Dispendik Prihatin, Pelajar Terlibat Kasus Pemerkosaan

Rilis kasus perkosaan terhadap korban di bawah umur di Mapolres Jombang dengan lima pelaku yang telah di tangkap, dua di antaranya pelajar, Kamis siang (26/04). [Arif Yulianto]

Jombang, Bhirawa
Polres Jombang menangkap lima tersangka yang diduga melakukan tindak pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Mereka adalah OYV (17) warga Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang, SHM (15), pelajar, warga Desa Badang, Ngoro, Jombang, MZA (16), pelajar warga Desa Badang, Ngoro, Jombang, dan MFH (18), warga Desa Genuk Watu, Ngoro, Jombang, dan RR (15), Desa Badang, Ngoro, Jombang. Sementara, korban adalah NN (14), seorang pelajar, warga Kecamatan Ngoro, Jombang.
Terlibatnya dua pelajar pada kasus itu membuat Kepala Dinas Pendidikan Jombang, drg. Budi Nugroho merasa prihatin. Sebab selama ini pihaknya sudah melakukan sosiliasi tentang kekerasan dan perlindungan anak.
“Prihatin mas kalau ada kejadian seperti ini, Sampai saat ini kita sosialisasi tentang perlindungan terhadap perempuan dan anak, kita juga setiap senin menghadirkan, Polres juga apel di sekolah-sekolah untuk memberikan sosialiasi tentang (bahaya) narkoba, kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan yang lain,” papar Budi Nugroho saat di hubungi Bhirawa lewat sambungan Telepon Seluler (Ponsel) nya, Kamis siang (26/04).
Selain itu, pihaknya juga telah berupaya meningkatkan kompetensi para guru BK. Terkait kegiatan belajar bagi para pelaku yang masih berstatus pelajar, Budi mengatakan, kalau masih dalam proses kepolisian, pihaknya akan membantu sepenuhnya.
“Artinya proses hukum kita bantu, tapi seperti yang terjadi, yang sudah ditahan, kalau pada saat dia ujian, akan kami minta di layani di tempat di mana dia ditahan. Seperti yang saat ini yang ada di Lapas, itu kan ada yang ada di SD dan SMP yang juga kita layani ujiannya di Lapas,” pungkas Budi Nugroho.
Sementara itu menurut Kapolres Jombang, AKBP Fadli Widiyanto saat rilis kasus tersebut di Mapolres Jombang menjelaskan sebelum melakukan pemerkosaan terhadap korban, para pelaku terlebih dahulu melakukan pesta minuman keras (miras).
“Sesuai dengan laporan ibu dari korban yang melaporkan bahwa, putrinya telah di perkosa oleh delapan orang, yang salah satunya menjemput korban di rumah, ini kejadiannya pada hari Sabtu tanggal 21 April 2018 kurang lebih pukul 21.30 WIB di area persawahan kebun tebu di Desa Badang, Ngoro, Jombang,” ujar AKBP Fadli.
Kapolres Jombang melanjutkan, secara kronologis ia menerangkan, kejadian ini berawal karena ada salah satu dari delapan orang pelaku ada yang merayakan ulang tahun, dari kedelapan pelaku, tiga diantaranya masih DPO (buron).
“Kemudian untuk melayangkan ulang tahun tersebut, para pelaku ini sepakat untuk membeli miras oplosan di salah satu warung yang ada di Kecamatan Ngoro,” imbuh Kapolres.
Masih menurutnya, selain berhasil menangkap lima orang pelaku pemerkosaan, polisi juga menangkap penjual miras yang di gunakan para pelaku untuk merayakan ulang tahun salah seorang pelaku tersebut.
“Untuk penjual mirasnya juga langsung kami tangkap, kami amankan dan kami sita ada 14 botol miras ukuran 1,5 liter dan dua jerigen miras jenis arak yang juga kami langsung lakukan penyitaan,” tambah AKBP Fadli.
Sambungnya, dari hasil keterangan korban setelah di lakukan pemeriksaan dan visum, memang ada kekerasan pada kemaluan korban. “Tim Opsnal Polres Jombang langsung bergerak dan melakukan penangkapan. Dari delapan orang pelaku, lima orang berhasil kita amankan. Dari lima orang, dua orang masih pelajar. Ada empat orang di bawah umur, dua pelajar, dua tidak sekolah, dan satu dewasa,” terang Kapolres lagi.
Selanjutnya menurut Kapolres, dari pemeriksaan para tersangka tersebut, mereka mengakui, sebelum melakukan (pemerkosaan), mereka terlebih dahulu menenggak minuman keras.
“Dan terpengaruh minuman keras tersebut, kemudian para pelaku menyetubuhi korban di kawasan pertebuan tersebut. Ada yang bertugas memegangi tangan, ada yang bertugas memegangi kepala dari korban, bergantian mereka melakukan perkosaan terhadap korban,” kata Kapolres Jombang menerangkan.
Oleh polisi, para pelaku di jerat dengan Pasal 81, 82, Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014, perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Dalam kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya, satu botol bekas ukuran 1.500 ml dengan segel warna merah, satu buah gelas bekas teh rio, satu buah botol bekas warna coklat bertuliskan merk 500 cap kimhoa, satu pasang sandal warna hitam, satu buah uang koin 500 rupiah, satu buah celana dalam warna hitam motif bintang, tiga buah plastik putih bekas minuman es, satu buah korek warna orange, satu buah celana pendek boxer warna hitam, satu buah tutup botol bertuliskan anggur kimhoa, satu unit sepeda motor Vario warna hitam silver, satu unit sepeda motor Happy warna hitam protolan, satu buah celana pendek levis warna biru dongker, satu buah kaos lengan pendek warna merah jambu, dan satu buah bra warna ungu. [rif]

Tags: