Membentuk Generasi Literat dengan Curhat Bacaan

Nining Suryaningsih

Nining Suryaningsih
Mengajak melangkah ke hal yang positif tidak selalu mendapat respon positif. Bahkan acap mendapatkan reaksi yang membuat hati ‘tersakiti’. Demikian pula yang dilakukan perempuan tangguh yang sehari -hari mengajar di SMP Padalarang Nining Suryaningsih ini. Ajakan Nining kepada para peserta didiknya malah kadang menuai reaksi nyinyir pada orang tua/wali muridnya.
Menurut Nining, beberapa orang tua masih berpikir bahwa dengan membaca buku non pelajaran, membuat siswa tidak memperhatikan waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan PR dan mengulangi pelajaran untuk persiapan ulangan.
“Aah, lagi-lagi masalahnya menyangkut ulangan. Ulangan seperti begitu didewakan. Nilai sepuluh lebih menjadi prioritas daripada, ketika siswa mampu membaca buku sekian ratus halaman hanya dalam tempo 2 jam, nampaknya bukan sesuatu yang bisa dibanggakan,” curhat Nining penuh sesal.
Semua pengalaman dan perjalanan berliterasinya bersama kelompok curhat bacanya, akhirnya direkam dan dikumpulkan dalam sebuah karya berjudul, Tersakiti Literasi. Buku ini berisi pengalamannya dalam menggalakkan kegiatan literasi di sekolah. Bagaimana langkah-langkah uniknya dalam melakukan pendampingan totalitas terhadap siswa melalui kelompok baca, dengan satu tujuan membentuk generasi literat.
“Saya berharap anak-anak bisa menggunakan waktunya secara maksimal, untuk belajar apa pun, dari siapa saja, dan di mana pun mereka berada,” tutur Nining sambil menghela nafas panjang.
Guru yang sehari-hari mengajar bahasa Inggris ini bercita-cita membentuk generasi literat dengan cara-cara yang terbilang unik.
Jangan ditanya tentang pendampingan yang dilakukan terhadap siswa. Nining yang hobinya membaca ini, kerap melakukan pendampingan secara totalitas guna mewujudkan cita-cita terpendamnya itu.
Melalui program curhat bacaan, Nining ingin memfasilitasi siswa agar memiliki daya nalar tinggi dan kemampuan berpikir kritis. Dengan sebuah awal yang manis, perempuan yang suka tampil bersahaja ini, menekankan sebuah kedekatan tanpa mengedepankan perintah dan aturan.
Perkenalan antara satu sama lain dalam kelompok baca yang dibentuknya, merupakan langkah awal yang dibuatnya. Termasuk memperkenalkan dirinya sendiri kepada anggota lainnya. Di sinilah kemudian diselipi dengan English conversation untuk memacu kemampuan berbahasa Inggris mereka. [why]

Tags: