Miris, Lihat Anak-anak Asyik dengan Gadget

Muhammad Zayn Anugrah Al-Riso

Muhammad Zayn Anugrah Al-Riso
Di era perkembangan teknologi seperti saat ini, tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban pengaruh negatif teknologi. Terlebih lagi, terkadang faktor lingkungan juga memberikan contoh yang kurang baik terhadap anak. Keadaan yang seperti itulah, menggugah kesadaran seorang siswa kelas XII, SMA Muhammadiyah X Surabaya Muhammad Zayn Anugrah Al-Riso.
Zayn, demikian sapaan akrab nya mempelopori pendirian Rumah Ramah Anak. Diungkapkan laki-laki 18 tahun bahwa alasan terbesar nya menghadirkan Rumah Ramah Anak adalah untuk memberikan ruang terhadap anak-anak dalam menumbuhkan giat literasi di tengah tantangan digital teknologi.
“Miris sih, kalau lihat anak-anak usia 5-11 tahun, saat ini yang sering mainan gadget ketimbang literasi, padahal usia mereka harusnya dibiasakan dengan membaca (literasi),” ungkapnya. Perkara literasi, lanjut dia, masih banyak masyarakat luas yang menangkap bahwa kegiatan tersebut hanya sebatas membaca dan menulis. Namun, dalam konteks sebenarnya, literasi tidak hanya sebatas itu saja. melainkan, ada analisa dan pemahaman dari hasil kita dalam melakukan literasi.
“Kalau di rumah anak dari sudut pandang kami membaca kondisi sosial masyarakat ranah anak-anak. Pesertanya sendiri mulai dari TK-B hingga kelas lima SD,” ujarnya.
Semenjak smartphone bisa didapatkan dengan harga murah, jelasnya, anak-anak dengan mudah menggunakan gadget tersebut. “Bahkan orangtua tanpa rasa prihatin dan batasan bisa memberikan gadget kepada anak,” sahutnya.
Dari hal tersebut pihaknya melihat bahwa anak-anak mulai terpengaruh dampak negatif, baik terlihat dari perilakunya yang mulai tidak sopan terhadap orang tua, perkataan yang cenderung kasar dan beberapa aspek lain.
“Saya mengajak semua pihak untuk, ayolah kita bangun lagi generasi lebih ceria” ajaknya.
Sebagai inisiator pendirian Rumah Ramah Anak, laki-laki peraih penghargaan Best Practice Muhammadiyah Young Inovation ‘Jihat Aksi Literasi’ tingkat nasional Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ini menegaskan jika literasi yang diterapkan kepada anak-anak berbeda dengan literasi yang dibawakan oleh komunitas literasi lainnya.
“Kami memberikan pemahaman dan perumpaan kepada mereka seperti masalah-masalah yang sering terjadi dalam diri mereka” tutur laki-laki asli Surabaya ini. Misalnya saja, tambah dia, kita memberikan pemahaman dasar terlebih dahulu kepada anak-anak, bahwa literasi tidak sekedar membaca. Kemudian, kita bagi lagi, literasi tersebut berdasar pemecahan masalah nya. Seperti, Eco Literasi, kita berikan pemahaman bahwa apa yang kita lakukan kepada lingkungan akan berdampak pada kita.
“Dengan membaca, memahami dan menerapkan hal yang seperti itu, insyaallah perilaku baik akan tumbuh dalam diri anak-anak” urainya. Meskipun baru berdiri selama Sembilan (9) bulan, Rumah Ramah Anak ini, diakui Zayn, mendapatkan support positif dari orangtua siswa. Selain mengajarkan pembelajaran literasi, Zayn bersama IPM juga mengajak anak-anak untuk gerakan salat berjamaah. [ina]

Tags: