Orangtua Harus Ciptakan Rasa Nyaman

Dewi Retno Suminar

Dewi Retno Suminar
Penyelenggaraan Ujian Sekolah Berbasis Komputer (USBK) yang beriringan dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) atau dengan kata lain ‘ujian terusan’ mendapat perhatian khusus dari pakar Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dewi Retno Suminar.
Menurut Dewi Retno Suminar jika ‘ujian terusan’ tersebut memiliki nilai positif dan negative.
“Mungkin ini pertama kalinya, ujian terusan. Kita perlu cermati ‘ujian terusan’ ini memiliki nilai positif dan negative,” ungkapnya.
Positifnya, jelas dia, mereka (siswa-siswi SMP, red) akan menjadi terlatih dalam segi waktu. Secara latihan mereka akan lebih siap. Akan tetapi jika dilihat dari segi endurance atau daya tahan ‘ujian terusan’ ini akan menimbulkan sebuah kejenuhan. Secara psikologis, lanjut penjelasan perempuan asal Madiun ini, kejadian tersebut digambarkannya seolah anak-anak ini ditarik oleh perasaan tegang dalam waktu yang relatif lama.
“Beberapa sekolah misalnya, pada hari Jumat dan Sabtu menjelang UNBK mereka melakukan pemantapan setelah USBN. Jadi positifnya disitu, mereka jadi terlatih,” ujar lulusan Doktoral Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Universitas Gajah Mada (UGM). Namun, disamping sisi positif, tambah dia, ada sisi negatif yang berdampak pada masalah psikis anak. Misalnya saja, jika orangtua tidak mampu memberikan suatu atmosfer yang menyenangkan dan membuat nyaman anak dalam situasi tegang, hal tersebut akan berdampak pada masalah psikis yang tidak begitu bagus untuk diteruskan. Mereka akan menjadi cepat marah, karena situasi yang didapatkannya adalah ketegangan.
“Hal tersebut bisa jadi membuat anak stres dengan situasi seperti itu. ketegangan yang tinggi namun tidak dibarengi dengan suasana kondusif yang mustinya harus dipenuhi orangtua untuk mengembalikan perasaan motivasi anak,” jelasnya. Ia menggambarkan, jika orang stres akan mengalami sebuah kejadian dimana ia akan fokus pada suatu hal yang menjadi penyebab dia stres, jika itu perihal nilai, maka bisa jadi dia akan mendapatkan nilai yang sama, dan tidak mencoba menjadi lebih baik, dengan kata lain dia menyesali kejadian yang sebelumnya.
“Pada situasi stres anak-anak akan sulit untuk dialihkan pada hal yang lebih positif” imbuhnya. Sehingga, guru dan orangtua, paparnya harus mengubah mental set dengan menciptakan suasana yang lebih kondusif. “Misalnya dengan memberi asupan yang menyenangkan, mereka mengijinkan anak untuk beristirahat melepas kejenuhannya” sahutnya.
Wanita berusia 51 tahun ini berpesan agar menjadikan Ujian Nasional menjadi sebuah pesta yang menyenangkan dan membahagiakan. Pasalnya, ia menganggap bahwa jika fungsi unas disamakan kedudukannya, misalnya unas dijadikan sebagai alat untuk menuntaskan sebuah pelajaran pada satu tahap berbanding terbalik ketika unas menjadi sebuah alat ukur untuk memprediksi tentang kualitas pendidikan, dan jadi tolak ukur untuk masuk pada perguruan tinggi, ia merasa hal tersebut sangat simpang dan saling menyikut. [ina]

Rate this article!
Tags: