Pelanggan PDAM Kota Surabaya Keluhkan Buruknya Kualitas Air

Surabaya, Bhirawa
Warga Surabaya Barat harus bersabar untuk bisa menikmati air bersih yang layak dari PDAM Surya Sembada Kota Surabaya. Sebab, selain keluarnya hanya beberapa jam pada tengah malam, airnya pun keruh.
Khoirul Anam, warga Perumahan Griya Surabaya Asri Kelurahan Sumberejo Kecamatan Pakal mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Semula ia memperkirakan air keruh itu karena terpengaruh musim hujan. Kenyataannya memasuki musim kemarau, airnya tetap keruh.
”Airnya tak jernih. Akibatnya, seminggu sekali saya harus menguras tandon. Sebelumnya, 3 minggu sekali,” tegas lelaki yang juga sebagai anggota Dewan Pelanggan PDAM Kota Surabaya, Rabu (16/5).
Keluhan lainnya adalah pasokan air PDAM ini jarang keluar. Akibatnya, banyak pelanggan yang terpaksa menyedot air langsung dari meteran dengan pompa air.
”Bahkan di kawasan Kauman Benowo dan Made, meski sudah disedot pakai pompa, airnya tetap tak mengalir karena yang keluar hanya angin. Ironisnya, mereka tetap membayar bulanan,” tegasnya.
Masih menurut Khoirul Anam, air PDAM hanya dipakai untuk mandi dan mencuci. Itupun harus diendap terlebih dahulu karena keruh. Sedangkan kebutuhan untuk minum atau memasak, warga terpaksa membeli air isi ulang atau air mineral. “Dampaknya, pengeluaran air semakin membumbung tinggi,” tegasnya.
Kondisi yang sama juga terjadi di Manukan, Tandes. Hampir mayoritas pelanggan menyedot air dari meteran. Sebab, air hanya mengalir tengah malam, dan itu hanya berlangsung sejam hingga dua jam sehingga tak mencukupi untuk kebutuhan air bersih setiap harinya.
Tidak hanya warga Surabaya Barat, warga Surabaya Selatan juga mengalami nasib yang sama yaitu mendapat air keruh dari PDAM Surya Sembada. Kondisi itu dialami mereka sejak sebulan lalu.
Sumadji, warga Jalan Simo Gunung Keramat Kelurahan Banyuurip Kecamatan Sawahan, mengatakan ia tidak tahu penyebab air PDAM menjadi keruh. Air itu seperti bercampur denga lumpur karena ada warna kekuningan. Yang pasti, sebagai pelanggan ia merasa dirugikan.
“Saya terpaksa memakai saringan di kran. Jika tak pakai saringan, airnya di bak mandi sangat keruh. Dua hari kemudian keluar jentik-jentik,” jelasnya.
Dengan kualitas air seperti itu, masih lanjutnya, air itu hanya dipakai untuk mandi dan cuci. Dan itu pun harus disaring dan diendapkan dulu.
“Untuk masak pakai air isi ulang. Sedangkan untuk minum, saya membeli air mineral,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Dewan Pelanggan PDAM Surabaya Ali Musyafak, menegaskan selama ini persoalan klasik yang mendera pelanggan adalah pasokan air yang tak stabil. Bahkan lebih cenderung banyak keluar angin daripada air.
”Selain itu kualitas air PDAM semakin turun dengan banyaknya keluhan airnya sekarang keruh. Jadi warga tidak mau mengonsumsi air PDAM karena hanya dipakai mandi dan mencuci,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebijakan PDAM Surya Sembada yang melayani calon penghuni apartemen di Sidoarjo sehingga melampau batas wilayah. Sedangkan pelanggan di Surabaya sendiri banyak yang tak mendapatkan pasokan air. “Kebijakan ini yang perlu dievaluasi,” tegasnya.
Ali Musyafak juga menegaskan selama ini persoalan klasik yang mendera pelanggan adalah pasokan air yang tak stabil. Bahkan lebih cenderung banyak keluar angin daripada air.
”Selain itu kualitas air PDAM semakin turun dengan banyaknya keluhan airnya sekarang keruh. Jadi warga tidak mau mengonsumsi air PDAM karena hanya dipakai mandi dan mencuci,” ujarnya. [dre]

Tags: