Pembiasaan Berbahasa Jawa, Sarana Tanamkan Etika dan Moral

Pakar pengkaji bahasa dan kesustraan balai bahasa Jawa Timur, Mashuri saat memberikan pembinaan sanggar sastra pelatihan esai pada beberapa waktu yang lalu.

Surabaya, Bhirawa
Sejak 2016 yang lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengimplementasikan pembentukan karakter melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mulai dari tingkat SD hingga SMA. Menurut Kemendikbud Muhajir Efendi, bahwa penguatan pendidikan karakter merupakan fondasi dan ruh utama pendidikan. Namun, sayangnya dalam konteks ini (PPK,red), pemerintah seakan lupa akan peran penting bahasa daerah sebagai alat dalam penguatan dan pembentukan karakter yang mengarah pada jati diri pendidikan.
Pakar kajian kebahasaan dan kesastraan Balai Bahasa Jawa Timur Mashuri mengungkapkan pembiasaan bahasa daerah baik dirumah maupuan dilingkungan akan menjadi suatu sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika di kalangan anak-anak.
“Jika ditanya bagaimana peran bahasa dalam penguatan dan pembentukan karakter anak. Saya menjawab bahwa ini sangat perlu. Terlebih lagi konteks penerapannya adalah Bahasa Jawa,” ungkapnya. Selain itu, lanjut dia juga sebagai benteng pertahanan konteks bahasa itu sendiri. Mashuri menjelaskan bahwa dalam konteks Bahasa Jawa mengenal sisi hierarki kebahasaan, yaitu ngoko, madya dan karma. “Ya mungkin tiga hierarki kebahasaan itu dianggap tidak demokratis bagi sebagian besar kalangan di era saat ini” imbuhnya. Namun, yang harus disadari baik pemerintah maupun pelaku pendidikan bahwa melalui Bahasa Jawa pembentukan kepribadian personal hierarki itu memiliki makna kesejarahan dan kultural yang panjang.
“Kita dapat mengukur sendiri soal ini, bagaimana penggunaan bahasa kromo inggil sudah menyusut. Banyak orangtua muda tak lagi bisa bahasa kromo” tuturnya. Sehingga, tambah dia, orangtua pun tidak bisa memberikan contoh maupun mengajak anak untuk berkomunikasi dalam berbahasa Jawa yang halus (kromo alus).
Lulusan magister Ilmu Sastra spesialisasi Filologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berpendapat bahasa daerah merupakan peneguh jati diri, pembentukan karakter dan identitas bangsa. namun sayangnya, ia menilai jika pemerintah terkesan tidak serius dalam pelaksanaannya.
“Pemerintah mengganggap penekanan bahasa daerah ini penting, dalam undang-undang juga sudah dibahas. Tapi dalam konteks otonomi, banyak pemda yang alpa” ujarnya
Bahkan, tambah dia, peraturan daerah (perda) yang mengatur soal kebahasaan belum ada. Padahal ia menilai bahwa undang-undang bahasa sudah disahkan sejak lama. Sehingga, tidak ada sinergi untuk sama-sama melindungi dan mengembangkannya, imbuhnya dia. “Tanpa akar dan tradidi budaya, kita hanya buih di lautan percepatan perkembangan dunia” sahutnya. Mashuri menegaskan bahwa posisi bahasa daerah sampai kapanpun akan tetap menjadi bahasa yang penting dalam menyampaikan jati diri dan identitas bangsa.
“Bahasa Indonesia penting untuk menumbuhkan sikap nasionalisme, kebangsaan dan persatuan, bahasa asing penting agar tidak tergilas dari perkembangan dunia” tuturnya.
Menurut Mashuri, penerapan pembiasaan dalam menggunakan bahasa daerah perlu dilakukan secara mendesak. Ia memaparkan bahwa persoalan bahasa merupakan unsur budaya yang utama. dengan kondisi dunia saat ini, tentunya sikap untuk mempertahankan budaya adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
“Soal bagaimana moral dan karakter nanti terbentuk, saya kira itu hanya efek saja. Karena ini terkait ego dan harga diri bangsa juga” urainya. Lebih lanjut, harus ada strategi kebahasaan yang bersifat ‘rekayasa’ kultural dan kebijakan dengan melibatkan pemerintah baik dari pusat dan daerah, segi perundangan, pelaksanaan dan bagaimana memasukkanya dalam dunia pendidikan. Misalnya saja, contoh dia, dalam pembiasaan slogan Senyum, Sapa, Salam (3S) yang dilakukan pada tingkat SD hingga SMA yang bersifat umum dan digunakan dalam konteks apapun.
“Bahkan untuk marketing dan satpam bank, bisa menggunakan slogan itu. kalau dalam penggunaan bahasakan lebih pada esensial dan memiliki akar” tambah dia.
Slogan 3S, ujarnya, memang bersandar pada etika. Akan tetapi, ada yang lebih mendasar lagi, yaitu persoalan etika. “Di katakan pembentukan utama karakter anak, tentu bukan. Tapi, sebagai salah satu pembentukan iya. Karena masih ada agama, pendidikan moral dan pendukung lainnya” imbuhnya.
Dalam pembiasaan penggunaan bahasa Jawa, Mashuri menyampaikan bahwa secara metode, penerapan tersebut harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Bahasa tidak hanya dijadikan sebagai alat berkomunikasi saja, melainkan juga sebagai ‘propaganda’ yang sifatnya secara visual agar bisa di terima di kalangan generasi muda.
“Generasi muda saat ini kan generasi visual. Dengan artian, mereka lebih suka dan mungkin akan ‘mencontoh’ sesuatu yang dia lihat” jelasnya.
Dalam metode ini, jelasnya, banyak pihak yang turut berperan. Tidak hanya, dari pihak-pihak tertentu yang selama ini konsen dalam ‘perjuangan’ itu. Akan tetapi, pihak entertain, pop culture, developer game, pengusaha maupun media harus turut dalam ‘perjuangan’ ini.

Filosofi Bahasa Jawa Sarat Pesan Pelajaran Hidup
Pembiasan penggunaan bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari guna pembentukan dan penguatan karakter anak, mendapat perhatian bagi pakar psikologi pendidikan dan perkembangan Universitas Airlangga (Unair), Dewi Retni Suminar. Dewi Mengungkapkan bahwa penerapan atau penggunaan bahasa jawa dalam pembentukan karakter anak, harus melihat value atau nilai yang terdapat dalam ungkapan masyarakat jawa ‘alon-alon asal klakon’. Dewi menjelaskan, konteks tersebut tidak bisa digunakan pada situasi saat ini, yang mengharuskan masyarakat atau generasi muda Indonesia harus bersaing secara ketat dalam persaingan global.
“Ungkapan-ungkapan masyarakt jawa ini kan, tidak semuanya positif, sehingga kita bisa menggunakannya dalam pembentukan karakter anak. Namun juga kan ada negatifnya,” paparnya.
Namun, dalam ruang lain, filosofi bahasa jawa menurutnya sarat akan pelajaran hidup yang bisa ditanamkan dalam kepribadian seorang anak.
Sementara itu, bagi Mirza Nur Mazida terlahir dari keluarga yang kental akan filosofi dan kebudayaan jawa sangat mempengaruhi dirinya dalam bertutur kata, bersikap maupun berpikir.
“Kebetulan ayah asli jogja, sehingga nilai-nilai tata karma, maupun bertutur kata dengan menggunakan bahasa jawa sanagt diterapkan ayah mulai saya kecil” Ungkap siswi kelas 10 SMA Negeri 16 Surabaya ini.
Mirza sapaan akrab wanita yang juga fasih dalam berbahasa Inggris ini, menceritakan jika penggunaan bahasa Jawa dengan orang tua dan romo (sebutan untuk kakek di Jogja) sudah diajarkan oleh ayahnya sejak ia masib duduk di bangku SD.
Selain Mirza, Emmanuela Aurelia siswi kelas 10 SMA Negeri 16 ini juga berpendapat jika penerapan pembiasaan bahasa jawa di era saat ini, sangat penting dilakukan. Melihat, sisi moral generasi muda saat ini cenderung mengkhawatirkan. Namun, Ia pribadi menuturkan, meskipun tidak berasal dari kalangan keluarga yang kental akan penerapan bahasa Jawa, Emmanuela mengakui bahwa orangtuanya selalu mengajarkannya untuk bersikap sopan kepada orang yang lebih tua.
“Orangtua menghimbau agar berkomunikasi dengan bahasa kromo dengan orang yang lebih tua. Jika tidak bisa, pakek bahasa indonesia” Tuturnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 16 bidang humas Abdul Razzaq menuturkan jika pihaknya memasukkan bahasa Jawa ke dalam muatan lokal, yang artinya, wajib diikuti bagi siswa kelas 10 dan 12 di sekolahnya.
“Bahasa Jawa ini kan penting untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari untuk penguatan karakter anak. Oleh karena kami wajibkan kelas 10 dan 12 untuk mengikuti mata pelajaran ini (mapel)” jelasnya. Ia berpendapat, jika anak dibiasakan dengan tutur kata santun, seperti penggunaan bahasa Jawa akan mempengaruhi kepribadian santun, lembutm memahami unggah-ungguh yang merupakan cerminan atau wajah dari identitas bangsa kita. “Namun, sayangnya hal ini tidak dipahami kebanyakan orang, terutama orang yang hidup di era saat ini. sehingga nilai-nilai seperti ini luntur” pungkasnya. [ina]

Tags: