Jelang Wisuda, Kampus Kanjuruhan Malang Memanas Lagi

Ketegangan yang terjadi di Unikama Selasa (1/5) kemarin.

Malang, Bhirawa
Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), memanas lagi, dua kubu saling klaim sebagai pihak yang paling berhak atas pengelolaan kampus tersebut. Ketegangan itu terjadi diduga karena adanya rencana wisuda yang akan dilakukan pada Sabtu (5/5) mendatang.
Cristea Frisdiantara melalui Waka PPLP PT PGRI Slamet Riyadi, tindakan anarkis ini diawali dari kubu PPLP PT PGRI versi Soeja’i dengan melakukan perusakan fasilitas kampus dan membawa senjata tajam (sajam).
“Kejadian ini sangat kita sayangkan, karena mereka awalnya mau memaksakan diri menggelar wisuda, tapi kita tolak,” ujarnya kepada wartawa Selasa 1/5 kemarin.
Menurutnya, jika itu dilakukan maka Kemenristekdikti akan mencabut izin operasional Unikama. “Mereka (kubu Soeja’i) ini tidak memikirkan nasib 8000 mahasiswa, hanya untuk ambisi untuk menguasai kampus saja,” terangnya.
Atas kejadian ini, pihaknya akan melaporkan kepada yang berwajib, beberapa orang yang berada dikubu Soeja’i. Diantaranya Pieter Sahertian (Rektor) Joice Soraya (Warek 3), Mia Safitri (Kajur Hukum) dan Dedy Budiono Biro Administrasi Umum Bidang Sarpras.
“Mereka akan kami laporkan ke polisi. Seperti tadi Bu Mia bawa palu saat perusakan itu terjadi,” ujarnya.
Terkait dugaan pengguan preman, Slamet Riyadi mengaku hanya meminta bantuan security outsourcing untuk menghindari terjadinya bentrok. “Jadi kami tidak menyerang, hanya bertahan saja,” jelasnya.
Sementara itu, kubu Soeja’i melalui Rektor Pieter Sahertian mengakui bahwa pihaknya memang akan melangsungkan wisuda. Pasalnya, ia tidak ingin konflik yayasan ini merugikan mahasiswa. “Rencananya hari ini kami menyebarkan undangan wisuda ke mahasiswa, tapi belum sempat karena sudah kacau dulu,” tuturnya.
Meski begitu, lanjut dia, wisuda pada 5 Mei 2018 nanti akan tetap berlangsung karena tidak ada aturan dari Kemenristekdikti yang dilanggarnya. “Kami tidak melanggar, poin dari sanksi – sanksi itu sudah kami pelajari. Dan yang perlu diketahui, sanksi dari Dikti turunnya setelah mahasiswa melakukan yudisium,” pungkasnya.
Menanggapi ketegangan yang terjadi hari ini, Pieter menyebut bahwa tuduhan dari kubu Christea itu mengada – ada. “Saya memang tidak tau persis, tapi saya yakin itu ndak benar. Yang dibilang kalau saya mencekik itu saja ndak benar, karena saya itu hanya memegangi bagian leher belakangnya saja untuk meminta security itu turun,” sebutnya. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian berhasil mengendalikan massa dari kedua kubu, sehingga suasana kembali kondusif. [mut]

Tags: