Media dan Dramaturgi Politik

Oleh:
Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Inilah era politik pertunjukkan. Dalam era ini para aktor politik dituntut berakting menawan. Sang politisi harus memainkan peran yang memukau bagi semua kalangan. Ya, panggung politik telah menjadi layaknya pertunjukkan drama atau sandiwara. Permainan politik pertunjukkan ini semakin menemukan wujudnya karena dukungan media massa dan media sosial (medsos). Hiruk pikuk dan hingar bingar politik difasilitasi media dengan leluasa.
Pada zaman politik pertunjukkan ini menuntut sang aktor politik yang sedang berlaga dalam kontestasi pilkada, pileg, dan pilpres agar bermain sandiwara. Namanya juga sandiwara, maka apa yang ditampilkan sejatinya bisa sebuah rekayasa. Ada makna yang tak terlihat (laten) dari apa yang sedang ditampilkan sang aktor. Makna laten ini tidak jarang bertolak belakang dengan makna yang tampak (manifes).
Bisa jadi sang politisi dalam foto-foto kampanye terlihat tersenyum, tampil memesona. Tidak jarang gambar-gambar dalam baliho, spanduk, dan banner kampanye adalah wajah-wajah yang santun, murah senyum, berwibawa, dan berbudi pekerti luhur. Tapi ingat, ini hanya tampilan semu, bukan realitas yang sejatinya. Disinilah politik pertunjukkan itu di kreasi. Dengan permainan citra ini memang cukup terbukti mampu mendongkrak simpati yang ujung-ujungnya bisa mendulang dukungan.
Dramaturgi Politik
Dalam kehidupan politik pertunjukkan saat ini, semua aktor politik dituntut pandai bermain peran. Sementara itu, masyarakat sebagai penikmat sandiwara politik hanya bisa tertawa terbahak-bahak ketika melihat sebuah peran yang kocak, bersedih, mabuk kapayang, atau beragam ekspresi seperti umumnya menikmati sebuah hiburan di panggung sandiwara. Dalam sebuah drama, semua aktor dituntut tampil memukau dan memikat semua penonton.
Menurut Irving Goffman, dalam teori dramaturgi, terdapat dua panggung yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Dalam posisi ini, setiap individu dituntut menampilkan karakter tertentu di panggung depan dimana peran yang dimainkan tersebut bisa jadi berlawanan dengan karakter asli dirinya. Disinilah muncul sebuah kebohongan karena sebuah laku yang sedang dimainkan seseorang sejatinya bukan citra diri orang itu yang asli.
Ketika dalam panggung pertunjukkan asli drama, memang tidak masalah para pemainnya menampilkan diri bukan sebagai aslinya. Dalam pertunjukkan drama memang tujuan utamanya menghibur penonton, hingga dalam mencapai tujuan itu sah-sah saja dibuat rekayasa. Namun dalam kehidupan politik, tentu peran para aktor politik bukan berfungsi untuk menghibur masyarakat.
Sang politisi, para pemimpin partai politik, dan sosok yang sedang ikut berkontestasi dalam pilkada, pileg, dan pilpres hendaknya menampilkan permainan politik yang jujur dan santun. Permainan politik yang lebih mengedepankan pencitraan demi tujuan tampil memukau di front stage bukanlah cara berpolitik yang baik. Panggung politik bukan layaknya panggung sandiwara yang bisa saja mengusung tema fantasi dan rekaan (fiksi) semata.
Dunia politik idealnya mengedepankan sebuah fakta yang jujur. Politik bukan ajang pembohongan dengan menyulap citra yang memesona. Kalau ternyata fakta sang politisi sosok yang buruk, maka harus diakui dengan legawa. Sang politisi bermasalah harus berkaca diri, dan bukan ketika buruk muka lantas cermin yang dibelah. Karena sehebat apapun keburukan itu ditutupi, akhirnya pasti akan terbongkar pula.
Untuk itu masyarakat harus berdaya. Rakyat harus melek politik. Semua warga negara tidak bolek acuh tak acuh pada politik (apolitik). Semua harus cerdas dalam menyaksikan sepak terjang para politisi yang sedang berlaga dalam era politik yang layaknya panggung sandiwara ini. Tanpa kepedulian masyarakat, dunia politik akan semakin menjauh dari nilai-nilai demokrasi yang ideal. Kalau sudah demikian yang terjadi, tentu masyarakat juga yang rugi.
Menyulap Citra
Karena dunia politik sudah menjadi semacam pertunjukkan, maka politik membutuhkan media sebagai pendukung penampilan. Untuk itu menggandeng media, baik media arus utama (mainstream media) mapun medsos menjadi sangat urgen. Dalam kaitan politik dan media, ternyata kita juga disuguhi perselingkuhan yang sepertinya saling menguntungkan diantara kedua entitas ini. Media dan politik memang seperti dua sejoli yang sulit dipisah.
Sim salabim, dalam sekejap citra bisa dibentuk lewat media. Citra sang kandidat yang aslinya buruk bisa di sulap jadi baik. Sosok yang tidak dikenal, dalam sepintas langsung popular. Media memang perkasa. Lihat layar televisi, suara di radio, tulisan di koran, dan beragam teks visual dan audio di media online, dengan cepat bisa memengaruhi khalayak. Siapa yang menguasai media bisa dipastikan jalan politiknya bakal mulus.
Secara ideal, media, terutama media arus utama memang tidak boleh berselingkuh dengan politik. Media massa atau pers merupakan pilar keempat demokrasi yang harus memerankan diri sebagai kontrol sosial. Namun dalam kenyataanya beberapa media terbukti ada yang main mata dengan sang politisi. Lihat saja televisi. Ada beberapa stasiun televisi nasional, walau secara terselubung telah menggunakan medianya untuk parpol atau kandidat tertentu.
Sebuah lagu mars partai tertentu muncul berulang kali di layar televisi tertentu. Di sebuah televisi juga tidak jarang muncul sosok dari partai tertentu yang muncul dengan porsi yang tidak wajar. Beberapa acara dengan jumlah penonton (rating) yang tinggi juga dijadikan ajang beberapa politisi untuk tampil berebut simpati. Sepertinya memang tidak ada yang salah dengan cara-cara ini. Politik dan media telah bersimbiosis mutualisme. Keduanya telah saling memainkan peran dengan apik dalam panggung dramaturgi politik tanah air.
Kalau kita simak medsos juga serupa. Perang opini tidak sehat bergulir liar di medsos. Munculnya berita bohong (fake news), hoaks, dan ujaran kebencian seakan telah menjadi hal yang lumrah di medsos. Beberapa tim sukses, simpatisan partai atau sosok tertentu menyajikan informasi yang sering tidak berdasar fakta. Anehnya, justru informasi tak bersumber fakta ini justru yang dipercaya sebagai sebuah kebenaran.
Inilah realitas versi dramaturgi. Dalam panggung depan citra muncul tanpa celah. Sang politisi dan sosok kandidat tampil dengan kesan merakyat, peduli wong cilik, membela kaum lemah, dan sejuta citra baik yang meninabobokan masyarakat. Kondisi ini ternyata semakin diperburuk karena masyarakat sering lupa dan sulit membedakan mana panggung depan dan mana pula panggung belakang dari sosok politisi yang sedang tampil.
Berada di era politik layaknya sebuah pertunjukkan saat ini memang harus waspada. Mengedepankan sikap kritis dan cerdas menjadi sangat penting guna memilah mana citra yang sejati dan mana pula yang abal-abal. Media juga harus memainkan peran idealnya. Media jangan sampai terjebak turut menyampaikan informasi yang ujung-ujungnya semakin membawa masyarakat pada situasi seperti membeli kucing dalam karung. Mari melek politik dan melek media.

———— *** ———–

Rate this article!
Tags: