Pilkada dan Penguatan Pelajar Hebat

Muhibuddin

Oleh :
Muhibuddin
Guru MAN 2 Tulungagung, Bermukim di Ds Tanggulturus, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung

Siapa sangka kegemarannya menekuni desain grafis, akhirnya mengantarkan Muhammad Farid Husein, pelajar SMAN 1 Ponorogo, Jawa Timur, sebagai pemenang lomba desain medali Youth Olympic 2018 yang bakal dihelat di Argentina. Siapa sangka pula Hanum Dzatir Rajwa dan Izza Aulia Putri Purwanto, pelajar SD dari Jawa Tengah, mampu mencipta media bermain Snake and Ladder bagi anak tuna netra. Karya ini berhasil menyabet medali perak dalam International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2017 di Jepang.
Teknologi temuan Naufal Raziq, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh, boleh jadi juga menakjubkan. Pelajar ini berhasil menemukan energi listrik dari pohon kedondong. Begitu pula eksperimen siswa SMA Unggulan Del di Laguboti, Sumatera Utara, tentang pertumbuhan ragi (yeast) di luar angkasa. Ini juga hebat. Setelah direspons lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA), Maret 2016, proyek penelitian itu diluncurkan ke luar angkasa dengan roket Atlas 5 dari Florida.
Sederet fakta yang dipaparkan di atas hanyalah sebagian kecil dari kehebatan pelajar-pelajar di tanah air. Di luar itu, masih seabrek pelajar yang memiliki kehebatan lain di bidang akademik maupun non akademik dengan reputasi yang mendunia pula. Melihat prestasi dan karya-karyanya yang spektakuler, tak berlebihan mereka diberi predikat : pelajar hebat.

Momentum Pilkada
Di tengah gegap gempita pemilihan kepala daerah (pilkada), menggeliatnya pelajar hebat di kancah pendidikan, agaknya menarik diwacanakan kepada calon kepala daerah (cakada). Ini bukanlah mengada-ada. Pasalnya, dalam kontestasi pilkada, nyaris semua cakada mengusung isu pendidikan dalam visi misi mereka. Bahkan, tak jarang, tawaran program berbasis isu pendidikan, justru menjadi tema andalan yang disuarakan di panggung-panggung kampanye hingga arena debat publik untuk pemikat calon konstituen.
Hanya, selama ini, program pendidikan yang diusung cakada untuk ditawarkan kepada calon pemilih, nampaknya masih berkutat pada isu-isu klise. Misalnya, tawaran program pendidikan gratis, pemberian seragam sekolah cuma-cuma, bantuan infrastruktur hingga peningkatan kesejahteraan guru. Ini tidak salah. Bahkan, tawaran program semacam ini diyakini memiliki nilai jual tinggi karena bisa digunakan untuk bertransaksi langsung dengan calon pemilih.
Meski begitu, para cakada mestinya tidak latah memikat hati calon konstituen dengan mencuatkan isu-isu klise seperti tawaran pendidikan gratis hingga peningkatan kesejahteraan guru. Sebab, hampir semua cakada, dipastikan juga tidak ketinggalan mengusung tema klasik serupa. Dengan demikian, tawaran program yang mulanya terkesan ekslusif akhirnya terasa normatif dan kurang “seksi” untuk menghipnotis calon pemilih. Di sisi lain, publik kelihatannya sudah apriori dengan tawaran program klise semacam itu karena realisasinya terkadang hanya isapan jempol belaka.
Itu sebabnya, ketika menawarkan program berbasis isu pendidikan, seharusnya cakada mengemas ulang dengan menambahkan muatan tema-tema pendidikan yang lebih krusial dan substantif. Fenomena pelajar hebat, barangkali pantas dilirik cakada untuk diusung menjadi salah satu tambahan issues and policies yang berpotensi untuk dijadikan magnet pendulang suara.
Dalam pertarungan pilkada, pilihan isu dan kebijakan yang ditawarkan cakada sangat bermakna. Sebab, jika merujuk pada pendekatan political marketing sebagaimana tertuang dalam buku “Iklan dan Politik” (Setiyono, 2008 : 20 ), issues and policies termasuk salah satu domain kognitif yang ikut memengaruhi perilaku pemilih. Dengan begitu, cakada mesti cerdik dalam mengusung isu dan kebijakan jika ingin mendapatkan simpati calon pemilih.

Bersentuhan Dunia Anak Muda
Mengapa issues and policies bertema pelajar hebat layak diusung cakada dalam kontestasi pilkada? Pertama, isu dan kebijakan tersebut banyak bersentuhan dengan dunia anak muda. Jadi, isunya sangat youth banget. Dari kacamata ini, jika tawaran kebijakan berbasis potensi pelajar hebat digelorakan cakada, diasumsikan mempunyai potensi besar untuk menggaet calon pemilih muda yang notabene pemilih pemula.
Lihatlah, jika isu dan kebijakan terkait fenomena pelajar hebat itu di-breakdown dengan cerdik. Sederet program menarik untuk anak muda bakal bermunculan. Misalnya, untuk mengakomodir pelajar yang punya potensi bidang karya ilmiah dan rekayasa teknologi, digulirkan program “Gerakan Seribu Inventor”. Bagi yang berpotensi bidang olah raga digelorakan program “Yuk jadi Atlit Pelajar”.
Demikian pula bidang seni budaya dimunculkan program “Belajar jadi Maestro Seni” dan program “Ayo Bro jadi Juara OSN” bagi pelajar yang berpotensi bidang olimpiade sains. Begitu seterusnya. Sangat menarik dan cocok dengan spirit anak muda yang hidup di era milineal. Nah, bukan tidak mungkin, tawaran program yang demikian, ending-nya bisa berbuah di bilik suara. Kalangan muda berbondong memilih sang kandidat selaku penggagas platform ini.
Kedua, pelajar hebat yang menggeliat belakangan ini terkesan begitu massif dan fenomenal. Diakui atau tidak, itu merupakan dinamika dan progres pendidikan yang mestinya direspons lebih serius. Di sisi lain, di antara pelajar hebat yang bermunculan, ternyata, tak sedikit yang berasal dari daerah. Itu artinya, putra-putri di daerah juga berpotensi untuk diorbitkan menjadi pelajar hebat.
Karenanya, eman-eman jika fenomena pelajar hebat tidak di-follow para cakada melalui tawaran program dan kebijakan pendidikan yang relevan sebagai respons apresiatifnya. Percayalah, di belakang sana masih seabrek bibit-bibit pelajar hebat yang bertebaran di berbagai pelosok daerah. Hanya, kemungkinan mereka masih tiarap di balik bangku-bangku sekolah. Potensi mereka belum tersentuh dan tergarap secara optimal.
Dengan kata lain, bibit-bibit pelajar hebat itu membutuhkan penguatan. Mereka, dalam bahasa Mochtar Buchori (2001), perlu diberikan pengkayaan. Yang dimaksud pengkayaan di sini bukanlah pengkayaan konvensional dalam bentuk subject matteroriented. Tetapi, yang perlu dikembangkan dalam konteks ini adalah pengkayaan yang berupa life oriented. Yakni, pengkayaan yang diberikan untuk memberikan kesempatan siswa mencapai perkembangan optimal dari bakat terpendam dalam diri mereka. Maka, sayang sekali jika cakada tidak hadir dan mengabaikan isu yang satu ini dalam kontestasi pilkada. ***

Rate this article!
Tags: