Industri Kreatif Jadi Kiblat Baru Generasi Muda

Wregas Bhanuteja (Kanan) dan Yogi Ishabib (Kiri) saat memberikan pemaparan pada seminar film Komfiest 2018 UKWMS.

Surabaya, bhirawa
Industry kreatif selalu menjadi perbincangan hangat bagi kaum muda. Ruang kreasi yang luas menjadikan anak muda menggandrungi dunia ini. Menjadi pelaku industry kreatif bisa dengan menjadi penulis, sutradara, stand up comedy dan sebagainya. Menurut sutradara film indi yang juga pelaku industri kreatif Wregas Bhanuteja perkembangan industri kreatif saat ini sangat pesat.
Banyak bermunculan pelaku industri kreatif yang sangat bagus, mulai dari pebisnis industri kreatif, budaya, musik, film yang menurutnya sangat beragam. Bahkan Ia memprediksi, dalam jangka dua hingga lima tahun ke depan generasi muda akan mengarahkan dirinya pada industri kreatif.
Lebih lanjut, sutradara yang pernah menyabet piala Semaine de la Critique dengan kategori film pendek terbaik 2016 ini menuturkan jika perkembangan industri kreatif jangan sampai diberhentikan oleh oknum yang memiliki kepentingan ‘tertentu’. Sebaliknya, Ia menilai jika sektor industri kreatif membuka peluang bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kreatifitasnya dan berekplorasi.
Dalam membuat sebuah karya film, laki-laki yang kerap disapa Wregas ini berpendapat, bahwa cerita merupakan unsur paling utama dan terpenting dalam membuat sebuah film, sebelum menentukan style film yang akan diproduksi.
“Menurut saya, cerita adalah yang pertama dan paling penting dalam sebuah film, kemudian style yang kedua” paparnya
Laki-laki berusia 25 tahun ini menambahkan, jika hampir seluruh karya film yang dibuatnya, berdasar pada cerita yang terjadi di lingkungan masyarakat, pertemanan, bahkan keluarga.
“Kalau saya pribadi, saya mengangkat cerita yang saya paham betul dan tidak mengada-ngada dalam membuat sebuah film’ tutur laki-laki asli Jogjakarta ini.
Disinggung mengenai pengalamannya dalam membuat film, sutradara film Prenjak ‘In the Year of Monkey’ ini memaparkan beberapa hal, salah satunya adalah penilaiannya terkait konteks ‘kesulitan’ dalam membuat film. Ia menjelaskan jika sulit tidak nya sebuah film yang diproduksi tergantung dari film yang dibuat.
“Mungkin tidak sulit, tapi butuh kesabaran, perlu ada pengalaman, kegagalan yang tidak melulu berhasil” paparnya.
Tapi yang paling penting, tambahnya adalah belajar dari film Yang kita buat, dan membuat sebuah karya film baru yang tetap dengan kita percaya. Ia percaya bahwa ‘tidak ada jalan kembali dan pulang’ ketika ia sudah menentukan pilihan terbaik untuk karirnya. Terlebih lagi, ia mengaku jika banyak support yang ia dapatkan tidak hanya dalam lingkungan oertemanan saja, melainkan juga orang tua. “Yang lainnya adalah mencintai bidang yang kita pilih, kita cintai dengan apa yang ingin kita buat dan selalu ingin menuangkan pikiran kita dalam sebuah film” sahutnya.
Sementara itu, perwakilan Komunitas Sinema Intensif (KSI) Yogi Ishabib mengungkapkan jika untuk menghasilkan sebuah karya film yang out of the box, film maker harus mampu melihat fenomena yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan hari ini, medium sebuah karya baik musik, sastra dan dilm berhenti pada soal-soal personal. Padahal menurutnya, yang lebih penting adalah apa yang terjadi di balik personal mereka (laki-laki atau perempuan) yang diangkat sebagai suatu permasalaha.
“Semakin terbatas medium dan semakin mendetail sebuah cerita akan semakin menarik” imbuhnya. Sehingga dalam melihat sebuah karrya film, lanjutnya, yang terpenting adalah keseluruhan karya dan tidak terpaku pada objek-objek tertentu saja.
“Sebagai sineas, menjadi tugas kita untuk menerjemahkan suatu pesan yang berlapis serta mengungkit fenomena permasalahan yang ada di masyarakat melalui suatu media yang terbatas” tandas Yogi Ishabib pada diskusi Komunikasi Festival (Komfest) pada kamis (5/4) di gedung Auditorium Benedictus UKWMS.

KomFiest Wadahi Seminar dan Kompetisi Perfilman
Besar animo masyarakat, khusunya generasi muda akan dunia perfilman sebagai salah satu bentuk dari produk industri creatif, ditanggapi dengan baik oleh Badan Eksekutif Magasiswa (BEM) dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) untuk mengadakan komunikasi Fieta (KomFiest). Acara yang berlangsung setiap tahunnya ini, mengusung tema yang berbeda-beda. Untuk tahun ini, dijelaskan oleh ketua panitia kegiatan Martha Chrisma bahwa tahun ini pihaknya mengusung tema ‘Creative Industri’. Ia mengungkapkan jika industri creative saat ini, menjadi perhatian khusus dan tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan kawula muda.
“Industri creatif ini lagi marak dan booming di era saat ini” ungkapnya
Dengan adanya, industri kreatif saat ini, tambahnya, kami berharap generasi muda Indonesia dapat berkarya dan menunjukkan ide kreatif mereka ke dalam bidang-bidang yang ada di industri kreatif. Ia juga mengungkapkan jika sebelumnya, pihaknya juga mengundang beberapa sutradara dalam pemutaran film indie di biokop kampus nya,
“Kami mulai berani dalam memunculkan sebuah ide baru misalnya sebuah seminar film, batu tahun ini kami memilih seminar film dalam acara Komfiest tahun ini”. Ujarnya.
Nantinya, tambah dia, acara Komfiest ini akan dibungkus dengan beberapa kegiatan seperti, seminar film, short movie production, mural effect, dan creatif program production. Diakuinya, pihaknya juga mengikutsertakan siswa SMA sebagai peserta. Tak tanggung-tanggung peserta Komfiest tahun ini berasal dari seluruh daerah di Indonesia.
“Tahun ini, peserta kami tidak hanya mahasiswa yang ada di Indonesia saja, melainkan juga siswa SMA yang ada di seluruh Indonesia” tandasnya. [ina]

Tags: