan terjadi dan kita lihat di layar film fiksi seperti biasanya, namun kejadian teror tersebut benar-benar terjadi di negeri ini. Tentu, kejadian tersebut banyak menimbulkan korban jiwa dan harta benda.
Aksi teror tersebut terjadi dan dilakukan seorang diri dan kelompok, bahkan ada yang melibatkan anak-anak dan perempuan dalam menjalankan aksinya. Apalagi ketika sosok pelaku bom bunuh diri itu akhirnya terungkap, ternyata pelakunya adalah satu keluarga. Sebagian orang mengungkapkan bahwa meraka tak menyangka kedua orang tuanya sampai tega megajak kedua anaknya menjadi pelaku bom bunuh diri. Pertanyaannya: Dimanakah letak hati nurani dan sifat manusiawi kedua orang tuanya dalam mendidik anak itu? Berbagai hashtag di media sosial yang sedang viral seperti: #KamiBersamaPOLRI, #SaveNKRI, #KamiTidakTakut, #BersatuMelawanTeroris dan lain-lain menandakan bahwa semua warga negara dan seluruh elemen masyarakat telah menyatakan perlawanan dan mengutuk keras terhadap segala bentuk aksi kekerasan seperti radikalisme, ektrimisme dan terorisme yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan kejadian tersebut, bagi kita tak ada gunanya lagi saling berpolemik dan menyalahkan satu sama lain bahwa ini adalah bagian dari pengalihan isu, bentuk pencitraan pemerintah, ketegangan elit politik menjelang pilkada dan pilpres 2019 dan aksi adu domba lainnya. Namun, kita perlu melihat lebih dalam melalui pemikiran dan perasaan yang sehat dan jernih bagaimana langkah kita selaku pendidik, orang tua dan masyarakat untuk tetap menciptakan keharmonisan dan kerukunan dalam hidup berbangsa dan bernegara dalam aspek kehidupan sehari-hari.
Menurut Saya, ada beberapa langkah solusi yang aplikatif dan mudah diterapkan bagi kita selaku pendidik (guru), siswa dan orang tua dalam memerangi dan melawan aksi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme.
Pertama, membuka mata dan telinga dengan menjaga solidaritas dan kerukunan antar sesama. Bangsa ini terkenal dengan bangsa yang ber-bhinneka tunggal ika. Alangkah indahnya bila setiap warga negara saling menjaga keharmonisan, menjunjung tinggi toleransi, tidak menebar kebencian dan saling provokasi. Tidak ada suatu agama di dunia ini yang mengajarkan kebencian dan permusuhan diantara ummatnya. Sesama ummat beragama tentu memiliki keinginan menjadi pribadi yang baik dan sukses di dunia dan akhirat.
Kedua, menjadikan lembaga pendidikan (madrasah, sekolah dan kampus) sebagai tempat belajar yang bebas, bersih atau steril dari paham atau ajaran radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Para guru, dosen, siswa dan mahasiswa memiliki kewajiban menjaga lembaga dan segenap unsur di dalamnya dari paham, ajaran atau perilaku menyimpang yang mengarah kebebasan individu atau kelompok yang dapat menimbulkan disharmonisasi dalam lembaga. Sekolah dan kampus harus bisa mendeteksi dan mengatasi segala kemungkinan bentuk kejahatan atau intoleransi baik aksi individu atau kelompok yang bisa merusak tatanan kehidupan di dalam lembaga pendidikan tersebut. Sekali lagi, guru dan dosen wajib memberikan pemahaman atau pengajaran yang baik dan benar terkait dengan etika atau moral kepada siswa dan mahasiswanya ketika mereka belajar, berbicara, bersosialisasi dengan teman dan guru atau pembimbingnya selama di sekolah atau kampus.
Ketiga, bijak dalam menggunakan media sosial. Saat ini banyak sekali informasi yang tidak baik dan benar di media sosial. Isinya menyebarkan kebencian dan permusuhan, menyebarkan berita bohong (hoax), adu domba antar kelompok, dsb.
Hal ini akan menjadi alat bagi para teroris untuk menyerang dan malakukan aksi kejahatan lainnya. Ada dua bentuk kejahatan teroris dalam menjalankan aksinya yaitu teroris lapangan dan teroris sosial media. Oleh karena itu, peran media sosial diharapkan memberikan informasi yang sehat dan menyejukkan bagi masyarakat seperti kampanye keramahan dan kasih sayang, bukan berisi hoax atau menebar kebencian dan provokasi lainnya yang memicu intoleransi antar sesama.
Kesimpulannya, paham radikalisme, ekstrimisme dan terorisme tidak akan muncul bila ada toleransi antar sesama yang kokoh. Aksi kekerasan tidak akan terjadi bila keharmonisan di dalam masyrakat, lembaga pendidikan dan media sosial terjaga dengan baik dan harmonis pula. Aksi radikal itu muncul karena ada intoleransi. Ketika intoleransi berkembang, maka orang akan memiliki kecenderungan melakukan tindak kekerasan kepada orang lain. Selanjutnya, bila tindak kekerasan atau radikalisme semakin menjadi (ekstrim) tanpa arah dan tujuan, maka orang tak segan-segan melakukan aksi terorisme.
Terakhir kalinya, pesan dari penerima Nobel Perdamaian termuda dari Pakistan tahun 2014, Malala Yousafzai: “Saya katakan, dari pada mengirim senapan, kirimkanlah buku. Dari pada mengirim senjata, kirimkanlah guru. Satu anak, satu guru. Satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia.” Itulah beberapa kalimat terkenal dalam pidatonya mengenai hak-hak (anak) perempuan untuk bersekolah, melawan terorisme dan kebodohan.

———– *** ————-

Tags: