BPTP Karangploso Kembangkan Bawang Putih Kayu Berumur Genjah

BPTP Provinsi Jatim Karangploso saat panen bawang putih kayu di Desa Pujon Lor, Kec Pujon, Kab Malang

Kab Malang, Bhirawa
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Jawa Timur (Jatim) Karangploso, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang telah berhasil mengembangkan varietas lokal tanaman bawang putih kayu. Sedangkan keberhasilan BPTP dalam mengembangkan bawang putih kayu tersebut dibuktikan dengan panen perdana di Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon Lor, kabupaten setempat.
”Bawang putih kayu yang dikembangkan BPTP Karangploso ini, kualitasnya tidak kalah dengan varietas unggul lainnya. Dan varietas yang kita kembangkan tahan terhadap guyuran hujan ,” kata Penanggungjawab Perbenihan Bawang Putih BPTP Provinsi Jatim Karangploso, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang Baswarsiati, Minggu (8/4), kepada wartawan.
Menurutnya, varietas lokal tanaman bawang putih kayu tahan terhadap hujan, yang jelas tidak mengurangi kualitas produksi atau tetap baik. Hal itu kebalikannya dengan tanaman bawang putih lainnya, ketika diguyur hujan akan menurunkan kualitas produksi, karena bawang rusak. Dan tanaman bawang putih kayu yang dikembangkan BPTP Karangploso, harus ditanam di ketinggian 1.115 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau bersuhu dingin.
“Dengan ditanam diketinggian di atas permukaan laut tersebut, maka produksitivitas tanaman bawang putih kayu hasilnya sangat menggembirakan. Meski ditanam saat musim hujan, tetap mampu menghasilkan umbi basah 20 kali lipat dari benih awalnya,” ungkap Baswarsiati.
Dijelaskan, dari benih awal tanam seberat 23 kilogram telah menghasilkan umbi basah sebanyak 497,11 kilogram dan perkiraan hingga siap jadi benih mengalami susut bobot 50 persen. Sedangkan ciri khas bawang putih yang oleh petani dinamakan bawang kayu ini, batang tanamannya lebih keras, dari pada bawang putih lainnya. Varietas bawang putih kayu ini, memang seperti berkayu, serta memiliki keunggulan berumur genjah atau pendek sekitar 90-95 hari setelah tanam (hst).
Selain itu, Baswarsiati melanjutkan, bawang lokal kayu ini memiliki keragaman tanaman lebih kecil dan daun lebih sempit serta umur lebih genjah, jika dibandingkan dengan  varietas Lumbu Kuning, Lumbu Hijau maupun Tawangmangu Baru. Sehingga dengan keberhasilan BPTP dalam mengembangkan varietas lokal tanaman bawang putih kayu. “Kami berharap dengan penerapan teknologi yang baik dan benar, tentunya tanaman bawang putih kayu bisa berumbi lebih besar dan setara dengan varietas unggul bawang putih lainnya,” tuturnya.
Ditambahkan, selain BPTP berhasil mengembangkan varietas lokal bawang putih kayu, pihaknya juga berhasil dalam mengembangkan varietas unggul Lumbu Kuning, dan sudah panen yang hasilnya juga menggembirakan. Sedangkan tanaman bawang itu, kita tanam di wilayah Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, di ketinggian 1.408 mdpl yang mampu menghasilkan bawang putih varietas Lumbu Kuning seberat 2,53 kilogram per meter persegi, dan umur tanaman saat panen 105 hst.
“Adapun konversinya 15 persen per hektare lahan, yang hasil produksinya bisa mencapai 21,505 ton. Sementara untuk benih pada musim tanam lagi diperkirakan butuh waktu 2-3 bulan, yang beratnya akan susut sebesar 50 persen dari panen semula, sehingga total hasil benih seberat 10,5 ton per hektare,” jelas Baswarsiati.
Ia menegaskan, varietas tanaman bawang putih yang kita kembangkan selama ini, hal ini sebagao solusi solusi bertanam bawang putih di saat off season. Sehingga tantangan itu sudah terjawab, salah satunya adalah menggunakan varietas unggulan dengan menerapkan teknologi sesuai Good Agriculture Practices (GAP). [cyn]

Tags: