ECC STTS Wadahi Mahasiswa Kembangkan Berbahasa Inggris

Salah satu juri dari STTS, Jenny Ngoh saat memberikan sebuah pertanyaan kepada salah satu peserta pada kompetisi “Storytelling Competition 2018 : Calvin and Hobbes” pada Rabu (16/5).

Surabaya, Bhirawa
Istilah ‘mendongeng’ mungkin bagi masyarakat yang hidup di era digital bukan lagi menjadi sebuah aktivitas yang berkesan. Di mana penguatan emosional antara anak dan orangtua, khususnya ibu secara otomatis terbentuk. Bahkan, dulu ‘mendongeng’ tidak hanya digunakan orangtua untuk menemani anak tidur, melainkan juga dijadikan media oleh guru dalam proses pembelajaran bagi anak-anak TK dan SD. Sisi lain, ‘Mendongeng’ juga seringkali dijadikan alat terapi bagi anak-anak korban bencana alam. Namun sayangnya, aktivitas ‘mendongeng’ saat ini menjadi suatu hal yang kurang lazim. Diungkapkan anggota panitia English Conversation Class (ECC) Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) Agus Gunawan jika diadakannya Storytelling Competion “Calvin and Hobbes” merupakan bentuk untuk merangsang kembali minat mendongeng dengan penggunaan bahasa inggris.
“Kenapa menggunakan bahasa inggris dalam mendongeng? Karena kami menilai pentingnya meningkatkan keterampilan berbahasa asing khususnya bahasa inggris” ungkapnya.
Sisi lain, lanjut dia, Bahasa Inggris dibutuhkan sebagai bahasa internasional untuk membangun hubungan bilateral antar negara. Selain itu, menurut koordinator ECC ini juga mengungkapkan jika keterampilan berbahasa inggris diperlukan untuk meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM).
Pemilihan “Calvin and Hobbes” sendiri, dijelaskan Agus sapaan akrabnya karena memiliki imajinasi sangat tinggi. Di mana di dalamnya, tokoh Calvin berimajinasi dengan boneka yang bernama Hobbs sebagai teman nya, yang sesungguhnya adalah sebuah boneka.
“Untuk bisa bercerita sesuai comic stripes yang diberikan, peserta harus bisa memahamj gambar yang diberikan dengan menggunakan imajinasinya untuk mengembara di dunia dongeng Calvin” Ulas Agus.
Dijelaskan Agus, bahwa unit ECC STTS merupakan wadah yang mewajibkan mahasiswa nya dalam mengolah dan mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi menggunakan bahasa inggris. ” Unit kami mempunyai 4 level. Level satu mahasiswa dilatih berkomunikasi satu arah (berbicara ‘sendiri’), level dua mahasiswa dilatih berkomunikasi dua arah, ketiga mahasiswa diajarkan berargumentasi dalam berbahasa inggris, dan level empat kemampuan mahasiswa dalam presentasi berbasa inggris” jelasnya. Koordinator ECC, Agus Gunawa berharap agar mahasiswa semakin terpacu dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris di tengah persaingan global.

Asah Kecakapan Mahasiswa dalam Mendongeng Melalui Storytelling
Sebagai upaya peningkatan kecakapan berbahasa inggris mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) mengadakan kompetisi Storytelling yang diikuti 32 peserta dari seluruh jurusan. Lomba tersebut diikuti oleh mahasiswa STTS baik yang masih dalam proses pembelajaran di ECC maupun yang sudah lulus dari ECC. Salah satu juri ECC yang juga dosen bahasa inggris STTS mengungkapkan jika pada dasarnya Storytelling adalah media dalam melatih kemampuan komunikasi dan imajinasi. Pada tahap final, ulas Jenny Ngo, mahasiswa hanya diberikan waktu sekitar dua hingga tiga menit untuk bisa memahami cerita komik ‘Calvin and Hobbes’.
“Dalam penjurian ini, kriteria penilaian berdasar pada konten. Di mana mahasiswa di minta membaca dan mengembangkan cerita nya. Seberapa kreatif anak-anak develop kreatifitas mereka” ungkapnya.
Lebih lanjut, sebagai tim penilaian pihaknya juga memperhatikan kunci dalam bahasa inggris. Seperti Pronunciation, vocabolary , dan performance. “Performance sendiri meliputi intonasi dan emosional cerita. Bagainana dia juga harus berekspresi senang, sedih kecewa dan sebagainya” sahutnya.
Diakui Jenny Ngoh jika penampilan 32 peserta sangat mengagumkan. Di mana basik mereka yang teknik mampu memberikan penampilan diluar prediksi baik bagi juri maupun unit ECC.
“Saya merasa senang sekali dengan penampilan mereka. Mereka tidak hanya menyiapkan hardskill yang dipunya, melainkan juga softskill dalam bentuk conversation” tandasnya.
Sementara itu, peraih juara satu dalam Storytelling “Calvin and Hobbes” Celine Angelina mengungkapkan jika peringkat tersebut jauh dari prediksinya. Mengingat ia sempat mengalami perasaan nervous.
“Sempat nervous banget. Apalagi performance teman-teman juga bagus banget. Jadi gak nyangka bisa juara 1” ungkap mahasiswa siste informasi bisnis semester 6 ini.
Mahasiswa yang lulus dari unit ECC level empat ini menambahkan, meskipun hanya diberikan waktu yang terbatas, namun sebelumnya ia sudah membaca komik “Calvin and Hobbes”. Sehingga sedikit banyak, ia menilai bahwa hal tersebut juga mendukung performance nya pada hari ini (Kemarin). [ina]

Tags: