Pentingnya Legalitas Pendidikan, Lansia Pun Mengejar Paket C

Para peserta dewasa dan lansia jadi satu saat pelaksanaan UNBK Paket C di SMK Antartika 2 Buduran, Sidoarjo.

Walaupun Belajar Komputer ‘Grothal-grathul’, Semangat Belajar Tetap Tinggi
Kabupaten Sidoarjo, Bhirawa
Proses menuntut ilmu tidak mengenal batas usia, mulai lahir hingga masuk liang lahat. Bahkan ada ungkapan ‘belajar diwaktu kecil bagaikan melukis di atas batu, belajar diwaktu tua bagaikan mengukir di atas air.’ Ungkapan tersebut tidak berlaku bagi Harjono, warga Tanjungsari, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Walaupun usianya yang sudah menginjak 58 tahun tidak menghalangi baginya untuk menuntut ilmu, hingga mengikuti ujian kejar paket C.
Sebelum mengikuti ujian paket C untuk setingkat SMA, Harjono saat ditemui di ruang komputer SMK Antartika 2 Buduran, Sidoarjo mengaku ikut ujian paket ini adalah karena semangat belajarnya yang cukup tinggi. Sebagai pengusaha, yang mempunyai beberapa karyawan harus menyesuaikan diri. Jangan sampai kalah dengan anak buahnya. “Oleh karena itu saya harus terus tetap giat belajar, walaupun usia tak lagi muda tetapi semangat belajar masih tetap tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, soal materi belajar yang dilakukan setiap harinya tidak merasa kesulitan untuk mencari bahan-bahanya. Namun yang agak kesulitan adalah saat mengoperasikan komputernya. Komputer sekarang sudah sangat canggih, sehingga ujian pun sekarang sudah menggunakan komputer.
“Mau tidak mau saya harus belajar dengan semangat yang tinggi untuk menyesuiakan diri, karena mempunyai usaha yang didalamnya ada karyawan. Walapun ‘grothal-grathul’ tetap semangat, Insya Alloh lulus dengan nilai memuaskan,” kata Harjono sembari senyum riang.
Hal yang sama juga diakui oleh Muhammad Nur Kholik (56) warga Bambe, Driyorejo, Gresik. Karyawan perusahaan industri di Rungkut, Surabaya ini harus mengejar ijazah Paket C karena kebutuhan perusahaan, untuk penyesuaian. Ia mengaku karirnya dalam bekerja sulit mengalami peningkatkan, karena ijazah yang digunakan adalah setingkat SMP. Oleh karena itu, dirinya mendapatkan pengarahan dari manajemen, disarankan untuk mengikuti ujian Paket C agar karirnya tidak terganjal oleh status ijazah.
Pak Nur_sapaan akrabnya, harus belajar komputer kepada anak-anaknya. Karena anak pertamanya kuliah pergruan tinggi negeri di Surabaya sudah hampir selesai. Sementara anak nomer keduanya masih duduk di bangku SMA.
“Saya hampir setiap hari harus belajar komputer ke anak-anak. Tidak harus malu, namanya belajar itu tidak ada rasa malu, apalagi ke anak sendiri, malah semakin mempererat kekeluargaan. Semua ini demi pekerjaan,” ungkap Pak Nur dengan santainya.
Niatan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk menuntaskan wajib belajar terhadap masyarakat yang putus sekolah terus dilakukan. Bahkan selama masih ada warga masyarakat yang drop out (DO) dari sekolah. Pemkab Sidoarjo juga terus melakukan penuntasan program tersebut melalui program kejar Paket A, B dan C.
Seperti yang telah dilakukan beberapa hari lalu di Ruang Lab SMK Antartika 2 Buduran Sidoarjo, ratusan orang telah mengikuti UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), program Paket B setara dengan ijazah SMP dan Paket C yang setara dengan ijazah SMA. Mereka terdiri dari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Prima Buduran, terdiri dari Paket B sebanyak 17 orang dan Paket C sebanyak 38 orang. Dari PKBM Diponegoro Gedangan Paket B sebanyak 19 orang dan Paket C sebanyal 53 orang dan dari PKBM Budi Utomo Taman, terdiri Paket B sebanyak 6 orang dan Paket C sebanyak 20 orang.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo Dr Ng Tirto Adi MP, MPd menuturkan kalau program Paket A, B dan C itu terus dilakukan oleh Pemkab Sidoarjo. Sepanjang masih ada masyarakat yang DO dari sekolah, pihaknya juga terus melaksanaan program paket tersebut.
Jadi hal itu dilakukan adalah sebagai upaya pemerintah untuk menuntaskan wajib belajar, yakni formal dan non formal. Untuk yang non formal adalah dalam program kejar paket A setingkat SD, Paket B setingkat SMP dan Paket C setingkat SMA. Dengan harapan tidak ada lagi warga negara kita, khususnya Sidoarjo yang tidak mempunyai ijazah atau tidak lulus sekolah.
Sementara untuk kekuatan hukum ijazah formal dan non formal itu sama, cuma image masyarakat saja yang membedakan hal itu, non formal dianggap yang nomer dua. Semestinya itu tidak boleh terjadi, karena ijazah non formal pun juga bisa dipakai, dan nyatanya. “Sudah banyak masyarakat yang menggunakan ijazah paket untuk mencalonkan dewan, mendaftarkan sebagai bupati maupun gubernur, dan itu diakui sah oleh hukum,” pungkasnya. [achmad suprayogi]

Tags: