Cetak Eksportir Handal Datangkan Marketing International

Diah Irawati, pemimpin sub devisi marketing Internasional Banking Bank Jatim didampingi Pimpinan Bank Jatim Bondowoso Endang Saraswulan dan Suhartono Dari Diskoperindag. (samsul Tahar/Bhirawa)

Bondowoso, Bhirawa
Puluhan pengusaha di Kabupaten Bondowoso mengikuti sosialisasi dengan tema “Pengembangan Ekspor” di aula Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso. Kegiatan yang masih pertama kali di Bondowoso ini mendapatkan support dari Bank Jatim Bondowoso, Rabu (23/5) kemarin.
Dalam sambutannya, Pimpinan Bank Jatim Bondowoso Endang Saraswulan memperkenalkan diri sebagai orang di Bondowoso butuh dukungan dari semua pihak. Karena saat ini Bank Jatim ada di beberapa capem di Bondowoso dan 5 kantor kas, bahkan saat ini Bank jatim sudah menjadi bank devisa.
‘Kegiatan kali ini kami menggandeng diskoperindag karena binaannya banyak pelaku ekspor dan impor, karena tak kenal maka tak sayang,” kata Saras.
Dalam kesempatan itu dia menyampaikan harapannya pada Pengusaha untuk bisa menggunakan bank Jatim dengan biaya murah dan jika bertaransaksi di bank jatim berarti membantu Pemkab untuk pembangunan dan berbagai dukungan lain.
“Bank Jatim kan banknya Pemkab Bondowoso, jadi dengan mendukung bank Jatim berarti mendukung pembangunan,” katanya.
Saras juga menjelaskan jika selama ini dana pemda dari bank jatim disalurkan ke ekspansi kredit, maka Pemateri untuk ini dibawa dari kantor pusat karena bank jatim sudah go Internasional.
Selaku pemateri, Diah Irawati, pemimpin sub devisi marketing Internasional Banking Bank Jatim, Bank Jatim selalu support dan kolaborasi dengan intansi pemerintahan melalui tagan-tangan trampil yang ada di cabang-cabang di seluruh Jatim. Rangkaian acara ini untuk menggalakkan program pemerintah Jawa Timur dalam bidang ekspor impor. Terutama dalam ekspor yang saat ini masih terbilang sangat kecil di banding dengan impor.
“Kita terjun di seluruh cabang di Jawa Timur, dan pada tahun 2017 kita sudah memberitahukan bahwa Bank Jatim saat ini sudah Bank Devisa. Langkah ini bertujuan untuk ekspor impor selain join marketing kita juga sosialisasi, program promosi dan rangkul pengusaha yang ada di daerah,” katanya.
Para pengusaha agar lebih berani melakukan ekspor impor secara mandiri tanpa takut untuk mencari reder di luar. Sebetulnya pengusaha di daerah itu berpotensi sangat besar, tapi masih minim pengalaman.
Lanjut Diah, menjelaskan baik pengalaman di perbankan, ekspor impor dan akhirnya pasrah kepada reder yang ada diluar. Artinya dengan harga diluar dan juga yang dapat untung diluar, dan para pengusaha di daerah hanya berproduksi saja.
“Kita selaku instansi di perbankan yang dimiliki masyarakat Jatim untuk membantu program pemerintah di seluruh Jatim. Penyebab ekspor masih di bawah impor sangat banyak sekali secara makro ekonomi dan sampai saat ini lebih surplus impor dari pada ekspor,” jelasnya.
Sejatinya, produk yang ada di bandigkan dengan produk dari luar negeri tidak kalah. Cuman, simple saja mengenai produk salah satu contohnya yaitu packaging, dan packing masih belum diterima diluar negeri.
Kenapa tidak diterima sambung Diah, mengatakan karena masih dianggap tidak higienis oleh negara-negara maju dari sisi packagingnya. Kemudian dari sisi lain yaitu soal makanan yang diluar negeri mintanya bahan yang organik.
“Di Negara Kita organiknya masih di pinggir jalan, atau di bilang organik karena tidak memakai pupuk kimia. Padahal kalau di luar negeri yang namanya organik itu tidak hanya memakai pupuk kimia, tapi lahan tanahnya di kosongkan terlebih dahulu selama beberapa tahun,” katanya.
Selain itu, lokasinya beberapa kilometer dari lahan tersebut tidak dimasuki oleh mesin-mesin yang mengakibatkan polusi. Sekeliling lahan tersebut di kelilingi pohon pinus.
“Hal ini yang masih belum di ketahui oleh saudara kita. Kalau negara maju bilang organik standart 5, kita masih belum masuk kesana,” jelasnya.
Kemudian pengusaha saat ini dari faktor skil masih tergolong kurang dan sampai saat ini masih memakai reder yang penting beres dan sampai diluar negeri langsung terima pembayaran. Padahal kalau mau ekspor sendiri maka keuntungannya lebih besar dan devisanya juga besar pula.
“Potensi ekspor di Kabupaten Bondowoso peluangnya sangat besar, dan saat ini masih terlena cara pemakaian reder. Karena kelemahan pada proses masuknya masih sangat minim dan masih perlu pengarahan,” pungkasnya.
Sementara Suhartono, Kepala Bidang Perdagangan Diskoperindag mengatakan kendala di bondowoso mengenai eksportirnya masih melalui Surabaya semua. Target Bondowoso untuk mengembangkan potensi ekspor yang ada di Bondowoso.
“Kita targetkan empat eksportir, sekarang alhamdulilah sudah mencapai 6 eksportir Bondowoso. Saya berharap melalui Bank Jatim bagaimana pengembangan kedepannya agar di Bondowoso juga ada Bank Devisa,” katanya.
Sebab, tanpa adanya Bank Devisa maka semua eksportir bolak balik ke Surabaya. Akibat pencairannya masih mondar-mandir, diharapkan dengan adanya Bank Devisa maka Diskoperindag Khususnya di perdagangan bisa menerbitkan Surat Keterangan Asal (SKA).
“Kalau SKA sudah masuk di Bondowoso, maka pajak ekspornya di bayar via Bank masing-masing. Harapan kami adanya manyoritas yang tinggi, kedepannya ada mobilitas ekspor impor dan dunia perdagangan di Bondowoso akan semakin bervariasi,” urainya.
Lanjut Suhartono, menjelaskan dampak ekspor ini terhadap masyarakat tentunya penyerapan tenaga kerja akan semakin banyak. Karena produk pertanian sangat butuh tenaga yang sangat terampil.
“Persyaratan untuk menjadi eksportir itu di administrasinya sangat mudah, akan tetapi persyaratan di bisnisnya sangat susah. Karena eksportir di Bondowoso kirimnya via Surabaya, LC lewat Sby, SK dan lainnya semuanya lewat Surabaya,” pungkasnya.
Tampak hadir dalam acara itu beberapa pengusaha di Bondowoso diantaranya pengusaha kopi, beras dan pengusaha lainn di bidang ekspor dan impor. [har]

Tags: