Harga Mati untuk Literasi

Judul Buku : Menulis atau Binasa!
Penulis : Eko Prasetyo, S.S., M.I.Kom..
Penerbit : Mejatamu
Edisi : 2018
Tebal : 48 Halaman
ISBN : 978-602-6679-43-7
Peresensi buku : Khoirun Nisak
Guru dan Penulis Buku 

“Menulislah dengan hati, sehingga bisa menembus hati orang lain,” terang Wahyu Kuncoro, editor harian Bhirawa. Kalimat ini cukup bisa dimafhumi, mengingat tujuan dari menulis untuk bisa dibaca orang lain.
Menulis dengan hati bisa dimaknai dengan sebuah aktivitas yang dilakukan tanpa adanya paksaan. Didasari sebuah kemauan dan kecintaan. Menghasilkan sebuah tulisan yang mengalir dan mampu dinikmati oleh banyak orang dengan hati.
Untuk menghasilkan tulisan dengan hati, seseorang harus pandai membaca lingkungan sekitar. Di sanalah tersimpan beragam inspirasi yang bisa dituliskan dan dibagikan kepada orang lain.
Hal inilah yang coba dilakukan oleh Eko Prasetyo. Kebiasaan mencatat segala sesuatu yang dialaminya menjadi inspirasi dalam setiap tulisannya. Buku saku, Menulis atau Binasa! Berisi 14 artikel yang terbilang unik. Dikumpulkannya dari catatan-catatan harian selama mengenyam pendidikan di Pascasarjana Prodi Ilmu Komunikasi Universitas dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya.
Berisi kritikan-kritikannya terhadap realita sosial di sekitar. Digambarkan secara apik dengan gaya bertuturnya yang mengalir. Sorotan pemikirannya mendalam, namun dikemas dengan renyah dan bisa dinikmati dengan sedap. Tak perlu mengernyitkan dahi untuk dapat mengikat makna tulisan ini. Inilah salah satu kelebihan penulisnya. Menuturkan kajian mendalamnya dengan bahasa tutur santai. Dengan tujuan bisa dinikmati oleh siapa pun.
Nuansa gokil memang tak pernah lepas dari tulisan Eko Prasetyo. Penggemar buku-buku sejarah ini meyakini bahwa, buku berkualitas tidak harus ditulis dengan bahasa ilmiah dan saklek. Membuat orang mengernyitkan dahi kala membacanya. Sebaliknya, buku harus mampu membantu pembacanya untuk bisa memahami isinya dengan mudah. Tentu saja pesan yang ingin disampaikan juga akan mengena.
Menyampaikan misi literasi melalui goresan pena. Meskipun buku cetak mulai tergerus keberadaannya dengan bermunculannya media online. Namun, penulis tetap berkeyakinan bahwa menulis itu perlu dan penting. Ide dan gagasan bukan untuk disimpan dalam laptop. Suatu saat bisa rusak dan hilang. Hingga tulisan itu takkan bisa menginspirasi orang lain. Mubazir, bukan?
Optimisme itu selalu dibangun melalui komunitas-komunitas menulisnya. Mengajak remaja sekitarnya untuk belajar menyampaikan pendapatnya lewat tulisan dan membukukannya.
Sepenting itu gerakan menulis perlu dilakukan, begitupun dengan membaca. Budaya baca masyarakat pun perlu digalakkan. Jika perlu adanya iklan membaca setegas iklan merokok sebagai penanggulangan bahaya kanker. Karena budaya baca masyarakat nampaknya ada pada level darurat.
Eko menyebut harga buku yang kurang bersahabat menjadi salah satu pemicu rendahnya budaya baca masyarakat. Pemerintah diharapkan mendukungnya melalui buku murah/gratis, pendidikan terjangkau, sarana prasarana teknologi memadai dan merata, serta SDM pendidik berkualitas. (Hal. 34).
Menyoroti pendidikan bekualitas bisa dimulai dengan penyediaan pendidik berkualitas. Adanya pemerataan pendidik berkualitas juga akan mendukung terlaksananya gerakan literasi sekolah yang dicanangkan Kemdikbud.
Guru harus juga doyan baca, jika ingin menanamkan budaya baca pada siswanya. Guru juga harus memberikan teladan menulis, jika ingin siswa mengikutinya. Wujudkan generasi berkualitas dengan teladan positif!
Salam Literasi.

———– *** ————

Rate this article!
Harga Mati untuk Literasi,5 / 5 ( 3votes )
Tags: