Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Eks Perawat National Hospital

Zunaidi Abdilah, terdakwa dugaan pelecehan seksual tertunduk lemas usai eksepsinya ditolak Majelis Hakim PN Surabaya, Kamis (19/4). [abednego]

PN Surabaya, Bhirawa
Zunaidi Abdilah, terdakwa dugaan kasus pelecehan seksual terhadap pasien National Hospital harus kecewa dengan putusan sela yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Agus Hamzah di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (19/4).
Upaya hukum eksepsi (nota keberatan atas dakwaan) yang diajukan terdakwa tidak bisa diterima oleh Majelis Hakim. “Atas dasar dakwaan dari Jaksa Pemuntut Umum (JPU) cermat, jelas dan lengkap. Majelis Hakim memutuskan atas eksepsi kuasa hukum terdakwa tidak beralasan sehingga ditolak seluruhnya,” kata Ketua Majelis Hakim Agus Hamzah dalam putusan sela, Kamis (19/4).
Majelis Hakim Agus Hamzah meminta kepada JPU untuk melanjutkan sidang ke pokok perkara. Mendengar putusan sela dari Majelis Hakim, Jaksa Damang Anubowo pada sidang selanjutnya merencanakan mendatangkan sebanyak 16 saksi.
“Akan kita hadirkan saksi sejumlah kurang lebih 16 orang, tapi tidak bisa langsung, hari ini (Kamis, red) akan kita kirimkan surat panggilan terhadap saksi-saksi,” tutur Jaksa Damang Anubowo.
Menanggapi putusan sela dari Majelis Hakim, Sholeh selaku kuasa hukum terdakwa Zunaidi Abdillah mengaku kecewa. “Kita kecewa terhadap putusan hakim. Yang mana hakim menganggap dakwaan itu sudah jelas dan cermat menguraikan tindak pidana yang dilakukan. Padahal bagi kami dakwaan ini hanya dua lembar,” ungkap Sholeh.
Selain itu, masih kata Sholeh, dakwaan yang dilayangkan oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa ini dinilai kabur, karena tidak ada keterangan saksi yang tercantum di dakwaan tersebut. Bahkan dalam surat dakwaan tidak ada siapa saksi-saksi terhadap tindakan asusila itu. “Kejadiannya ditulis hanya dari pengakuan korban, ditambah alat bukti pembayaran,” papar Sholeh.
Sholeh menambahkan, akibat dari putusan ini di mana dakwaan yang kurang lengkap bisa berdampak di dunia kesehatan. “Kalau ini dibiarkan sangat berbahaya, semua rumah sakit, perawat bisa dikriminalisasi oleh pasien. Dan hal itu hanya didasari dengan pengakuan, tentu pidana pelecehan itu harus ada saksinya,” tegasnya.
Kasus ini mencuat saat pasien berinisal W mengunggah video berdurasi sekitar 52 detik beberapa waktu lalu. Dalam video tersebut, W yang berstatus pasien di National Hospital memarahi perawat pria. Video tersebut menggambarkan pasien wanita duduk di ranjang menangis dan meminta pengakuan perawat laki-laki yang menurutnya telah melakukan tindakan asusila padanya.
Tak terima dengan perlakuan perawat tersebut, suami W, Yudi Wibowo lantas melaporkan dugaan pelecehan tersebut ke Polrestabes Surabaya. Dalam perkara ini, terdakwa Zunaidi Abdilah didakwa dengan dakwaan tunggal, yakni melanggar Pasal 290 ayat 1 KUHP dengan ancaman paling lama 7 tahun penjara. [bed]

Tags: