Akhirnya KPK Tahan Wali Kota Mojokerto Mas’ud Yunus

Wali Kota Mas’ud Yunus diapit petugas saat keluar dari ruang pemeriksaan dengan mengenakan baju warna orange, khas tahanan KPK. [kariyadi/bhirawa].

(Usai Empat Kali Diperiksa sebagai Tersangka)

Kota Mojokerto,  Bhirawa
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menahan Wali kota Mojokerto,  Rabu (9/5). Penahanan yang dilakukan lembaga anti rasuah ini mengejutkan banyak pihak.  Pasalnya, pemeriksaan yang diakhiri dengan penahanan itu,  merupakan yang keempat kalinya bagi Wali kota Mojokerto sejak ditetapkan sebagai tersangka 23 Nopember lalu.
Mas’ud Yunus ditahan KPK,  setelah diperiksa selama 7 jam. Wali kota berangkat ke gedung KPK di Jakarta dengan dikawal Kabag Humas dan Protokol Chairil Anwar,  Kabag Hukum Pidji Harjono sertadua orang ajudan.  Pemeriksaan penyidik KPK dimulai sejak pukul 9.45 Wib.
Mas’ud Yunus (MY) setelah dilakukan diperiksa KPK, baru keluar dari ruang pemeriksaan pukul 16:45 WIB dan sudah memakai rompi warna orange  baju tahanan KPK.
Mas’ud Yunus ketika ditanya insan media mengatakan, akan selalu kooperatif menjalani proses hukum dan bersyukur bisa mengikuti proses hukum sampai selesai.
“Saya merasa bersyukur kepada Allah SWT bisa mengikuti proses ini sampai berakhir dan lancar, tetap kooperatif saya,” katanyadihadapan media saat menuju mobil tahanan.
Wali kota yang maju dalam Pilwali bergandengam dengan Suyitno senagai wakilnya ini, ditetapkan sebagai tersangka sejak 23 November 2017 dan sudah diperiksa KPK sebanyak empat kali. Tersangka MY diduga bersama Wiwiet Febryanto Kepala Dinas PUPR memberikan sejumlah uang suap sebesar Rp 470 juta kepada anggota DPRD Kota Mojokerto yang berujung adanya OTT di kota Mojokerto tahun lalu.
Atas perbuatannya, MY disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.
Sebelumnya, KPK sudah menetapkan 4 tersangka, yakni Wiwied Febryanto dan tiga pimpinan dewan Purnomo, Umar Faruk dan Abdullah Fanani, Keempatnya sudah divonis di PN Tipikor Surabaya. [kar]

Tags: