Lintas Agama Kabupaten Jombang Kutuk Aksi Teror Bom di Jatim

Sejumlah elemen lintas agama menggelar deklarasi mengutuk aksi teror bom di Jatim, aksi di lakukan di depan Kantor Lakpesdam NU Jombang, Senin siang (14/05). [Arif Yulianto/ Bhirawa].

Jombang, Bhirawa
Sejumlah aksi teror bom di Jawa Timur (Jatim) yang dilakukan oleh kelompok teroris membuat sejumlah elemen di Jombang mulai dari Partai Politik (Parpol), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan komunitas lintas agama melakukan deklarasi sekaligus mengutuk aksi tersebut.
Di tiga lokasi berbeda di Jombang, aksi deklarasi dan mengutuk serangan teror bom yang dilakukan kelompok teroris di Jawa Timur di lakukan.
Aksi deklarasi pertama dilakukan oleh Partai Nasional Demokrat (NasDem) di kantor DPD NasDem Jombang, Senin siang (14/05). Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai NasDem Jombang, Muklinah Shohib, deklarasi yang dilakukan oleh pengurus DPD NasDem Jombang merupakan bentuk keprihatinan terhadap tindakan kekerasan yang terjadi di Indonesia yang tidak menunjukkan toleransi atas keberagaman.
“Negara kita adalah Negara yang Bhinneka Tunggal Ika, yang terdiri dari berbagai agama dan lain sebagainya, dan kita mempunyai hak hidup yang sama antara satu agama dengan agama yang lain. Partai Nasdem akan berada dibaris depan untuk mendorong pemerintah menyelesaikan masalah ini,” papar Muklinah Shohib kepada sejumlah wartawan, Senin (14/05).
Sementara itu, Ketua MUI Jombang, KH Kholil Dahlan mengatakan, bahwa MUI pusat maupun Jatim sudah mengeluarkan sikap mengenai kejadian teror bom di Jatim.
“Sikap itu antara lain adalah kita harus lebih waspada, sebab kelompok-kelompok teroris itu biasanya muncul karena sebab ketidakwaspadaan kita, kalau kita waspada insyallah tidak akan muncul hal-hal tersebut,” ujar,” Kyai Kholil.
Kyai Kholil menambahkan, kemunculan aksi teror bom yang terjadi di Surabaya Minggu (13/05) disebabkan adanya ketidakwaspadaan dari berbagai pihak.
“Salah satu contoh kemarin di Surabaya muncul bom itu, ketika aparat keamanan dan ketertiban, para ulama fokus ikut kegiatan Istighosah, sehingga hampir semua fokus pengamanan di Polda, kemudian itu meledaknya kan jauh dari Polda, yang paling dekat di jalan Dipenogoro, itu,” tambahnya.
Kata Kyai Kholil, hal tersebut menunjukkan bahwa orang yang merancang aksi teror tersebut sengaja menunggu lengahnya pengawasan oleh aparat keamanan.
” Hal itu menunjukkan bahwa orang yang merancang itu, perkiraan saya muncul waktunya tepat waktunya disesuaikan diwaktu istighosah itu, jadi mencari kelengahan,” tandasnya.
Selain itu, di tempat terpisah, sejumlah kelompok masyarakat lintas agama yang mengatasnamakan Aliansi Warga Kota Santri untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengadakan deklarasi dan mengutuk aksi teror bom di Jawa Timur.
Dalam aksi tersebut juga dilontarkan tuntutan pada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Terorisme menjadi Undang-Undang (UU).
“Saya kira praktek terorisme pasca HTI dibubarkan itu, sel-sel tidur terorisme di Indonesia semakin kuat dan menunjukkan seperti menantang seluruh bangsa Indonesia. Kami warga dan masyarakat Indonesia, mendorong pemerintah untuk berkomitmen mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan agar tidak ada lagi korban,” tegas Aan Anshori, koordinator aliansi yang juga aktifis Gusdurian kepada sejumlah wartawan.
Jika Undang-Undang Terorisme dianggap bisa menyelamatkan tumpah darah Indonesia, lanjut Aan, masyarakat akan mendorong pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Terorisme.
“Pak Jokowi mau sampai berapa kali lagi korban dan pengeboman ini, kalau memang UU Terorisme dianggap bisa menyelamatkan seluruh tumpah darah Indonesia, saya kira rakyat memilih anda untuk melakukan yang terbaik demi menyelamatkan NKRI ini. Indonesia harus dipastikan selamat, sebab kalau tidak bisa jadi sebelum tahun 2030 bubar jika kita tidak mengambil langkah untuk menangani terorisme,” pungkasnya.(rif)

 

 

Tags: