UINSA Tambah Dua Prodi Baru di SPANPTKIN dan UMPTKIN

Wakil Rektor 1 Muhammad Syamsul Huda ditemani Kabag Akademik Abdullah Rofiq Mas’ud dalam Press conference pendaftaran mahasiswa baru jalur SBMPTN, UM-PTKIN, dan Mandiri di UIN Sunan Ampel, Rabu (25/4).

Surabaya, Bhirawa
Daya tampung Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya akan semakin bertambah dengan dibukanya dua prodi baru tahun ini. Bila sebelumnya UINSA memiliki 17 prodi umum, tahun ini menjadi 19 prodi seiring keluarnya izin dari Kemeterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk prodi sastra Indonesia dan pendidikan IPA.
Wakil Rektor I UINSA Syamsul Huda menuturkan, total prodi di UINSA saat ini menjadi 43. Rinciannya, 19 prodi umum dan 24 prodi keagamaan. Dua prodi yang baru keluar izinnya itu hanya menerima mahasiswa baru melalui jalur mandiri. “Prodi sastra Indonesia dan pendidikan IPA sudah kami ajukan izinnya tahun 2015 lalu, tapi baru keluar tiga minggu yang lalu,” katanya, Rabu (25/4).
Dengan begitu, lanjut dia, dua prodi tersebut belum bisa diikutkan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri di UINSA buka mulai 14 Mei sampai 11 Juli mendatang. “Tahun ini, total kuota di UINSA yang tersedia adalah 4625. Dengan asumsi jumlah mahasiswa 30 setiap kelasnya,” tutur dia.
Syamsul menjelaskan, tambahan Prodi baru pada pilihan jalur mandiri tersebut merupakan hasil dari kerjasama dengan beberapa negara sahabat yang tertarik dalam mempelajari bahasa Indonesia. “Terbukanya prodi ini nantinya akan disikapi oleh negara sahabat, apakah mereka nantinya akan menjadi guru atau dosen yang akan melakukan pembelajaran di negara sahabat” ungkapnya.
Misalnya saja, tambah dia, di Thailand mereka siap merekrut guru sastra untuk mengajari bahasa melayu atau bahasa nusantara yang mulai kehilangan identitasnya. Kemudian, beberapa lembaga pendidikan di Jerman juga tertarik dalam mempelajari bahasa Indonesia, termasuk juga siswanya.
“Diresmikannya dua prodi ini, merupakan bagian penting dari diplomasi yang harus kita jaga dengan berbagai negara sahabat” tuturnya
Sementara itu, tambah dia, untuk prodi IPA ia menilai bahwa integrasi antara peran ilmu sains dengan agama sangat lemah. “Misalnya saja kultur di madrasah dengan sekolah umum, Sumber Daya Manusia keduanya di bidang agama dan sains sangat lemah. Lebih tepatnya, integritas keduanya yang lemah” tutur Syamsul.
Berdasar Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2015 tentang PMB Program Sarjana pada PTKIN, diatur pola penerimaan mahasiswa dengan jumlah alokasi daya tamping SPAN PTKIN sebanyak 50 persen, UM PTKIN 30 persen dan seleksi Mandiri untuk prodi Agama adalah 20 persen. “Kami sediakan sekitar 200 beasiswa pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama delapan semester. Di mana 120 untuk tahfidz dan 80 untuk bibit unggul yang meliputi prestasi di bidang seni, olahraga dan akademik” tutur Syamsul. [ina]

Tags: