Ditreskrimsus Polda Jatim Bongkar Praktik Prostitusi Online

Wadireskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara (tengah) menunjukkan bb foto korban dan tersangka, Rabu (9/5). [abednego/bhirawa]

Polda Jatim, Bhirawa
Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim berhasil mengungkap kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang dilakukan secara online. Petugas mengamankan satu orang tersangka, yang diduga sebagai mucikari berinisial Y alias Keiko (40).
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, modus operandi pelaku yakni menyediakan ratusan model, yang kemudian ditawarkan melalui media sosial (medsos). Bahkan dalam pengungkapan kasus ini, lanjut Barung, penyelidik sampai memburu tersangka hingga ke Bali, untuk bisa mengamankannya.
“Dalam rangka menarik orang untuk melakukan prostitusi melalui jejaring online. Yaitu melalui Facebook, Instagram, maupun Twitter,” kata Kombes Pol Frans Barung Mangera, Rabu (9/5).
Sementara itu, Wadireskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara menjelaskan, pengungkapan kasus ini, pihaknya telah melakukan pengintaian selama dua bulan terakhir, di situs situs jejaring sosial. “Rupanya kita menemukan ada keganjilan, ada tawar menawar dan dilaksanakan transaksi oleh seseorang dengan orang lain,” jelasnya.
Dari situ, sambung Arman, Polisi akhirnya mengungkap terjadinya perdagangan orang yang dilakukan oleh saksi sebanyak dua orang. Kedua saksi ini berinisial AI dan YIL. Dari keterangan dua orang inilah, Polisi mengetahui pelaku diatasnya.
“Kita kembangkan dan berhasil mengamankan tersangka beinisial Y,” ucapnya.
Arman menambahkan, modus operandi Y dalam memperdagangkan modelnya adalah, pelaku atau tersangka ini menawarkan foto korbannya. Awalnya, lanjut Arman, tersangka menawarkan pada seseorang yang memesan, kemudian setelah itu dilaksanakan transaksi oleh tersangka. Oleh tersangka, ratusan model yang dimilikinya itu ditawarkan dengan harga antara Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta rupiah.
“Keuntungan dari pembayaran tersebut diberikan kepada mucikari itu sebanyak 35 persen,” tambahnya.
Berdasarkan informasi, lanjut Arman, tersangka telah menjalankan aksinya selama dua tahun terakhir. Adapun daerah operasinya berada di tujuh Provinsi di Indonesia, yakni Jatim, Jateng, Jabar, Bali, dan wilayah Kalimantan.
Tersangka dijerat dengan Pasal 27 ayat 1 Jo Pasal 45 ayat 1 UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 12 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. [bed]

Tags: