Kapolres Lamongan Silaturrahimi Tokoh Lintas Agama

Kapolres Lamonga. AKBP Feby Hutagalung Silaturrahim dengan Tokoh Lintas Agama dan Deklarasi Tolak Terorisme dan Radikalisme.(Alimun Hakim/Bhirawa)

(Bentuk Tim Khusus Awasi Deportan Suriah)

Lamongan, Bhirawa
Keseriusan Polres Lamongan untuk mencegah sejak dini diwujudkan dengan menggelar silaturrahmi lintas tokoh agama dalam rangka mencegah dan memerangi terorisme dan radikalisme.Tak hanya itu tokoh lintas agama juga deklarasi bersama menolak radikalisme dan terorisme.
Silaturrahim tokoh lintas agama yang digagaskan Polres Lamongan untuk mencegah tindakan terorisme dan radikalisme tersebut, dihadiri perwakilan dari MUI, FKUB, NU, Muhammadiyah, Hindu, Budha, dan Kristen.
“Kegiatan ini merupakan satu bentuk keseriusan kita, dari seluruh elemen terutama para tokoh agama yang mendukung polri, tni dan pemerintah untuk mengeliminir ataupun meniadakan segala bentuk terorisme”Kata AKBP Feby Hutagalung kepada wartawan ,Rabu(16/5).
Tentunya,Lanjut dia,ini juga merupakan bentuk upaya kita bersama untuk selalu berperan aktif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap segala bentuk aksi terorisme sejak dini.
Feby menjelaskan,Jadi sebelum terjadinya aksi, tidak hanya dari Polres TNI, kami juga berharap para tokoh lintas agama bisa menyampaikan hingga ke tingkat bawah, agar dapat mengurangi dan mengeliminir paham – paham radikal dan jangan sampai menyebar di tengah-tengah masyarakat.
Karena perlu diketahui atas terjadinya bom di surabaya, bahwa sejak dini hingga dewasa sudah memiliki pemahaman yang salah. Jadi ini yang harus kita upayakan agar paham-paham seperti ini dihentikan.
Untuk lamongan ini,Masih Feby, punya ke khususan, karena punya histori. Karena kejadian bom bali, pelakunya adalah orang lamongan.
Upaya deradikalisasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian, dengan melakukan penyuluhan, dengan menggandeng stakeholder, baik tokoh agama, BNPT, tenaga pendidik, dan semua instansi terkait, ini dilakukan secara simultan.
Kemudian kita juga memiliki lingkar perdamaian, yang diinisiasi oleh BNPT, yang bertempat di Lamongan, itu merupakan salah satu untuk mengeliminir dan melakukan deradikalisasi.
Selain itu ,Tambah Feby,Kami juga beberapa kali melakukan pendekatan kepada para mantan napi teroris, baik itu dengan pendekatan kemanusiaan maupun melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan, agar mereka merasa terlibat dengan kegiatan masyarakat.
“Upaya – upaya kita juga memberikan alat untuk berwirausaha, agar mereka memiliki kesibukan, dan usaha, sehingga mereka tidak terpapar dengan paham radikal yang sebelumnya”Tambahnya.
Disinggung soal adanya warga Lamongan yang merupakan mantan Deportan Suriah,Feby mengatakan,Untuk mantan deportan suriah tentunya ada pengawasan khusus, baik itu dari Densus 88, maupun dari kami dari Polres, dari Polda dan semua instansi terkait. Jadi kita sudah ada tim”Terang Feby.
Densus 88 ini memiliki tugas khusus untuk membuntuti pihak-pihak yang terpapar dan kembali ini.Sedangkan kami ini memiliki keterbatasan, dalam melakukan pengawasan, sehingga pembuntutan itu tidak efektif dan tidak dapat menyeluruh.
“Seperti yang kemarin terjadi di Surabaya, padahal dia itu ketua JAD Surabaya, yang memang sudah dibuntuti selama 4 bulan, tapi karena dianggap selnya tidur, sehingga dialihkan kepada tim yang lain, dan ternyata dalam waktu sesaat mereka sudah merencanakan kejadian ini.Dan pengungkapan-pengungkapan pelaku bom di surabaya ini sangat cepat, karena mereka ini memang di dukung dengan peralatan yang lengkap”Papar AKBP Feby Hutagalung. [mb9]

Tags: