Lampu Ublik Android, Menangkan Lomba Inovasi Daerah 2018

Siswa SMKN 2 Kraksaan dengan lampu ublik berbasis android hasil inovasinya.

Karya Siswa SMKN 2 Kraksaan
Probolinggo, Bhirawa
Ketika minyak gas (minyak tanah) sudah langka di pasaran, riwayat keberadaan lampu ublik pun kian tenggelam. Sudah jarang ditemukan masyarakat yang menggunakan lampu ublik. Namun siapa sangka, lampu ublik ternyata mampu dimodifikasi. Pemanfaatannya tetap sebagai penerang, namun penerangnya bukan lagi dari api dan tak lagi menggunakan minyak tanah.
Empat siswa SMK Negeri 2 Kraksaan melakukan inovasi untuk menghidupkan kembali lampu ublik yang telah lama mati. Inovasi itu mereka beri nama Lampu Ublik Berbasis Android. Inovasi ini juga mengantarkan SMKN 2 Kraksaan sebagai juara 1 lomba Inovasi Daerah tahun 2018, gelaran Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten Probolinggo untuk kategori pelajar.
Karya inovasi itu, menyingkirkan 45 karya inovasi lainnya setingkat SMA yang ikut dalam lomba tersebut. Secara umum, tampilan luar lampu ublik ini tidak berbeda dengan lampu ublik yang sudah ada selama ini. Di antaranya, masih terdapat tempat penampungan minyak tanah, hingga semprong dari kaca.
Lampu ublik mereka rombak, tempat menampung minyak digunakan untuk rangkaian alat. Di antaranya, modul bluetooth; arduino nano (hardware), modul step up dan modul charger. “Kemudian di atasnya, yang biasanya digunakan untuk tempat sumbu ganti dengan lampu LED warna putih 3 watt,” hal ini diungkapkan Fila Ramadhan, salah satu penggagas lampu ublik berbasis android, Kamis (24/5) kemarin.
Fila mengatakan, inovasi itu tidak tercipta dengan mudah. Sejumlah kesulitan kami temukan saat awal mencoba inovasi. Salah satunya faktor kelangkaan lampu ublik yang saat ini sangat sulit ditemukan di toko-toko. Setelah beberapa lama berusaha, akhirnya lampu yang diharapkan tersebut berhasil didapat.
Sejak diuji coba pada sekitar September 2017 lalu, lampu itu tidak seperti yang diharapkan. Karena terdapat beberapa masalah pada beberapa bagian. Bahkan, empat kali mereka mengalami kegagalan. “Akhirnya kami belajar lagi. Salah satu caranya bertanya ke guru dan belajar melalui internet. Kita cari masalahnya. Kemudian kita browsing, seperti pada masalah rangkaiannya, hingga untuk pemrogramannya. Alhamdulillah, sekitar Oktober berhasil,” ungkapnya.
“Sejauh ini, kami sudah membuat 5 lampu ublik berbasis android. Selain hemat energi dan solusi ketika listrik mati, inovasi ini untuk melestarikan lampu ublik. Untuk biaya pembuatan 1 lampu ublik, menghabiskan anggaran Rp 150 ribu. Cukup murah karena banyak alat yang memakai bahan bekas, ujarnya.
Siswa kelas X TPTL (Teknik Pembangkitan Tenaga Listrik) SMKN 2 Kraksaan itu menjelaskan, sesuai namanya, untuk menghidupkan lampu ublik berbasis android ini, pengguna wajib memiliki smartphone berbasis android. Sebagai penghubung, lampu ublik ini menggunakan media bluetooth.
“Jarak yang bisa dijangkau dengan bluetooth kurang lebih 30 meter. Jika ada penghalang seperti tembok bisa 25 meter,” ungkapnya. Namun, menurut siswa asal Desa Jatiadi, Kecamatan Gending, itu agar smartphone terhubung dengan lampu ublik melalui bluetooth, smartphone tersebut harus terlebih dahulu dipasang aplikasi oblek, katanya.
“Aplikasi ublik ini dilengkapi fitur on dan off untuk mengendalikan lampu. Aplikasi ini kami buat sendiri bersama tim dengan menggunakan aplikasi APP Inventor. Yakni, sebuah aplikasi untuk membuat aplikasi di android,” ungkap siswa kelahiran 29 November 2001 itu. Fila mengatakan, untuk sumber daya atau energi lampu ublik berbasis android itu, ia memanfaatkan baterai bekas dari laptop yang rusak. Baterai bekas itu, ia dapatkan di sekolahnya. Yakni, laptop rusak yang ada di kelas jurusannya, TPTL.
“Semuanya bekas. Baik itu lampu ubliknya, maupun sumber energinya yang berasal dari laptop rusak yang ada di kejuruan. Dengan laptop bekas ini, daya tahan lampu ublik bisa 3 jam,” jelasnya.
Septian Wahyu, yang juga anggota tim pembuatan lampu ublik berbasis android menambahkan, meski sebagian di antaranya menggunakan bahan-bahan bekas. Namun, untuk perangkat atau alat yang digunakan mereka harus berbelanja ke toko. Kesulitannya, perangkat yang dibutuhkan tersebut tidak tersedia di Probolinggo. Selain Fila Ramadhan dan Septian Wahyu, dalam komposisi tim pembuat lampu ublik berbasis android itu, juga ada Atika dan Husnul Agustini. Mereka berempat merupakan siswa kelas X TPTL SMKN 2 Kraksaan. Berempat mereka berencana menyempurnakan lampu ublik berbasis android itu.
“Kalau sekarang untuk tingkat kecerahannya masih belum diatur. Nanti, lampu ini akan kami modifikasi lagi agar tingkat kecerahannya bisa diatur. Kami juga ada harapan ingin memproduksi masal karya ini. Tujuannya, untuk memudahkan masyarkat,” tambahnya. [wap]

Tags: