Rela Jadi ‘Anak Kost’ Demi Tugas

Rinoto

Rinoto
Salah satu konsekuensi menjadi Aparatus Sipil Negara (ASN) adalah siap ditugaskan di mana saja. Begitu juga para guru dan kepala sekolah SMA/SMK negeri yang telah beralih kewenangan di bawah naungan pemerintah provinsi. Perpindahan dari satu tempat tugas ke tempat tugas lain tidak terbatas antar sekolah, melainkan juga antar kabupaten/kota.
Hal itulah yang dialami Kepala SMKN 5 Surabaya Rinoto. Sudah lebih dari setahun ini dia berpindah tugas dari SMKN 5 Jember dan meninggalkan keluarganya di sana. Sementara di Surabaya, dia rela ngekost untuk bermalam sehari-harinya.
“Saya ini jadi anak kost dan ke sekolah juga biasa pakai motor butut. Saya menikmati kesederhanaan itu. Tapi nek ono seng ngenyek aku, tak tuku omahe (Kalau ada yang menghina saya, tak beli rumahnya),” tutur Rinoto disambung tertawa lepas.
Kebiasaan sederhana itu, lanjut dia, membawa dampak positif untuk mendukung kinerjanya. Sebab, dengan menjadi anak kost dia akan betah berlama-lama di sekolah. Bahkan hingga malam tiba.
“Tugas memimpin sekolah ini berat, saya seperti harus mendorong truk gandeng yang mogok,” kata dia.
Pengibaratan itu dipilih Rinoto karena dia memiliki tantangan besar terhadap sekolahnya. Dulu, Rinoto juga bersekolah di tempat tersebut. Dia kenal betul bagaimana perkembangan sekolahnya saat itu yang menjadi unggulan sekolah kejuruan.
“Tapi begitu masuk, ternyata jauh dari sekolah saya yang dulu,” tutur dia.
Karena itu, dia berusaha melakukan sejumlah gebrakan untuk mengembalikan nama sekolahnya. Salah satunya, dia berani menjadi pilot project Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) SMK. Selain itu, mengubah budaya kerja juga menjadi tantangan beratnya. Untuk hal ini dia tak main-main. Ketika guru ingin mendapatkan jam mengajar, maka yang wajib dimiliki adalah RPP dan bahan ajar. “Mulai tahun ini guru juga harus punya modul sendiri. Selama ini mereka masih beli dan itu pembodohan,” terang Rinoto.
Di sekolah tersebut, Rinoto juga membuka jurusan baru yakni alat berat. Jurusan langka yang peluangnya di dunia kerja cukup tinggi. “Sekarang ini, sekolah juga dipasang videotron dan merancang techno park. Kita ini kalau ada program harus jalan dulu, bukan bingung anggarannya dulu,” kata dia.
Sejak lama, kata Rinoto, dia terbiasa dengan tantangan berat. Di SMKN 5 Jember dia memegang sekolah kejuruan dengan jurusan pertanian yang sepi peminat. Totalnya siswanya hanya sekitar seribu. “Tapi setelah saya pimpin, jumlah siswanya sekarang sudah mencapai tiga ribu lebih,” pungkas dia. [tam]

Rate this article!
Tags: