Polda Jatim Bongkar Praktik Order Fiktif Taksi Online Beromzet Puluhan Juta

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera didampingi Wadireskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara Syarifuddin menunjukkan puluhan HP yang digunakan tersangka dalam order fiktif taksi online, Selasa (13/3). [abednego/bhirawa]

Polda Jatim, Bhirawa
Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim membongkar kasus order fiktif taksi online dengan cara memanipulasi pesanan taksi online dengan akun tersangka sendiri. Sehingga setiap bulan komplotan ini berhasil meraup keuntungan sekitar Rp 30 juta dan dalam setahun bisa mendapat omzet sekitar Rp 360 juta.
Dari hasil ungkap ini petugas berhasil mengamankan lima tersangka, yakni DCT (35) warga Jl Kapasari Gembong Kinco Surabaya , MGH warga Komplek San Diego Pakuwon City Surabaya , KDSK (26) warga Jl Sutorejo Tengah Surabaya, JS (33) warga Jl Jagalan Semarang dan MH (35) warga Jl Menganti Surabaya selaku admin yang mengelola iuran driver setiap bulan.
Wadireskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara Syarifuddin mengatakan, komplotan ini menjalankan aksinya guna mengejar frekuensi mendapatkan intensif (bonus) dari pihak Grab. Dengan cara setiap tersangka mempunyai belasan hingga puluhan HP pelor atau HP penumpang fiktif untuk pemesanan atau order taksi online yang keseluruhannya terkoneksi langsung dengan Grab.
Setiap tersangka, sambung Arman, memegang 16 unit HP pelor dan seolah-olah penumpang yang mengorder taksi online. Tersangka juga dibekali HP untuk akun driver taksi online. Para tersangka ini membuat sendiri order fiktif dengan HP pelor dan seolah-olah ada pemesanan melalui layanan taksi online (Grab).
“Padahal tidak ada yang melayani sampai tujuan. Dan komplotan ini hanya mengejar intensif dari Grab sendiri, yakni 10 (sepuluh) kali berturut-turut bonusnya Rp 120 ribu. Omzet setiap bulan mencapai Rp 30 juta dan setahun mencapai Rp 360 juta,” kata AKBP Arman Asmara Syarifuddin, Selasa (13/3).
Arman menjelaskan komplotan ini sudah berkali-kali melakukan aksinya sejak 2017. Dengan adanya kasus ini, Arman sudah berkoordinasi dengan pihak Grab yang mendukung pengungkapan kasus ini. Pihak Grab pun merasa kebobolan dalam sistem. Di mana dari aplikasi yang digunakan, pendaftaran ada dua tipe, yakni mendaftar secara manual atau langsung ditulis dari pihak Grab sendiri dan secara online.
Pendaftaran manual, lanjut Arman, driver mendaftar dengan membawa identitas seperti KTP dan KK (Kartu Keluarga). Sedangkan akun online ini tidak disiapkan khusus untuk KK, tapi mendaftarkan dengan NIK KTP. “Dari hal ini terjadi manipulasi dalam nomor induk. Sehingga sistem pendaftaran ini juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab,” tegasnya.
Sementara tersangka DCT mengaku sudah beroperasi sejak Oktober 2017. Tujuannya untuk mencari keuntungan dalam sehari-hari, sekitar Rp 100 juta hingga Rp 200 juta guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku merekrut teman-temannya dengan menjanjikan keuntungan atau insentif yang diberikan Grab.
“Saya katakan keuntungan saat menerima order selama 10 kali berturut-turut mencapai Rp 120 ribu, dan mereka setuju,” ungkapnya.
Ada pun barang bukti yang disita di antaranya 75 unit HP pelor berbagai merek, dan 45 unit HP yang digunakan driver, tiga unit mobil bermacam merek yang digunakan tersangka, puluhan kartu kredit dan buku tabungan.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat pasal tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam Pasal 35 Jo Pasal 51 ayat (1) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No 1 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 378 KUHP Jo Pasal 55 KUHP. [bed]

Tags: