Disbudpar Gelar Sarasehan Kesenian Ludruk

Pentas seni ludruk di samping halaman KPU Surabaya dalam rangka sosialisasi pemilu serentak, Sabtu (21/4) malam.

Pemprov jatim, Bhirawa
Beberapa pekan lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur (Disbudpar Jatim) melalui UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPPK) melangsungkan kegiatan sarasehan kesenian ludruk. Hal ini mengingat ludruk berasal dari Jawa Timur, sehingga diperlukan cara atau pola lain dalam melestarikannya.
Menurut Kepala Disbudpar Jatim, Dr H Jarianto MSi, ludruk memiliki dua sisi yang perlu diperhatikan. Pertama, ludruk adalah sebuah seni pertunjukan. Kedua, ludruk memiliki esensi tentang peradaban yang sesuai dengan kebutuhannya untuk masyarakat.
“Esensi ludruk adalah sarana promosi mengajak masyarakat berjuang bersama-sama melepaskan dari penjajahan imperialis dan kolonialis menjadi manusia yang merdeka. Itu adalah salah satu esensi petriotisme ludruk,” katanya.
Tetapi bukan hanya itu esensinya, lanjutnya, ludruk bukan hanya untuk mengajak perang, tetapi juga berkaitan dengan kesenangan, pertanian atau hal-hal yang lain. “Artinya, ludruk itu serba bisa, serba mungkin, dan bisa apa saja. Ludruk bisa menjadi ajang untuk apa saja,” ujarnya.
Ditambahkannya, ludruk sebagai sebuah seni pertunjukan, mungkin tidak usah terlalu lama dalam hal penyajiannya. Sedikit tetapi dapat dirasakan dan orang selalu merasa kurang, dan ada rasa ingin melihat lagi.
“Kalau perlu, ketika episode pertama disebutkan nantikan episode berikutnya dan seterusnya sampai sepuluh episode misalnya dimana pada akhirnya mengungkapkan adanya nilai-nilai filosofis dalam ceritanya,” katanya.
Begitupula dengan teknik pertunjukan juga penting. Latihan harus seringkali dlakukan. Jika perlu memang ada lomba kidungan. “Itu penting, tidak hanya suaranya saja yang bagus, intonasinya baik, kosa katanya bagus, tetapi bagaimana isinya dalam kosakata kidungan itu juga harus dipikirkan. Bagaimana mengajak masyarakat untuk secara bersama-sama memikirkan kepentingan umum.,” ujarnya.
Dikatakannya, juga ludruk itu sebuah bentuk kesenian yang juga mengandung kritik terhadap kehidupan bermasyarakat. “Kalau pemerintah jelek juga perlu dikritik. Kritik itu bukan berarti menentang atau melawan tapi membangun. Yang penting konstruktif dan kondusif, tidak menimbulkan huru-hara,” katanya.
Ia juga mengatakan, untuk bisa memikirkan ludruk bisa lestari kedepannya, tentunya tidak bisa sendirian. Setidaknya, perlu juga mengajak stake holder.
“Darimana memulainya, apa yang harus dikerjakan lebih dulu, dan bagaimana implementasinya. Bagaimana ludruk dapat memberikan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan dalam kehidupan,” ujarnya. [rac]

Tags: