Balita Anak Kuli Bangunan Menderita ‘Hidrosefalus’

Mochammad Fariz Ibrahim, balita 1, 5 tahun anak kuli bangunan yang menderita penyakit ‘Hidrosefalus’, Senin (16/04). [Arif Yulianto]

Jombang, Bhirawa
Terlahir dengan kondisi normal, balita 1,5 tahun bernama Mochammad Fariz Ibrahim, warga Dusun Jabon, Desa Plosogeneng, Jombang saat ini tengah menderita penyakit ‘Hidrosefalus’. Sejak berumur empat bulan, anak pasangan M. Arif, seorang kuli bangunan dan Susiwati, seorang ibu rumah tangga ini kondisi kepalanya makin membesar.
Kepada sejumlah wartawan, Senin (16/04), Susiwati menuturkan, gejala kepala putranya mulai membesar karena suhu badan putranya tersebut panas pada usia sekitar empat bulan.
“Lahirnya normal, terus umur empat bulan kelihatan kepalanya membesar. (Gejalanya) panas, terus di bawa ke dokter, katanya ‘Hidrosefalus’, kelebihan cairan,” kata Susiwati.
Ibu tiga anak ini pun menuturkan, selama putra ketiganya itu menderita penyakit ‘Hidrosefalus’, ia telah membawanya ke beberapa tempat pengobatan. Terakhir bahkan, Mochammad Fariz Ibrahim sudah mengalami operasi satu kali pada bulan Januari 2018 lalu.
Setelah operasi, Susiwati mengaku ada pengurangan sedikit pada ukuran kepala putranya. Untuk operasi lanjutan, ia masih menunggu kondisi fisik putranya tersebut agar lebih siap.
“(Sudah berobat) ke rumah sakit, ke Puskesmas, ke bidan, terakhir ke Rumah Sakit Umum (RSUD Jombang), sudah satu kali di operasi,” tuturnya.
Ia berharap, anak ketiganya tersebut bisa cepat sembuh. Untuk pengobatan Sang Putra, Susiwati saat ini hanya mengandalkan dari Kartu Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). Terlebih saat ini, suaminya juga tengah di rawat di rumah sakit akibat penyakit paru-paru.
“Operasi lanjutan ‘nunggu’ fisiknya anaknya dulu, tapi tiap minggu kontrol ke RSUD,” lanjutnya.
Sementara itu, Tomy Adi Purwanto, Kepala Desa Plosogeneng yang mengantar sejumlah wartawan ke rumah Susiwati menjelaskan, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) telah mengupayakan membantu untuk membuatkan Kartu BPJS.
“Memang kondisi beliau kurang mampu, jadi ada dua anaknya yang sakit. Anak kedua (Farel) terlahir tidak punya anus, sehingga harus di buatkan saluran pembuangan di luar anus, dan yang Fariz menderita ‘Hidrosefalus’,” terang Kades Tomy.
Kades Tomy juga mengatakan, pasangan M. Arif dan Susiwati ini pernah telat tiga kali tidak melakukan kotrol pengobatan terhadap penyakit putranya tersebut. Beruntung, ada sejumlah orang peduli terhadap kondisi keluarga ini.
“Pernah juga sampai dua tiga bulan (tidak berobat). Tapi alhamdulillah banyak komunitas di Jombang yang peduli dengan kondisi Farel dan Fariz ini,” pungkasnya. [rif]

Tags: