HET Ayam dan Telur

Pemerintah bersama pedagang, mulai ancar-ancar meng-aman-kan “biayadapur” yang biasa meroket jelang bulan Ramadhan. Terutama pada porsi lauk-pauk paling populer, yakni daging ayam dan telur.Dua komoditas strategis yang selama ini sering naik secara liar, karena belum memiliki peraturan HET (Harga Eceran Tertinggi). Kini sedang digagas harga ke-ekonomi-an daging ayam dan telur, melindungi masyarakat terhadap volateli (kenaikan). Sekaligus menjamin kepentingan pedagang.
MenjelangbulanRamadhan (persis sebulanlagi), hargatelurdandagingayam, sertagula, diperkirakanmemimpinlajuinflasi. Pemerintah Daerah (Pemda kabupaten dan kota) seyogianyatelahmeng-agendakanoperasipasarmurah, dengancakupanlokasilebihluas. Juga diharapkan, pemerintahtidakmenaikkantarif (listrik) danharga BBM (BahanBakarMinyak) lagi.
Penambahaninflasiseolah-olahmenjadirutinitas menjelang Ramadhan. Tetapi tahun (2018) iniakan terasalebihberatmendera, dipicu merosotnya nilai rupiah. Menyebabkan bahan pangan impor berharga lebih mahal.SejakJanuarisampai Maret, lajuinflasimencatatrekortertinggiselamatigatahun. Laju inflasi yang tinggi disebabkanadministered prices (tarif yang ditetapkanolehpemerintah).
Dua kali harga BBM naik (pada bulan Januari dan Maret). Ditambahdoronganhargasusu dan kedelai (dua komoditas pangan impor paling besar). Beberapadaerahmestisiagadengankenaikan IHK (IndeksHargaKonsumen), terutama yang terdampakbanjirserius. Distribusibahanpanganterkendalacuaca. Di JawaTimur, kawasan Madura, dan “mataraman”niscaya mengalamikenaikan IHK.
Mewaspadai kenaikan harga lauk-pauk utama, pemerintah akan menetapkan HET ayam, dan telur. Termasuk harga maksimal dan minimal. Selain melindungi masyarakat, sekaligus juga menjamin keberlanjutan bisnis ayam potong dan telur. Saat ini, bisnis ayam dan telur pada posisi “berlebih,” namun harga yang di tingkat pasar tradisional masih terasa mahal. Penyebabnya, ayam dan telur telah menjadi bahan menu paling favorit.
HET ayam potong (hidup), diperkirakan berkisar pada nilai Rp 17.500,- hingga Rp 19.000,- per-kilogram di tingkat peternak. Serta “pergerakan” naik dan turun harga sebesar 10%. Ditambah ongkos angkut dan ongkos potong ayam, di pasar tradisional akan mencapai Rp 30.000,- per-kilogram. Sedangkan HET telur diperkirakan sekitar Rp 15.000,- per-kilogram di tingkat peternak, di pasar tradisional mencapai Rp 18.000,-.
Kebutuhandagingayam di seluruh Indonesia setiapbulanmencapai 260 ribu ton. Sedangkanhasil produksi peternak bisa mencapai 385 ribu ton per-pekan. Terjadikelebihanpasokan sampai 400%, menjadi potensi ekspor ke negara tetangga terdekat.Begitu pula kelebihan produk telur, bisa mengancam keberlanjutan ternak ayam petelur. Saat ini produksi per-bulan mencapai 350 ribu ton, sedangkan kebutuhantelur per bulanhanya sekitar 200 ribu ton.
Produk ayam potong maupun ayam petelur, semakin riuh dengan hadirnya pabrik pakan ternak skala besar (investasi Penanaman Modal Asing). Industri pakan memborong sistem “tataniaga.” Memberi modal berupa suplai pakan, penyediaan kandang, sampai pembelian hasil produk ternak.Ironisnya, pangsa pasar juga dikuasai pemodal industri pakan. Dengan penguasaan tataniaga dari hulu sampai ke hilir, patut dikhawatirkan “lepas kendali” harga ayam dan telur.
Hanya sedikit pengusaha ternak ayam potong (dan ayam petelur) yang dapat melanjutkan bisnis-nya, bagai “single fighter.”Pangsa pasar juga sangat terbatas pada pasar tradisional. Sedangkan supermarket, hypermarket, restoran dan hotel, telah dikuasai industri pakan ternak. Begitu pula gerai makanan menu ayam siap saji franchise internasional, telah tertutup untuk peternak “single fighter.” Menjadi kewajiban pemerintah melindungi persaingan (liar) sektor usaha kecil dan menengah. ***

Rate this article!
HET Ayam dan Telur,5 / 5 ( 1votes )
Tags: